Tekstil Murah Asal China Hantam Industri Gamen di Batam

batampos - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam Rafky Rasyid menilai persoalan yang terjadi di Ghim Li tidak dapat dijadikan gambaran kondisi industri Batam secara keseluruhan.
Menurut Rafky, perusahaan garmen seperti Ghim Li memang menghadapi tekanan pasar global dalam tiga hingga empat tahun terakhir.
Pelemahan permintaan, konflik geopolitik, hingga membanjirnya produk garmen murah dari China menjadi sejumlah faktor yang menekan industri tersebut.
“Kasus Ghim Li itu nggak bisa disamaratakan dengan perusahaan-perusahaan lain yang ada di Batam,” kata Rafky, Jumat (11/9).
Menurut dia, tekanan tersebut berdampak pada penurunan order dan pendapatan perusahaan. Dalam kondisi demikian, sejumlah perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, bahkan menghentikan kegiatan usaha.
“Order mereka terus turun dan pendapatannya terus turun, sehingga mereka terpaksa harus melakukan efisiensi. Bahkan ada yang tutup juga,” ujarnya.
Rafky menyebut persoalan Ghim Li bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Tanda-tanda tekanan terhadap industri garmen, menurut dia, telah terlihat sejak beberapa tahun terakhir.
“Kalau dulu ada PT BBA, nah sekarang Ghim Li. Kemungkinan kemampuan keuangannya semakin menurun, sehingga mau tidak mau harus melakukan pemutusan hubungan kerja ataupun pengakhiran hubungan kerja dengan pekerja mereka,” katanya.
Meski demikian, Rafky menegaskan kondisi tersebut tidak menggambarkan seluruh sektor industri di Batam.
Sektor elektronik, kata dia, masih memiliki permintaan yang cukup kuat. Sektor konstruksi dan galangan kapal juga dinilai masih relatif bertahan, meski pada sektor galangan kapal mulai terlihat sedikit penurunan.



