Jembatan Dompak Tanjungpinang yang unik dan megah itu, kini menjadi salah satu ikon destinasi wisata dan olahraga sekaligus menjadi simbol kebanggaan masyarakat Tanjungpinang, Kepri.
***
Jembatan Dompak merupakan jembatan terpanjang di Kepulauan Riau (Kepri). Memisahkan dua pulau, Jembatan Dompak Tanjungpinang disebut sebagai jembatan terpanjang keempat dari 10 jembatan terpanjang di Indonesia.
Di atas laut biru di Tanjungpinang terhampar Jembatan I Dompak. Jembatan sepanjang 1,5 kilometer ini, menghubungkan dua pulau yaitu Pulau Bintan dan Pulau Dompak.
Jembatan Dompak berdiri kokoh dengan fondasi kuat menancap ke dasar laut ini, menghubungkan area komplek pemerintahan Provinsi Kepri di Pulau Dompak dengan pusat kota di Tanjungpinang yang berada di Pulau Bintan.
Selain sebagai penghubung, berbagai ornamen khas Melayu dan fasilitas umum melengkapi keunikannya. Pada bagian ujungnya, yang berada di area Tanjungpinang, ornamen cantik berbentuk kapal layar turut menghiasi keindahan dan kemegahan Jembatan Dompak.
Pada bagian ujung yang berada di area Pulau Dompak, taman bunga serta ornamen berbagai pulau-pulau berbentuk bulat turut menghiasi. Salah satu keunikan jembatan ini adalah adanya jogging track tersembunyi di bawah badan jembatan dengan panjang 500 meter di sisi kiri dan kanan.
Tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur strategis, Jembatan Dompak kini telah berkembang menjadi spot olahraga favorit warga dan wisatawan.
Setiap pagi dan sore hari atau akhir pekan, masyarakat Tanjungpinang berbondong-bondong datang hanya untuk melepas lelah dan berolahraga di area jembatan megah ini.
"Kalau akhir pekan, pada pagi hari kami selalu menyempatkan diri mencari keringat di Jembatan Dompak," ungkap Sandy, seorang runner di Tanjungpinang, Selasa (5/8).
Tersedia juga jalur khusus di atas jalan untuk bersepeda dan aktivitas lainnya sehingga menjadikannya tempat ideal untuk olahraga ringan sambil menikmati panorama laut terbuka.
Uniknya lagi, terdapat jalur pejalan kaki, jalur sepeda dan tempat bersantai serta tempat memancing, menjadikan Jembatan Dompak menjadi spot asik menikmati keindahan senja di Tanjungpinang.
Di pinggir jalan atas jembatan, banyak warga yang duduk santai menikmati udara dan panorama Tanjungpinang. Jembatan ini sering menjadi titik temu komunitas pelari, sepeda, hingga keluarga yang ingin santai tanpa harus berolahraga.
Sebelum masuk area jembatan, tersedia akses parkir yang cukup luas. Area parkir ini memudahkan pengunjung atau warga yang datang dengan kendaraan pribadi.
Banyak warga yang datang bukan hanya untuk olahraga, tetapi juga untuk melihat keunikan lain yaitu dengan menikmati senja yang memukau dari jembatan. Berpadu dengan laut, hilir mudik kapal nelayan serta langit jingga yang menciptakan suasana tenang nan inspiratif.
"Kalau tidak berolahraga, di jembatan juga kita bisa lihat dan menikmati senja. Setelah itu, bisa lanjut salat Magrib di Masjid Nur Ilahi Dompak," ujar Sandy.
Kini, Jembatan Dompak Tanjungpinang yang megah itu, menjadi salah satu ikon destinasi wisata dan olahraga sekaligus menjadi simbol kebanggaan masyarakat Tanjungpinang, Kepri.
Meskipun memiliki potensi sebagai destinasi wisata dan olahraga, kondisi jembatan sempat jadi sorotan karena beberapa tiang penerangan rusak hingga patah.
Warga berharap pemerintah terus melakukan perawatan berkala agar kenyamanan dan estetika keindahan Jembatan Dompak tetap terjaga.
"Kalau fasilitas yang rusak-rusak diperbaiki dan dipercantik lagi, bukan tidak mungkin jembatan ini bisa menjadi ikon sport tourism sekaligus mendukung wisata keluarga," tambah Sandy.
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPRP) Kepri, siap menggelontorkan anggaran sebesar Rp70 miliar, untuk memperbaiki dan memelihara infrastruktur jalan dan jembatan.
Kepala Dinas PUPRP Kepri Rodi Yantari, menyebut anggaran besar tersebut akan difokuskan pada infrastruktur jalan dan jembatan termasuk Jembatan Dompak Tanjungpinang.
Dengan anggaran pemeliharaan yang mencapai Rp70 miliar ini, diharapkan kondisi jalan, jembatan, dan infrastruktur lainnya tetap terjaga.
“Untuk jalan-jalan yang masuk dalam kewenangan provinsi, seperti kawasan Gurindam dan Jembatan Dompak, kami akan menangani pemeliharaannya," jelasnya, beberapa waktu lalu.
Dinas PUPRP Kepri juga terus memastikan infrastruktur jalan dan jembatan termasuk Jembatan Dompak, tetap dalam kondisi optimal demi mendukung kelancaran transportasi.
“Pemprov Kepri akan memaksimalkan anggaran yang ada untuk pemeliharaan jalan dan jembatan," tambah Rodi Yantari.
Sejarah Pembangunan dan Rintangan
Proses pembangunan Jembatan Dompak Tanjungpinang ini telah melalui berbagai rintangan dan mempunyai sejarah tersendiri.
Pertama kali, mantan Gubernur Kepri yaitu Ismeth Abdullah menginisiasi pembangunannya pada awal tahun 2006. Awalnya, dua lokasi yakni di area Senggarang Tanjungpinang Kota dan Pulau Dompak, menjadi pilihan untuk pembangunannya.
Namun dengan berbagai pertimbangan, Pulau Dompak Kecamatan Bukit Bestari Tanjungpinang, terpilih menjadi lokasi pembangunan. Setelah memutuskan lokasi pembangunan, pemerintah kemudian menyusun perencanaan pembangunan awal pada tahun 2007.
Tidak hanya itu, pemerintah merencanakan pembangunan dua jembatan lainnya menggunakan tiga paket yaitu I, II, dan III. Pemerintah saat itu, melakukan perencanaan pembangunan awal Jembatan I, II dan III di pulau Dompak.
Seiring berjalannya waktu, pembangunan jembatan II dan III selesai terlebih dahulu daripada pembangunan Jembatan I Dompak. Sedangkan pembangunan Jembatan I terkendala sementara waktu karena adanya masalah pembebasan lahan.
Karena masalah tersebut, pada tahun 2010, pembangunannya sempat terhenti. Kontraktor tidak dapat menyelesaikan pembangunan jembatan.
Kemudian, setelah masalah tersebut teratasi dan dengan berbagai upaya, pemerintah melanjutkan pembangunan. Pada tahun 2014, mantan Gubernur Kepri yaitu Almarhum HM Sani, melanjutkan pembangunan jalan penghubung ini.
Kendala kembali menghampiri pada 2015. Saat proses pembangunan, musibah terjadi. Jembatan I Dompak ambruk di sisi Pulau Dompak. Meskipun begitu, dengan berbagai upaya mengatasi kendala dan masalah, pemerintah dan kontraktor kembali melanjutkan pembangunan.
Upaya dan kerja keras tersebut membuahkan hasil. Pada tahun 2016, pengerjaan pembangunan selesai tepat waktu. Setelah selesai, pemerintah merencanakan nama resmi. Nama Hang Tuah muncul. Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri menyetujui nama tersebut.
Kemudian pengusulan nama berganti menjadi Jembatan HM Sani. Hal ini untuk menghormati jasa dan dedikasi Almarhum HM Sani terhadap pembangunan di Kepri.
Pada tahun 2017, pembangunan telah sempurna. Akhirnya, pemerintah Provinsi Kepulauan Riau meresmikan penggunaan jembatan. Pada era Gubernur Kepri Nurdin Basirun, kembali mengusulkan pergantian nama menjadi Jembatan Sultan Mahmud Riayat Syah.
Meskipun berbagai nama resmi disematkan, pada era Gubernur Kepri Ansar Ahmad, masyakarat tetap menyebutnya dengan sebutan populer yaitu Jembatan Dompak. (*)
Editor : Tunggul Manurung