
batampos – Krisis energi yang melanda Kuba semakin mengkhawatirkan. Sedikitnya 2,6 juta penduduk negara di kawasan Karibia itu kesulitan mendapatkan air minum akibat pemadaman listrik berkepanjangan yang dipicu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
Kondisi tersebut diperparah oleh ketergantungan infrastruktur penyediaan air bersih terhadap pasokan listrik. Sekitar 85 persen sistem pompa air minum di Kuba menggunakan tenaga listrik sehingga pemadaman langsung mengganggu distribusi air kepada masyarakat.
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla, mengungkapkan kondisi tersebut dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjelang pemungutan suara resolusi mengenai embargo ekonomi Amerika Serikat (AS) terhadap Kuba.
“Sekitar 85 persen sistem pompa air minum di Kuba bergantung pada listrik. Sebanyak 2,6 juta orang menghadapi masalah untuk memperoleh air minum,” ujar Parrilla, seperti dilansir Antara, Kamis (29/10).
Menurutnya, persoalan energi di Kuba semakin rumit akibat kebijakan pembatasan ekonomi dan perdagangan yang diterapkan Washington terhadap Havana.
Pemerintah Kuba menilai pembatasan tersebut memperburuk kelangkaan bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pembangkit listrik dan berbagai infrastruktur penting.
Akibatnya, gangguan pasokan energi tidak hanya berdampak pada aktivitas ekonomi, tetapi juga mengancam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk akses terhadap air minum.
Parrilla menyebut kebijakan embargo AS sebagai ancaman serius terhadap kehidupan rakyat Kuba.
Ia menegaskan, pembatasan pasokan bahan bakar berdampak langsung pada operasional fasilitas vital yang sangat bergantung pada ketersediaan energi.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pemungutan suara Majelis Umum PBB terhadap rancangan resolusi A/81/L.5.
Resolusi itu menyerukan penghentian embargo ekonomi, perdagangan, dan keuangan yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Kuba.
Pemerintah Kuba berharap dukungan masyarakat internasional dapat mendorong berakhirnya kebijakan tersebut, yang menurut Havana telah memperburuk kondisi ekonomi dan menghambat pemenuhan kebutuhan dasar penduduk.
Di tengah krisis energi yang belum mereda, jutaan warga Kuba kini menghadapi persoalan serius dalam memperoleh air minum, salah satu kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan sehari-hari. (*)
