Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini Makna Lampu Lampion bagi Masyarakat Tionghoa saat Imlek

V
Penulis: Vatawari BP❯

Lampu Lampion di jalan pasar Dabo Singkep pada malam hari, Selasa (2/3/2026). F. Vatawari/BATAM POS
Lampu Lampion di jalan pasar Dabo Singkep pada malam hari, Selasa (2/3/2026). F. Vatawari/BATAM POS


Advertisement

Batampos – Perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek selalu identik dengan pemasangan lampu lampion yang menghiasi rumah-rumah hingga lorong dan ruas jalan. Cahaya lampion berwarna merah membuat suasana lingkungan tampak semarak dan penuh kehangatan.

Ketua Persatuan Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Lingga, Kwetsan, mengatakan pemasangan lampu lampion merupakan bagian dari tradisi untuk memeriahkan perayaan Imlek setiap tahunnya.

“Dengan dipasangnya lampu lampion di setiap rumah dan lorong jalan, suasana Tahun Baru Cina atau Imlek menjadi lebih meriah,” ujar Kwetsan, Selasa (2/2/2026).

Advertisement

Selain sebagai hiasan, lampu lampion juga memiliki makna mendalam bagi masyarakat Tionghoa. Menurut kepercayaan, lampion dipercaya membawa hoki atau keberuntungan bagi pemilik rumah.

“Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, pemasangan lampu lampion bertujuan untuk menghadirkan keberuntungan,” jelasnya.

Advertisement

Makna keberuntungan tersebut tidak terlepas dari warna lampion yang identik dengan warna merah. Bagi masyarakat Tionghoa, merah melambangkan kebahagiaan, keberanian, serta simbol hoki.

“Warna merah bagi kami merupakan warna keberuntungan. Itulah sebabnya lampu lampion umumnya berwarna merah,” tambah Kwetsan.

Keindahan lampu lampion yang menghiasi lingkungan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Banyak warga memanfaatkan momen Imlek untuk berjalan-jalan bersama keluarga sambil mengabadikan keindahan lampion.

Salah seorang warga, Fatur, mengaku setiap perayaan Imlek selalu menyempatkan diri berkeliling bersama keluarga untuk menikmati suasana malam yang dihiasi lampu lampion.

“Setiap Imlek saya selalu mengajak anak dan istri berkeliling, menikmati keindahan lampu lampion sambil berfoto dan mengambil video bersama keluarga,” ujarnya.

Bagi sebagian warga, suasana lampion Imlek juga membangkitkan kenangan masa kecil yang penuh kebersamaan dan toleransi antarwarga.

“Melihat lampu lampion ini mengingatkan saya pada masa kecil, saat berkeliling naik sepeda bersama teman-teman untuk bertamu ke rumah tetangga Tionghoa, yang biasa kami sebut konyen,” tutupnya. (*)

Advertisement
Editor : Chahaya Simanjuntak

Artikel Terkait

Kasus DBD di Lingga Capai 221 Kasus, Dinkes Ingatkan Warga Jaga Kebersihan

Kasus DBD di Lingga Capai 221 Kasus, Dinkes Ingatkan Warga Jaga Kebersihan

Kasus DBD di Lingga mencapai 221 kasus hingga September 2026. Dinkes mengingatkan warga menjaga kebersihan dan memberantas sarang nyamuk.

Kabut Asap Karhutla Ganggu Sekolah di Lingga, Siswa Belajar dari Rumah

Kabut Asap Karhutla Ganggu Sekolah di Lingga, Siswa Belajar dari Rumah

Kualitas udara Lingga memburuk akibat kabut asap karhutla. PM2.5 mencapai 105 µg/m³ dan siswa kembali belajar dari rumah untuk sementara.

       BP Batam Buka Opsi Tarik Air dari Lingga

BP Batam Buka Opsi Tarik Air dari Lingga

BP Batam membuka opsi mendatangkan air dari Kabupaten Lingga untuk memenuhi kebutuhan air Batam yang terus meningkat

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer