
batampos – Kecerdasan buatan (AI) harus menjadi alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan peran manusia sepenuhnya. Penegasan ini disampaikan Perdana Menteri Dewan Negara Tiongkok Li Qiang dalam KTT Konferensi Internet Dunia Wuzhen 2026, Selasa.
Li mengingatkan, perkembangan teknologi internet dan AI seharusnya tetap berorientasi pada manusia. Teknologi mesti membantu manusia meningkatkan kemampuan, membebaskan diri dari keterbatasan, serta memperbaiki kualitas hidup.
”Internet dan kecerdasan buatan harus menjadi perpanjangan dari kemampuan manusia, sarana untuk membebaskan manusia dan bukan sebagai pengganti sepenuhnya,” kata Li.
Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini memunculkan fenomena yang patut menjadi perhatian. Mesin semakin menyerupai manusia, sementara manusia justru semakin berperilaku seperti mesin.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran mengenai masa depan manusia di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Salah satu persoalan yang muncul adalah kemungkinan manusia kehilangan kendali atas kehidupan mereka sendiri akibat ketergantungan terhadap mesin.
Li menegaskan, secanggih apa pun teknologi internet dan kecerdasan buatan, manusia harus tetap menjadi aktor utama.
Teknologi seharusnya ditempatkan sebagai sarana pendukung yang membantu manusia mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kualitas hidup, bukan mengambil alih sepenuhnya peran manusia.
Menurut Li, mesin tetap menjadi alat yang dapat diandalkan untuk membantu manusia memperoleh pekerjaan yang lebih baik sekaligus mendorong pengembangan diri.
Dengan demikian, kemajuan teknologi harus tetap diarahkan untuk mendukung manusia, bukan menjadikan manusia sekadar bagian dari sistem yang dikendalikan mesin. (*)



