
batampos – Kebutuhan tenaga kerja terampil di pasar internasional menjadi peluang besar bagi lulusan pendidikan vokasi di Kepulauan Riau. Melihat potensi tersebut, Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepri terus memperkuat kolaborasi dengan dunia pendidikan untuk mencetak pekerja migran Indonesia (PMI) yang kompeten dan siap bersaing.
Langkah ini sejalan dengan target nasional Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) yang menargetkan penempatan 500 ribu PMI ke berbagai negara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 300 ribu di antaranya ditargetkan berasal dari lulusan pendidikan vokasi seperti SMK dan politeknik.
Kepala BP3MI Kepri Kombes Pol Imam Riyadi mengatakan, tingginya kebutuhan tenaga kerja profesional di luar negeri menjadi peluang yang harus dimanfaatkan melalui penguatan kualitas sumber daya manusia.
Baca Juga: Kuasa Hukum Don Ritto Siapkan Praperadilan atas Penyitaan Uang dan Emas 74 Kilogram
"Dari target 500.000 penempatan PMI itu, komposisinya 300.000 bersumber dari lulusan vokasi (SMK/Politeknik) dan 200.000 dari lulusan umum. Ini adalah peluang besar sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan kita untuk melakukan link and match dengan kebutuhan global," ujar Imam di Tanjungpinang, Sabtu.
Menurut dia, BP3MI Kepri tidak hanya fokus pada proses penempatan pekerja migran, tetapi juga membangun ekosistem sejak dari tahap persiapan calon pekerja. Salah satu upaya yang dilakukan melalui pengembangan program Desa Migran Emas.
Program tersebut menjadi salah satu langkah pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), sekaligus menyediakan informasi mengenai prosedur penempatan PMI yang aman dan legal.
Saat ini, empat desa di Kepri telah menerapkan program Desa Migran Emas, yakni Desa Teluk Sasah, Pangke, Pangke Barat, dan Tanjung Berlian Barat.
"Ke depan, BP3MI Kepri mempersiapkan sepuluh desa tambahan untuk mengadopsi program serupa," katanya.



