Batampos - Di tengah hamparan laut biru Kepulauan Anambas, sebuah desa kecil bernama Piasan berdiri tenang di gugusan Pulau Mubur.
Dari kejauhan, desa ini bak seperti lukisan, lumah-rumah panggung berjajar di atas pelantar kayu, dikelilingi air laut sejernih kristal.
Untuk mencapai Piasan, warga harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit menggunakan pompong dari Tarempa, pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Anambas. Jarak yang tidak terlalu jauh, namun cukup membuat desa ini terasa terpisah dari hiruk pikuk kota.
Daratannya sempit. Hampir seluruh wilayah desa dikepung laut. Tanah yang tersedia hanya cukup untuk permukiman dan sedikit ruang kosong. Namun justru di keterbatasan itulah, harapan tumbuh dengan cara yang tak biasa.
Bagi masyarakat Piasan, keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Mereka belajar beradaptasi dengan alam, memanfaatkan setiap jengkal ruang yang ada demi keberlangsungan hidup.
Salah satu ikhtiar itu terlihat dari hadirnya taman hidroponik yang berdiri di atas pelantar kayu. Sebuah pemandangan yang tak lazim, namun sarat makna, bercocok tanam tanpa tanah, di tengah lautan.
Hanya berbekal pipa-pipa sederhana, air seadanya, serta kemauan kuat, Pemerintah Desa Piasan membangun taman hidroponik tersebut. Instalasinya dirancang menyesuaikan kondisi pelantar, agar tetap kokoh meski diterpa angin laut.
Baca Juga: Truk Tangki Diduga Ngebut hingga 100 km/Jam di Jalan Perkotaan Batam
“Taman hidroponik ini dimulai pada tahun 2020, pas zaman Covid. Akhirnya berlangsung sampai sekarang,” ujar Kepala Desa Piasan, Zainal Arifin, Minggu (1/2/2026).
Saat pandemi melanda dan akses logistik terganggu, warga Piasan merasakan betul sulitnya mendapatkan bahan pangan, terutama sayur-mayur. Dari situ, ide menanam sendiri kebutuhan dapur pun lahir.
Di taman hidroponik itu, berbagai jenis sayur tumbuh subur. Sawi hijau, baby kailan, dan beberapa sayuran daun lainnya berbaris rapi dalam pipa-pipa putih yang dialiri air bernutrisi.
Setiap helai daun yang tumbuh seolah menjadi simbol ketekunan. Meski disiram air terbatas dan berada di lingkungan asin laut, sayur-sayur tersebut tetap hijau dan segar.
Hasilnya pun tidak mengecewakan. Dalam satu kali panen, taman hidroponik ini mampu menghasilkan sekitar 50 kilogram sayuran.
“Biasa kalau sekali panen menghasilkan 50 kilogram. Lumayan untuk dijual jadi pemasukan untuk masyarakat,” kata Zainal.
Sayuran hasil panen tak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga dijual kepada warga sekitar. Hasil penjualan itu membantu menambah pendapatan masyarakat, meski dalam skala sederhana.
Baca Juga: Kronologi Lengkap Epstein Files, dari Tuduhan Awal hingga Dokumen Rahasia Dirilis
Lebih dari sekadar ekonomi, taman hidroponik membawa perubahan pola hidup. Warga kini bisa mengonsumsi sayur setiap hari, sesuatu yang sebelumnya tidak mudah dilakukan.
Letak Desa Piasan yang jauh dari pusat perkotaan membuat pasokan sayur dari luar sering tersendat. Cuaca buruk dan gelombang tinggi kerap menjadi penghalang distribusi.
Dengan hidroponik, ketergantungan terhadap pasokan luar perlahan berkurang. Warga tak lagi harus menunggu kapal datang hanya untuk mendapatkan seikat sayur.
Sayuran memiliki peran penting bagi tubuh. Kandungan vitamin, mineral, serat, dan antioksidan di dalamnya membantu menjaga daya tahan tubuh, melancarkan pencernaan, serta mencegah berbagai penyakit.
Konsumsi sayur secara rutin juga berkontribusi pada kesehatan jantung, menjaga kadar gula darah, hingga mendukung tumbuh kembang anak-anak di desa tersebut.
Tak heran jika keberadaan taman hidroponik ini disambut antusias. Selain sehat, hasilnya juga berkelanjutan.
“Biasanya dalam satu bulan bisa empat sampai enam kali panen,” ujar Zainal menutup cerita.
Di atas pelantar kayu yang dikelilingi laut, Desa Piasan membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bertumbuh.
Dari pipa-pipa sederhana, harapan terus mengalir, menghidupi tubuh, menguatkan ekonomi, dan menjaga asa di pulau kecil bernama Mubur. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak