batampos- Langkah Letjen TNI Kunto Arief Wibowo perlahan memasuki ruangan yang penuh dengan aroma kayu tua dan sejarah yang kental.
Jumat (15/8) siang itu, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I ini datang langsung ke Museum Lanal Tarempa, tempat yang menyimpan potongan-potongan kisah penting di perairan perbatasan.
Sejak awal memasuki museum, putra mantan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno, itu tampak antusias.
Ia mendengarkan penjelasan tentang berdirinya Lanal Tarempa dengan seksama, sesekali mengangguk tanda memahami dan menghargai perjalanan panjang yang telah dilalui.
Tatapannya kemudian tertuju pada deretan foto lawas hitam putih dari era 1970-an.
Foto-foto itu merekam momen TNI Angkatan Laut mengawasi langsung gelombang pengungsi Vietnam yang melarikan diri dari negaranya akibat perang saudara.
Ada kapal-kapal yang dipenuhi manusia, ada juga potret prajurit yang berdiri tegas di tepi dermaga.
Semua itu menjadi saksi bisu dari peristiwa kemanusiaan yang pernah berlangsung di perairan Anambas.
Kunto juga menyusuri lorong yang dipenuhi benda-benda peninggalan masa penjajahan.
Ada meriam tua yang kokoh meski usianya puluhan tahun, topi tentara yang warnanya mulai pudar, hingga ekor amunisi bom Jepang buatan tahun 1941.
Ia mengamati setiap detailnya, seolah mencoba merangkai kembali cerita di balik benda-benda itu.
“Museum ini punya peran penting dalam membina mental dan menjaga sejarah. Di sini, TNI menjadi jembatan antar generasi, menanamkan nilai cinta tanah air dan mengingatkan kita pada asal-usul bangsa,” ujar Kunto Arief Wibowo.
Kunto mengingatkan bahwa sering kali nilai-nilai sejarah ini diabaikan, padahal sangat penting untuk dikenang dan dipelajari.
Ia menekankan perlunya kerja sama semua pihak, termasuk pemerintah daerah, untuk mengumpulkan dan merawat barang-barang bersejarah.
Ia juga mengajak masyarakat yang memiliki benda-benda bersejarah untuk secara sukarela menyerahkannya melalui pemerintah daerah.
“Kalau benda itu lebih banyak bernilai sipil, bisa dikelola Pemda. Kalau bernilai militer, Lanal Tarempa yang akan membinanya,” jelasnya.
Kunjungan itu diakhiri dengan langkah pelan sang Panglima meninggalkan ruangan, namun sesekali ia menoleh kembali ke koleksi museum.
Seakan ingin memastikan bahwa jejak sejarah yang dilihatnya hari ini akan terus terjaga untuk generasi mendatang. (*)
Editor : Tunggul Manurung