Batampos - Setiap memasuki bulan Syawal, suasana di Kabupaten Kepulauan Anambas tidak hanya dipenuhi dengan silaturahmi dan suasana lebaran, tetapi juga dengan satu tradisi yang selalu dinanti-nanti masyarakat, yakni balap pompong.
Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir di wilayah kepulauan tersebut.
Balap pompong biasanya digelar pada tanggal 2 Syawal atau lebaran kedua. Saat sebagian orang masih menikmati waktu bersama keluarga di rumah, masyarakat Anambas justru berbondong-bondong menuju Pulau Temawan, Kecamatan Siantan Timur, untuk menyaksikan perlombaan yang sarat semangat dan kebersamaan ini.
Pulau Temawan sendiri dikenal sebagai salah satu pulau paling eksotis di Anambas. Hamparan pasir putih, air laut yang jernih berwarna biru kehijauan, serta pepohonan yang masih alami menjadikan pulau ini tampak seperti lukisan alam yang hidup. Di tengah keindahan inilah, suara mesin pompong dan sorak-sorai penonton berpadu menciptakan suasana yang unik.
Sejak pagi hari, masyarakat sudah mulai berdatangan menggunakan perahu dari berbagai desa. Mereka membawa bekal makanan, tikar, bahkan ada yang mendirikan tenda kecil untuk berteduh. Anak-anak berlarian di pantai, sementara para orang tua duduk menunggu dimulainya perlombaan dengan wajah penuh antusias.
Pompong yang digunakan dalam perlombaan ini bukanlah kapal besar. Sesuai aturan, ukuran kapal dibatasi maksimal 2 Gross Ton (GT) dengan mesin berukuran kecil. Pembatasan ini bertujuan agar perlombaan tetap aman, adil, serta tetap mempertahankan ciri khas pompong tradisional yang sederhana namun tangguh.
Sebelum perlombaan dimulai, para peserta biasanya berkumpul di tepi pantai untuk melakukan pengecekan mesin dan kondisi kapal. Mereka saling berbincang, bercanda, sekaligus memeriksa baut dan baling-baling agar tidak terjadi masalah saat lomba berlangsung. Di wajah mereka terlihat campuran antara tegang dan semangat.
Ketika panitia memberikan aba-aba, satu per satu pompong mulai melaju ke garis start. Mesin-mesin kecil itu meraung, memecah keheningan laut. Air laut terbelah oleh baling-baling, menciptakan percikan yang berkilau diterpa sinar matahari siang hari.
Saat peluit ditiup, pompong-pompong tersebut melesat dengan cepat, meninggalkan garis start dan saling berlomba menjadi yang terdepan.
Penonton di pinggir pantai langsung bersorak, meneriakkan nama peserta favorit mereka. Suasana yang awalnya tenang berubah menjadi penuh riuh dan semangat.
Balap pompong bukan sekadar adu cepat di atas air. Dibutuhkan keterampilan mengemudi, kemampuan membaca arus laut, serta keberanian untuk mengendalikan kapal kecil dalam kecepatan tinggi. Sedikit saja salah manuver, pompong bisa oleng dan kehilangan kecepatan.
Para peserta yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan sudah sangat terbiasa dengan karakter laut. Pengalaman mereka sehari-hari melaut menjadi modal utama dalam mengendalikan pompong saat lomba. Hal inilah yang membuat perlombaan terasa semakin menarik, karena setiap peserta memiliki teknik dan gaya mengemudi yang berbeda.
Baca Juga: Harga Sembako Mulai Merangkak Naik, Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu per Kg
Selain menjadi hiburan, balap pompong juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga dari berbagai desa di Anambas. Banyak perantau yang sengaja pulang kampung agar bisa menyaksikan tradisi ini secara langsung. Mereka memanfaatkan momen ini untuk berkumpul kembali dengan keluarga dan sahabat lama.
Di sela-sela perlombaan, pedagang kecil turut memanfaatkan keramaian dengan menjual makanan dan minuman. Aroma ikan bakar, gorengan, dan kopi panas menyatu dengan angin laut, menciptakan suasana yang hangat dan akrab. Tradisi ini pun sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.
Bagi anak-anak, balap pompong menjadi tontonan yang sangat membekas di ingatan. Mereka berdiri di bibir pantai, mata tak berkedip mengikuti pergerakan pompong yang melaju kencang. Tidak sedikit dari mereka yang bercita-cita suatu hari nanti ikut menjadi peserta lomba seperti para kakak dan ayah mereka.
Tokoh masyarakat Kepulauan Anambas, Azwir, menilai balap pompong bukan sekadar perlombaan, melainkan warisan budaya yang harus dijaga bersama. Ia menyebut tradisi ini telah menjadi bagian dari jati diri masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut sejak dahulu.
“Balap pompong ini bukan hanya soal siapa yang paling cepat, tapi ini adalah tradisi yang menyatukan masyarakat. Setiap tahun kita berkumpul di Temawan, saling menyapa, saling mendukung. Inilah kekayaan budaya kita yang tidak boleh hilang,” ujar Azwir.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut mampu memperkenalkan keindahan Pulau Temawan kepada masyarakat luas. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, balap pompong dapat menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu mendatangkan pengunjung dari luar daerah.
Menjelang sore hari, ketika perlombaan usai dan pemenang telah diumumkan, suasana perlahan kembali tenang. Pompong-pompong yang tadi berlomba kini bersandar di tepi pantai. Penonton mulai berkemas, membawa pulang cerita dan kenangan yang akan kembali diceritakan dari tahun ke tahun.
Tradisi balap pompong di Pulau Temawan akhirnya bukan hanya tentang perlombaan di atas laut, melainkan tentang kebersamaan, kebanggaan, dan cinta masyarakat Anambas terhadap laut yang telah menjadi bagian dari hidup mereka.
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, deru mesin pompong di lebaran kedua menjadi pengingat bahwa tradisi lama masih memiliki tempat yang istimewa di hati masyarakat. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak