
batampos – Membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memasarkan produk melalui media digital bukan tanpa tantangan. Kreator konten kuliner terkadang harus menghadapi klien yang tidak membayar jasa promosi hingga mendapati warung yang hendak diulas ternyata tutup tanpa pemberitahuan.
Pengalaman tersebut turut dirasakan Deddy Setiyawan, kreator di balik akun Lambung Turah. Sejak memulai karier pada Juli 2019, pria kelahiran Malang, 21 Desember 1989, ini memilih menawarkan tarif endorse terjangkau agar pelaku UMKM tetap memiliki kesempatan mempromosikan usahanya melalui media digital.
“Dukanya kadang berawal dari niat kita yang tulus ingin membantu UMKM dengan memberikan tarif endorse murah, tapi hal itu malah membuat Lambung Turah sering disepelekan orang,” ujar Deddy.
Meski menghadapi berbagai kendala, profesi sebagai kreator konten kuliner juga memberinya pengalaman menyenangkan. Ia berkesempatan mengunjungi berbagai daerah, mengenal suasana baru, dan mencicipi beragam hidangan, mulai dari makanan yang sedang viral hingga kuliner legendaris.
“Sukanya tentu karena saya bisa menjelajahi daerah-daerah baru dengan berbagai suasana lokasi syuting, sekaligus berkesempatan mencicipi aneka kuliner,” tuturnya.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Deddy mengaku pernah menempuh perjalanan menuju sebuah warung, tetapi mendapati tempat itu sudah tutup tanpa pemberitahuan. Ia juga pernah menghadapi klien yang tidak menyelesaikan pembayaran jasa promosi.
“Ada saja kejadian pahit, mulai dari klien yang tidak membayar jasa endorse, hingga warung yang didatangi jauh-jauh ternyata tutup tanpa pemberitahuan sebelumnya,” katanya.
Tantangan lain datang dari kondisi cuaca. Demi menjaga komitmen terhadap jadwal produksi dan membantu mempromosikan usaha klien, Deddy mengaku pernah tetap melakukan pengambilan gambar di tengah hujan deras.
“Saya sering bela-belain menembus hujan deras sambil tetap mengambil gambar dan mengulas makanan, semua demi menjaga komitmen serta membantu mempromosikan warung mereka,” ungkapnya.
Deddy menyadari bahwa tarif yang terjangkau terkadang membuat jasanya dipandang sebelah mata. Meski demikian, ia memilih mempertahankan pendekatan tersebut agar semakin banyak pelaku usaha kecil memiliki akses terhadap promosi digital.



