
batampos – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) memperkuat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) dengan menggandeng PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).
Kolaborasi tersebut difokuskan pada pengembangan bioenergi, mulai dari optimalisasi fasilitas produksi biodiesel hingga penjajakan pengembangan bioetanol berbasis limbah dan produk samping industri perkebunan.
Kerja sama ini ditandai dengan tiga agenda utama. Pertama, pengumuman kembali nota kesepahaman pengembangan energi terbarukan bersama Agrinas Palma Nusantara.
Kedua, penandatanganan Heads of Agreement (HoA) terkait penjajakan pengelolaan dan pemanfaatan fasilitas produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Ketiga, penandatanganan nota kesepahaman bersama SGN untuk menjajaki riset dan pengembangan bioetanol generasi kedua atau second-generation bioethanol (2G).
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis mengatakan, kolaborasi lintas sektor menjadi langkah strategis untuk mempercepat pengembangan bioenergi nasional. Indonesia dinilai memiliki potensi besar dari sektor perkebunan dan industri pengolahan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.
"Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan bioenergi, baik dari sektor perkebunan maupun industri pengolahan. Melalui kerja sama ini, kami ingin mengoptimalkan potensi tersebut bersama para mitra untuk mendukung pengembangan energi terbarukan dan memperkuat ketahanan energi nasional," ujar John dalam keterangan yang diterima, Selasa (3/11).
Dia menjelaskan, kerja sama dengan Agrinas Palma Nusantara diawali dengan pengumuman kembali nota kesepahaman pengembangan energi terbarukan yang sebelumnya disepakati pada 25 Mei 2026.
Agenda tersebut diwakili Harsono Budi Santoso dan Gagah Guntur Aribowo, serta disaksikan Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa.
Kolaborasi kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan HoA oleh Harsono Budi Santoso dan Direktur Bisnis Agrinas Palma Nusantara, Nurhidayat.
Kesepakatan tersebut menjadi landasan penjajakan pengelolaan dan pemanfaatan fasilitas produksi FAME di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas terpasang mencapai 600 ribu ton per tahun.



