batampos – Kebocoran di Waduk Sei Jago, Tanjunguban, Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara, memperparah kondisi krisis air bersih di wilayah tersebut.
Per Jumat (13/2/2026), ketinggian air waduk tercatat hanya sekitar 40 sentimeter, jauh dari kondisi normal yang biasanya mencapai 3 meter. Kebocoran pada dinding waduk menjadi salah satu faktor utama penurunan volume air, terutama di tengah minimnya curah hujan.
Kepala Cabang PDAM Tirta Kepri Tanjunguban, Sugito, mengatakan kebocoran dinding waduk cukup signifikan meski tidak sampai 20 persen dari total struktur.
“Kebocoran lumayan besar, tapi tidak sampai 20 persen. Kami sudah mengusulkan perbaikan ke Balai Wilayah Sungai (BWS), saat ini masih dipelajari,” ujar Sugito.
Menurutnya, kebocoran tersebut membuat air di waduk lebih cepat menyusut. Meski kondisi waduk tergolong kritis, distribusi air ke pelanggan masih dilakukan secara terbatas, yakni mulai pukul 04.00 WIB hingga sekitar pukul 10.00 WIB.
PDAM Tirta Kepri juga telah melakukan penanganan sementara dengan menambal serta mengaci bagian dinding yang bocor.
“Kalau ada yang bolong, kita plaster. Tapi ini sifatnya sementara,” katanya.
Sugito berharap BWS segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki struktur waduk guna menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat Tanjunguban. Ia mengaku belum mengetahui estimasi anggaran perbaikan karena kewenangan tersebut berada di pihak BWS.
Sementara itu, pegawai PDAM Tirta Kepri, Taufik, membenarkan kondisi air waduk yang terus menyusut.
“Ketinggian air sekarang sekitar 40 sentimeter. Biasanya kalau normal bisa 3 meter,” ujarnya.
Saat ini, selain penanganan kebocoran, PDAM juga melakukan perbaikan pada pipa intake guna memastikan pasokan air tetap berjalan meski dalam kondisi terbatas. (*)
Editor : Jamil Qasim