Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

33 Lansia Anambas Diwisuda, Kisah Aminah Paling Menggetarkan

Ihsan Imaduddin • Kamis, 25 September 2025 | 08:00 WIB
Nenek Aminah (73) saat menerima ijazah yang diberikan oleh Wakil Bupati Anambas, Raja Bayu.
Nenek Aminah (73) saat menerima ijazah yang diberikan oleh Wakil Bupati Anambas, Raja Bayu.

batampos- Balai Desa Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah, tampak berbeda dari biasanya pada Rabu (24/9/2025).

Pagi itu, ruangan sederhana itu dipenuhi tawa, tangis, dan pelukan hangat.

Sebanyak 33 orang lanjut usia (lansia) duduk rapi mengenakan selempang wisuda.

Rambut mereka memutih, beberapa berjalan dengan tongkat, sebagian digandeng anak atau cucu, namun wajah mereka berseri-seri.

Inilah momen bersejarah, Wisuda Sekolah Lansia Anggrek. Sebuah program yang digagas untuk memberi kesempatan para orang tua di usia senja tetap belajar, tetap berdaya, dan tetap merasa dihargai.

Ketika satu per satu lansia dipanggil maju ke panggung, suasana berubah menjadi sendu.

Banyak yang tak kuasa menahan air mata. Ada rasa bangga, ada pula rasa haru yang sulit diucapkan.

Sebab, sebagian besar dari mereka belum pernah sekalipun merasakan bagaimana rasanya “diwisuda” dalam hidupnya.

Prosesi dipimpin langsung oleh Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, didampingi Wakil Bupati Raja Bayu Febrian Gunadian dan Sekretaris Daerah, Sahtiar.

Kehadiran para pemimpin daerah itu membuat para wisudawan merasa dihormati.

Bupati Aneng menyampaikan rasa syukur sekaligus mengingatkan bahwa jumlah penduduk lansia terus meningkat dan butuh perhatian serius.

“Sekolah lansia hadir untuk membuat bapak dan ibu tetap sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat,” ucapnya, membuat banyak hadirin terdiam penuh rasa hormat.

Namun, titik paling menyentuh datang dari kisah seorang nenek bernama Aminah (73).

Ia melangkah perlahan ke panggung, tangan keriputnya menggenggam erat map wisuda.

“Seumur hidup, saya tidak pernah sekolah. Dulu saya hanya bisa menyekolahkan anak-anak saya dengan hasil jual sayur keliling. Hari ini, di usia tua, saya merasakan apa itu diwisuda. Saya tak pernah mimpi bisa berdiri di sini. Terima kasih, ya Allah," ujar Aminah dengan nada lirih.

Kalimat sederhana itu membuat ruangan hening. Banyak yang ikut menitikkan air mata.

"Nenek hebat, saya bangga," ujar Sang cucu yang duduk di barisan depan berlari memeluk neneknya.

Pelukan kecil itu seolah menjadi simbol bahwa penghargaan sejati tidak pernah terlambat diberikan.

Bagi Aminah dan kawan-kawan, sekolah lansia bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua.

Di sana mereka berbagi cerita, belajar tentang kesehatan, hingga menguatkan diri untuk tetap semangat meski usia senja.

Di akhir prosesi, seluruh wisudawan berdiri bersama-sama menyanyikan lagu sederhana.

Suara mereka serak, tak seindah paduan suara, tetapi penuh ketulusan. Banyak hadirin kembali meneteskan air mata.

Hari itu, Desa Air Asuk menjadi saksi bahwa penghargaan tak mengenal batas usia.

Wisuda lansia bukan hanya seremoni, melainkan penghormatan bagi orang-orang yang telah mengabdikan hidupnya untuk keluarga dan masyarakat.

Dan bagi nenek Aminah, wisuda ini adalah hadiah terindah di masa senjanya.

“Saya tidak punya banyak harta untuk ditinggalkan. Tapi hari ini, saya punya kebanggaan untuk dikenang oleh anak dan cucu saya,” ucapnya sambil tersenyum dalam tangis haru. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#wisuda #lansia