Minggu, 14 Agustus 2022

2023, Pemko Tanjungpinang Tata Anjung Cahaya 

Baca Juga

Sekda Kota Tanjungpinang, Zulhidayat.F. Peri Irawan

batampos– Penataan kawasan Anjung Cahaya di Tepi Laut ditargetkan dimulai tahun 2023 mendatang setelah pembahasan di APBD Perubahan 2022.

Sekretaris Kota Tanjungpinang, Zulhidayat menjelaskan untuk menata kawasan strategis di Tepi Laut, selain Pemprov Kepri juga sedang menata pada beberapa titik, pihaknya juga ajan menata kawasan Anjung Cahaya yang sekarang ditempati pedagang kali lima.

“Bagaimana kawasan Anjung Cahaya itu tetap dikelola dan ditata oleh Pemko Tanjungpinang,” kata Zulhidayat, Selasa (2/8).

BACA JUGA: Gubkepri Serius Garap Kelanjutan Penataan Gurindam 12

Dalam rencana penataan kawasan yang ditempati puluhan pedagang itu tetap akan satu tema dengan pembangunan yang sudah berjalan sebelumnya.

“Nanti akan dikelola seperti akau modren, lingkungannya bersih dan nyaman. Sesuai permintaan masyarakat bahwa makanan harus higienis,” ujarnya.

Kios-kios tempat pedagang berjualan dan kursi-kursi tempat pembeli biasa duduk akan tetap ada. Konsepnya lanjut Zulhidayat tidak berbeda dengan kondisi yang ada saat ini, hanya saja perlu dirapikan.

“Contohnya dari segi kontur tanah juga harus ditinggikan karena di sebelahnya sudah ditimbun tinggi oleh pemprov,” terangnya.

Zulhidayat menyebutkan penataan Anjung Cahaya itu sekarang menjadi penting dan mendesak untuk dilaksanakan, agar kondisinya bisa menyeimbangi pembangunan di kawasan Gurindam 12 itu.

“Kita mulai dulu di APBDP 2022 ini dan pembangunannya tentu di 2023 nanti dengan estimasi anggaran di atas Rp 1 miliar,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Public Trust Institute (PUTIN) Perwakilan Kepri, Robby Patria menilai untuk pengembangan wilayh tepi laut itu membutuhkan perencanaan yang matang. Sejak dulu awal proyek gurindam 12 digelontorkan, masterplan untuk 10 tahun ke depannya belum jelas.

Pemprov Kepri, menurutnya tidak bisa langsung membangun saat memiliki ide, harus terencana dan memiliki masterplan jangka panjang.

“Bangunanya tenggelam muncul tiba-tiba datang. Di Dompak Gedung LAM sebenarnya sudah ada tapi tidak difungsikan kemudian dipakai dinas kebudayaan. Begitu juga Gedung Dekranasda dulu juga sudah ada tapi sekarang dipakai oleh BP3KR,” katanya. (*)

 

Reporter : Peri Irawan

 

Update