Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Tiga Masjid Bersejarah di Karimun, Dari Dibaluri Putih Telur dan Diarsitek Orang Tionghoa

Ichwanul Fazmi • Jumat, 18 Oktober 2024 | 13:15 WIB

Masjid Al Mubaraq Kecamatan Meral yang dibangun diawal Pemerintahan Karimun Darussalam tahun.
Masjid Al Mubaraq Kecamatan Meral yang dibangun diawal Pemerintahan Karimun Darussalam tahun.
batampos – Perkembangan agama Islam di Kabupaten Karimun tidak terlepas dari masa kejayaan Kerajaan Malaka (abad ke-15).Sebagai pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggaara, Kerajaan Malaka memainkan peran penting dalam menyebarkan agama Islam di kabupaten berjuluk Bumi Berazam ini.

Setelah Kerajaan Malaka jatuh di tangan Portugis, perkembangan Islam diambil alih oleh Kerajaan Riau-Johor. Hingga kini, masih dapat dirasakan pekembangan sejarah Islam di Karimun melalui masjid-masjid peninggalan kerajaan Riau-Lingga.  Berikut tiga masjid bersejarah dan menjadi destinasi wisata religius di Karimun.

Masjid Al Mubaraq

Berada di Kecamatan Meral. Masjid bergaya arsitektur khas Melayu ini telah berusia ratusan tahun, tepatnya dibangun pada Tahun 1301 Hijriah. Sejarah pembangunan Masjid ini berkelindan dengan sejarah pemerintahan Amir Karimun I, Raja Haji Abdullah ibni Raja Ahmad ibni Raja Haji Fisabilliah pada zaman Raja Ali menjadi Yamtuan Muda Riau VIII (1844-1857).

Sempena meneruskan estafet pemerintahan kerajaan Riau-Lingga di Pulau Karimun yang telah dirintis sejak tahun 1828 (atau beberapa bulan setelah Perang Karimun) oleh Raja Abdulrahman sebagai pemegang perintah diatas Pulau Karimun ssebagai wakil ayahandanya, Raja Jakfar ibni Raja Haji Fisabilillah yang Dipertuan Muda Riau VI (180-1832).

Masjid Abdul Ghani Buru

Masjid Abdul Ghani, Kecamatan Buru dibangun sekitar abad ke 19 pada masa pemerintahan Raja Abdul Ghani bin Raja Idris bin Raja Haji Fisabilillah, seorang amir pertama di Pulau Buru semasa Kerajaan Riau-Lingga diperintah oleh Sultan Abdul Rahman Muazzamsyah.

Konon campuran putih telur dijadikan cat pewarna untuk bangunan masjid. Bahkan arsiteknya adalah orang Tiongha yang sebelumnya telah membangun kelenteng.

Hal ini bisa dibuktikan oleh keberadaan menara yang berbentuk kerucut, yang sepintas mirip dengan ruang pembakaran hio yang ada di kelenteng. Lubang ventilasi pun demikian, terbuat dari batu giok berwarna biru dan berukiran khas negeri Tiongkok.

Selain teras dan atap, mesjid ini sengaja di pertahankan bentuk asli oleh para keturunan Haji Abdul Ghani yang masih hidup hingga kini. Tidak ada renovasi signifikan di luar dua komponen itu. Termasuk keberadaan perigi untuk mengambil air wudhu, yang berada depan masjid. Perigi yang memiliki empat tangga berundak itu, masih terus digunakan hingga kini, dan dibiarkan sebagaimana bentuk asalnya.

Masjid Agung Poros

Berdiri megah di atas sebuah bukit di kawasan Poros, Masjid Agung Karimun adalah salah satu landmark Kecamatan Meral. Dibangun di era kepemimpinan Bupati Karimun pertama, almarhum HM Sani.

Keunikan Masjid Agung Poros ini adalah keberadaan pohon kurma yang tumbuh subur di halaman depannya. Pohon kurma yang seluruhnya berjumlah sepuluh batang itu, posisinya tepat di tengah-tengah taman, bagian depan Masjid.

Bertinggi rata-rata empat hingga lima meter, pohon-pohon kurma itu selain memancarkan aura ke-islaman yang kental juga memberi nuansa cantik, sebab padu padan dengan taman disekelilingnya. Fisik masjid, hampir seluruh bangunannya dibaluri cat warna hijau. Termasuk bagian kubah yang dari kejauhan terlihat besar dan megah. (*)

Editor : Ichwanul Fazmi