Iran Tembak Jatuh Drone Buatan AS, Ketegangan di Selat Hormuz Memanas

batampos – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah pesawat nirawak atau drone jenis MQ-1 buatan AS di wilayah udara sebelah timur Selat Hormuz.
Kantor berita semi-resmi Iran, ISNA, melaporkan drone tersebut dihancurkan sistem pertahanan udara IRGC di sekitar kawasan pesisir Sirik.
IRGC menyebut drone itu merupakan MQ-1 ke-14 yang berhasil dicegat dan dihancurkan oleh pasukannya.
Meski MQ-1 merupakan pesawat nirawak buatan AS, otoritas Iran tidak mengungkap pihak yang mengoperasikan drone tersebut saat insiden terjadi.
Insiden itu berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kemungkinan pecahnya kembali konflik militer antara Iran dengan AS dan Israel.
Dilansir Antara, Kamis (29/10), The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa Washington telah meminta sejumlah negara Arab di kawasan Teluk bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer terhadap Iran.
Operasi tersebut disebut berpotensi berlangsung singkat, tetapi dengan intensitas serangan tinggi.
Menurut laporan yang terbit Selasa (27/10) itu, serangan diperkirakan dapat dilakukan setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan belum mengambil keputusan akhir. Namun, ia disebut cenderung mempertimbangkan serangan militer berskala besar setelah pemilu berlangsung.
Ketegangan antara kedua negara merupakan kelanjutan konflik bersenjata yang pecah pada 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Teheran kemudian membalas dengan serangkaian serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di kawasan Timur Tengah.
Konflik tersebut juga berdampak terhadap jalur perdagangan energi dunia. Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi distribusi minyak dan gas global.
Upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan sempat dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman pada Juni lalu.
Kesepahaman tersebut diharapkan menjadi langkah awal menuju perjanjian damai permanen.
Namun, proses perundingan tidak berlanjut akibat perbedaan pandangan antara pihak-pihak yang terlibat, termasuk menyangkut kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai kemungkinan operasi militer baru AS terhadap Iran. Sementara itu, klaim penghancuran drone MQ-1 oleh IRGC belum disertai konfirmasi independen. (*)
