Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ekonom Ungkap AI dan Mobil Listrik Bakal Ubah Ekonomi Indonesia

P
Penulis: Putut Ariyo❯
AIRA EV menjadi tulang punggung penjualan Wuling selama GIIAS 2026. Foto: Dony Lesmana/JawaPos.com
AIRA EV menjadi tulang punggung penjualan Wuling selama GIIAS 2026. Foto: Dony Lesmana/JawaPos.com

Advertisement

batampos – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dinilai mulai mengubah struktur perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut membuat strategi pertumbuhan ekonomi tidak lagi bisa mengandalkan pola lama, melainkan membutuhkan kebijakan yang lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan industri.

Kepala Ekonom PT Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, mengatakan terdapat dua transformasi besar yang saat ini memengaruhi arah perekonomian nasional, yakni perkembangan AI dan transisi menuju kendaraan listrik.

Menurutnya, kedua tren tersebut tidak hanya mengubah lanskap industri, tetapi juga memengaruhi kebutuhan tenaga kerja, pola investasi, hingga rantai pasok global.

Advertisement

"Guncangan ini mengubah mesin produksi dari padat karya menjadi padat teknologi. Negara dan perusahaan yang tidak cepat beradaptasi akan tertinggal," ujar Fakhrul dalam talkshow bertajuk From State Capitalism to Welfare State: Is Indonesia Moving Toward a New Economic Model? di Javarock Kemang, Kamis (3/9).

Fakhrul menjelaskan, AI telah mengubah berbagai proses bisnis, mulai dari produksi, distribusi, hingga pengambilan keputusan. Otomatisasi membuat sejumlah pekerjaan berpotensi berkurang, namun pada saat yang sama menciptakan profesi baru yang membutuhkan keterampilan digital dan teknologi yang lebih tinggi.

Sementara itu, transformasi menuju kendaraan listrik mendorong industri otomotif menata ulang rantai pasok, termasuk pada sektor baterai, energi, logistik, hingga industri pendukung lainnya.

Advertisement

Pola Konsumsi Masyarakat Turut Bergeser

Perubahan teknologi juga berdampak pada perilaku konsumen. Masyarakat kini semakin banyak memanfaatkan layanan digital dan mulai beralih pada produk maupun layanan yang berkaitan dengan energi ramah lingkungan.

Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi akibat inflasi, kenaikan harga pangan, dan meningkatnya biaya hidup membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan pendapatannya.

Menurut Fakhrul, kondisi tersebut menjadi alasan mengapa Indonesia tidak lagi dapat mengandalkan pertumbuhan ekonomi yang berjalan secara otomatis seperti pada dekade sebelumnya.

Ia menjelaskan, sebelum tahun 2000, investasi relatif lebih mudah mengalir sehingga pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen dapat dicapai tanpa intervensi pemerintah yang terlalu besar.

Advertisement

Artikel Terkait

Program Satu Orang Satu Rekening, Sasar 25 Juta Warga

Program Satu Orang Satu Rekening, Sasar 25 Juta Warga

Pemerintah menyiapkan Rp1,28 triliun untuk program Satu Orang Satu Rekening bagi 25 juta warga guna meningkatkan inklusi keuangan.

Daya Beli Tertekan, Penjualan Ritel 2026 Diprediksi Tak Tumbuh Signifikan

Daya Beli Tertekan, Penjualan Ritel 2026 Diprediksi Tak Tumbuh Signifikan

Penjualan ritel Indonesia menghadapi tekanan daya beli pada 2026. APPBI memproyeksikan pertumbuhan tak lebih dari 5 persen.

Ekonomi Indonesia Kalah Cepat dari Vietnam

Ekonomi Indonesia Kalah Cepat dari Vietnam

Ekonom CORE Indonesia menilai strategi industrialisasi, investasi manufaktur, dan ekspor menjadi faktor penting di balik pertumbuhan ekonomi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer