Batampos - Ketersediaan air bersih di Pulau Bajau, khususnya di Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya saat memasuki musim kemarau, di mana pasokan air bersih sangat bergantung pada embung yang tersedia.
Air bersih merupakan kebutuhan utama masyarakat untuk aktivitas sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci, hingga keperluan kebersihan lingkungan.
Tanpa pasokan yang cukup dan berkualitas, aktivitas warga dapat terganggu dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, Camat Siantan Timur, Lilik Widodo, melakukan peninjauan langsung ke dua titik embung di Desa Nyamuk, Kamis (5/2/2026).
Peninjauan ini dilakukan sebagai langkah awal untuk melihat kesiapan infrastruktur air bersih dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dua embung yang ditinjau tersebut yakni embung yang dikelola oleh Pemerintah Desa Nyamuk serta embung yang dibangun oleh pemerintah pusat melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SPAMSIMAS).
Lilik Widodo menjelaskan, embung yang dikelola pemerintah desa secara fisik sudah cukup baik. Area embung telah dipagari sehingga dapat meminimalkan risiko masuknya hewan yang dapat mencemari air.
Selain itu, sistem penyaluran air dari embung desa ke rumah warga menggunakan sistem gravitasi. Dengan sistem ini, air dapat mengalir tanpa menggunakan mesin pompa, sehingga tidak memerlukan biaya operasional tambahan.
“Ini tentu menguntungkan masyarakat, karena biaya pengelolaan bisa ditekan dan pelayanan air tetap berjalan,” ujar Lilik Widodo.
Namun, pada kondisi tertentu, terutama saat musim kemarau, air dari embung desa harus dialirkan dan ditampung terlebih dahulu di penampungan SPAMSIMAS sebelum akhirnya disalurkan ke masyarakat.
Meski jaringan antara embung desa dan SPAMSIMAS sudah saling terhubung, Lilik menyebut penampungan SPAMSIMAS tersebut belum dilengkapi dengan sistem pengolahan air yang memadai.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar kualitas air yang dikonsumsi masyarakat benar-benar memenuhi standar,” jelasnya.
Berdasarkan data pengelola air bersih, saat ini sekitar 300 kepala keluarga di Desa Nyamuk tercatat sebagai pelanggan.
Dengan tarif Rp4.000 per meter kubik, layanan ini menjadi sumber utama kebutuhan air bersih warga.
Jika rata-rata kebutuhan air per kepala keluarga mencapai 200 liter per hari, maka total kebutuhan air masyarakat Desa Nyamuk mencapai sekitar 60.000 liter atau setara 60 ton air bersih setiap harinya.
Untuk meningkatkan kualitas dan ketersediaan air, pihak kecamatan mendorong pemerintah desa agar sebagian dana iuran air yang masuk ke Pendapatan Asli Desa dapat diinvestasikan, tidak hanya untuk pemeliharaan, tetapi juga untuk pembangunan bak penampungan air.
Menurut Lilik, keberadaan bak penampungan sangat penting agar air dapat diolah terlebih dahulu sebelum disalurkan ke masyarakat.
Selain itu, bak penampungan juga berfungsi sebagai cadangan air saat musim kemarau.
“Tanpa bak penampungan, stok air hanya mampu bertahan sekitar lima hari. Jika ada bak penampungan, cadangan air bisa bertahan hingga sepuluh hari,” ungkapnya.
Dalam peninjauan tersebut, Camat Siantan Timur juga melihat embung Desa Nyamuk yang dibangun menggunakan dana APBN melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera Wilayah IV Batam dengan anggaran sekitar Rp24 miliar.
Namun, embung ini belum dimanfaatkan secara optimal karena mengalami kebocoran dan masalah teknis lainnya.
Lilik Widodo menyebutkan pihak kecamatan akan melaporkan kondisi tersebut kepada pimpinan daerah dan bersurat kepada Bupati serta Dinas Pekerjaan Umum agar dapat dikoordinasikan dengan BWS Batam.
Ia berharap perbaikan segera dilakukan agar embung dapat berfungsi maksimal dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Desa Nyamuk. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak