
batampos – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah pada perdagangan 2–6 November 2026. Penguatan dolar AS, kebijakan bank sentral AS, serta sejumlah data ekonomi dalam negeri menjadi faktor yang akan memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.
Pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan diperdagangkan pada rentang Rp 18.000 hingga Rp 18.320 per dolar AS sepanjang pekan depan.
“Untuk rupiah sendiri, dalam minggu depan (2 hingga 6 November) kemungkinan akan ditransaksikan di Rp 18.000 sampai Rp 18.320 (per dolar AS),” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Minggu (1/11).
Menurut Ibrahim, salah satu faktor yang berpotensi menekan rupiah adalah penguatan dolar AS. Pada perdagangan awal November, indeks dolar diperkirakan bergerak di kisaran 101,20 hingga 103,20.
Selain itu, kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) juga menjadi perhatian pasar. Data inflasi AS yang dinilai masih tinggi memunculkan spekulasi bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.
“Ada kemungkinan besar Bank Sentral Amerika akan menaikkan suku bunga di bulan November atau bulan Desember. 89 persen ekonom di Amerika mengindikasikan bahwa ada kemungkinan di akhir tahun ini 25 basis point yang akan dinaikkan oleh Bank Sentral Amerika,” ujarnya.
Dari dalam negeri, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi yang dijadwalkan rilis pada awal November. Di antaranya neraca perdagangan, inflasi, indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur, cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, serta perkembangan defisit transaksi berjalan pada kuartal III 2026.
Ibrahim mengatakan, data-data tersebut akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk menilai kondisi perekonomian Indonesia, termasuk perkembangan defisit anggaran.
Ia juga menyoroti kenaikan harga minyak mentah dunia yang berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran negara. Kenaikan harga minyak dapat mendorong biaya energi yang harus ditanggung pemerintah.
“Karena pada saat harga minyak mentah mengalami kenaikan, akan berdampak terhadap kenaikan harga energi. Defisit APBN pun juga kemungkinan besar akan di atas Rp 285 triliun. Ini mengindikasikan bahwa masalah energi adalah masalah utama yang harus dijadikan sebagai prioritas bagi pemerintah,” pungkasnya.(*)



