batampos – Bibir pantai di kawasan Nongsa, Batam, kembali tercemar limbah cair berbau menyengat. Pantauan Batam Pos di lokasi pada Senin (2/3) pagi, terlihat sisa limbah berwarna kehitaman menempel di batu-batu di bibir pantai. Air laut tampak keruh dan mengeluarkan aroma tak sedap yang menusuk hidung.
Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengatakan bau limbah sudah tercium sejak pagi dan belum hilang hingga siang hari. Saat air laut surut, bau semakin kuat karena limbah mengendap di tepi pantai.
“Pagi tadi baunya lebih parah. Sampai sekarang masih bau. Kami sampaikan ini bukan cari sensasi, tapi memang fakta di lapangan. Limbahnya kelihatan sampai ke pinggir pantai,” ujarnya.
Menurutnya, limbah kali ini berbeda dari kejadian sebelumnya. Jika sebelumnya berbentuk gumpalan yang mengeras lalu meleleh saat panas, kini limbah berbentuk cair dan menyebar di laut sehingga dinilai lebih berbahaya karena langsung mencemari perairan.
“Airnya bukan hanya keruh, tapi baunya menyengat. Aktivitas warga terganggu. Ibu saya yang biasa menghirup udara pagi jadi tidak keluar rumah,” katanya.
Warga menyebut pencemaran serupa sering terjadi menjelang akhir tahun, namun tahun ini dianggap paling parah. Dampaknya dirasakan nelayan dan warga pesisir, termasuk ibu rumah tangga yang biasa mencari gonggong di pantai untuk dijual.
“Sekarang mereka takut ambil gonggong karena khawatir beracun. Padahal itu sumber penghasilan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang OKK DPD HNSI Kepri, Bernard Gultom, menilai pencemaran di Pantai Nongsa hampir terjadi setiap tahun. Ia menilai lemahnya pengawasan menjadi salah satu penyebab masalah tak kunjung tuntas.
“Kejadian seperti ini bukan sekali dua kali, hampir setiap tahun. Pengawasan dari pemerintah provinsi maupun kota, termasuk dinas lingkungan hidup, masih lemah. Pelakunya tidak pernah tertangkap,” tegasnya.
Bernard mendorong Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Pemko Batam memperketat pengawasan di perairan perbatasan serta meningkatkan patroli laut. Ia menduga pencemaran bisa berasal dari kapal yang melintas di jalur internasional.
“Banyak kapal lalu-lalang. Kita tidak tahu apakah ada yang membuang limbah di laut lalu terbawa arus ke pantai Nongsa. Pemerintah harus betul-betul menjaga perbatasan laut kita,” katanya.
Ia menambahkan, pencemaran ini berdampak langsung pada hasil tangkapan nelayan karena ikan menjauh dari wilayah tangkap. Selain itu, sektor pariwisata pantai juga terancam jika kondisi terus berulang.
“Pantai ini sumber penghidupan nelayan dan pelaku usaha wisata. Kalau terus dibiarkan, siapa yang mau datang? Pemerintah harus hadir dan menuntaskan persoalan yang berulang ini,” pungkasnya. (*)
Editor : Jamil Qasim