Selasa, 27 September 2022

Perpusnas Gandeng Stakeholder Kepri Bangun Literasi Masyarakat

Baca Juga

Foto bersama usai pembukaan SHM Perpusnas RI dengan Stakeholder di Kepri, Kamis (10/8). f. Peri irawan

batampos– Sebanyak 16 stakeholder ikuti Stakeholder Meeting (SHM) bersama Perpustakaan Nasional (Perpusnas)RI untuk membahas rencana kolaborasi membangun literasi masyarakat, di Hotel CK Tanjungpinang, Kamis (11/8).

Stakeholder yang mengikuti kegiatan itu berasal dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Bank dan Kampus yang ada di Kepri.

Pustakawan Ahli Utama Perpusnas RI, Neliwaty menjelaskan kegiatan STM provinsi itu untuk mempertemukan para stakeholder untuk bisa berkolaborasi serta bersinergi dalam membangun literasi masyarakat.

Kolaborasi yang bisa diberikan itu bisa salam bentuk kerjasama program, sumber daya manusia, barang dan material.

BACA JUGA: Popda Kepri Dimulai, Ada Sekira 734 Atlet Siap Berlaga

“Kolaborasi dan sinergi yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua pihak dan mendorong tugas pokok dan fungsi setiap stakeholder,” kata Neliwaty, Kamis (11/8).

SHM merupakan rangkaian dari siklus tahunan pelaksanaan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Pada 2022 SHM dilaksanakan di 33 provinsi di Indonesia secara tatap muka.

Pertemuan SHM di tingkat provinsi itu merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem pendukung bagi pelaksanaan program di level provinsi, kabupaten dan desa.

Ekosistem pendukung yang diharapkan dapat memastikan tersedianya landasan kebijakan yang dibutuhkan bagi pelaksanaan program di daerah.

“Terbentuknya kerjasama dan jejaring antara perpustakaan daerah dengan pemangku kepentingan serta terjadinya perluasan program melalui replikasi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial secara mandiri dan berkelanjutan,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepri, Herry Andrianto menjelaskan pihaknya akan berdiskusi dengan para stakeholder membahas kolaborasi yang akan diselaraskan untuk membangun literasi untuk masyarakat yang berbasis inklusi sosial dan berdaya saing.

“Sekarang di Kepri jumlah eksemplar buku banyak tapi dari segi judul masih sedikit, artinya bahan bacaan untuk masyarakat masih harus ditambah,” ujarnya. (*)

 

Reporter : Peri Irawan

 

Update