batampos - The Fed memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 persen poin (25 basis poin) pada Rabu (29/10). Rentang target suku bunga dana federal menjadi 3,75% hingga 4,00%.
Ini adalah kedua kali dalam tahun 2025, The Fed melakukan pemangkasan suku bunga.
"Pemangkasan lebih lanjut di Desember tidaklah pasti, karena data ekonomi yang terbatas dan perbedaan pandangan di antara pembuat kebijakan," ujar ketua The Fed, Jerome Powell, dikutip dari The Guardian, Kamis (30/10).
Keputusan selanjutnya akan bergantung pada bukti inflasi yang bergerak konsisten menuju target 2%. Pasar keuangan global merespon keputusan tersebut.
Indeks saham utama AS menguat tipis, sementara yield obligasi pemerintah AS menurun.
Di kawasan Asia, rupiah sempat menguat tipis terhadap dolar AS, didorong oleh melemahnya imbal hasil Treasury dan meningkatnya selera risiko investor.
Namun, analis memperingatkan bahwa volatilitas masih tinggi karena ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) sebelumnya menahan suku bunga acuan di level 4,75% pada Rabu (22/10).
"Pemangkasan The Fed mengurangi tekanan eksternal terhadap rupiah. Memberikan ruang bagi BI untuk fokus pada pertumbuhan," tulis Capital Economics dalam analisis pasca keputusan The Fed, dikutip dari Capital Economics.
Sementara itu, pasar saham dan obligasi Indonesia berpotensi mendapatkan dukungan jangka pendek dari arus masuk modal asing, terutama pada sektor sensitif terhadap suku bunga.
Sektor tersebut adalah perbankan, properti, dan konsumer. Pelaku pasar diminta tetap berhati - hati terhadap potensi koreksi teknikal dan faktor global, seperti data tenaga kerja AS dan kebijakan fiskal Tiongkok.
Keputusan The Fed juga memperkuat ekspektasi bahwa siklus suku bunga tinggi global sudah mendekati akhir.
Ini memberi angin segar bagi perekonomian termasuk Indonesia yang masih berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.(*)
Editor : Juliana Belence