
batampos – Kepedulian terhadap petani kopi lokal mendorong Aryasetya Kanaka Dumadi menghadirkan inovasi digital bernama QThink X. Platform ini dirancang untuk menghubungkan petani kopi dari berbagai daerah di Indonesia dengan pembeli, termasuk pasar internasional.
Aryasetya merupakan wisudawan program International Business Management–International Class Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Melalui QThink X, dia ingin membantu petani meningkatkan nilai jual produk sekaligus memperluas akses pemasaran hingga ke luar negeri.
Ide tersebut berawal ketika Aryasetya melihat banyak petani lokal memiliki kopi berkualitas, tetapi kesulitan menjangkau pasar yang tepat. Padahal, produk unggulan tersebut berpotensi bersaing di pasar global jika didukung strategi pemasaran dan penguatan merek yang tepat.
"Saya melihat banyak petani lokal punya produk unggulan, tetapi masih belum bisa menjualnya ke pasar yang tepat. Dari situ saya berpikir bagaimana bisa membantu melakukan branding produk mereka agar tembus pasar global," ujarnya, Selasa (3/11).
QThink X menawarkan sejumlah fitur, mulai dari penelusuran asal produk hingga identitas petani. Melalui platform ini, pembeli dapat mengakses informasi harga, kualitas, serta peta ketersediaan stok kopi dari masing-masing petani.
Dengan sistem tersebut, pembeli bisa mengetahui asal-usul kopi yang dibeli. Sementara petani diharapkan mendapatkan akses pasar yang lebih luas, kepastian pembelian, serta harga jual yang lebih baik.
"Tujuan utamanya membuat petani bisa naik kelas. Jadi, buyer mendapatkan penelusuran yang jelas, sedangkan petani memiliki kepastian pembelian dan harga jual," jelasnya.
Tidak hanya memfasilitasi transaksi bisnis, QThink X juga menghadirkan fitur apresiasi langsung kepada petani. Melalui pemindaian barcode pada produk, pembeli maupun konsumen kopi di luar negeri dapat mengetahui asal kopi dan petani yang memproduksinya.
Konsumen juga memiliki kesempatan memberikan donasi atau apresiasi berupa sejumlah dana yang disalurkan langsung kepada petani.
Hingga saat ini, Aryasetya menyebut sekitar 50 petani dari berbagai daerah di Indonesia telah bergabung dalam platform tersebut. Sejumlah transaksi juga telah terealisasi, termasuk pengiriman kopi ke pasar internasional.



