Batampos - Aktivitas transportasi penyeberangan menggunakan speed boat di Tarempa, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, masih terpantau stabil dan diminati warga meskipun kini dihadapkan dengan kehadiran moda transportasi baru berupa roro tradisional.
Pantauan di Pelabuhan Sri Siantan, Tarempa, Jumat (27/3/2026), sejumlah speed boat terlihat bersandar di dermaga sambil menunggu penumpang yang akan menyeberang ke berbagai pulau tujuan.
Adapun rute yang dilayani speed boat tersebut meliputi Matak, Palmatak, Air Asuk, Telaga hingga Jemaja yang selama ini menjadi jalur transportasi utama masyarakat.
Para penambang atau pengemudi speed boat mengaku hingga saat ini jumlah penumpang masih relatif stabil, baik pada hari kerja maupun saat akhir pekan.
“Alhamdulillah penumpang ada saja, baik di hari kerja maupun libur,” ujar salah satu penambang speed boat, Radiapoh.
Ia mengatakan, kehadiran roro tradisional yang beroperasi di wilayah Tarempa Timur justru menghadirkan persaingan yang dinilai sehat di antara pelaku usaha transportasi. Diketahui, roro tersebut baru beroperasi sekitar 6 bulan.
Menurutnya, keberadaan dua moda transportasi ini memberikan alternatif bagi masyarakat dalam memilih layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Radiapoh menjelaskan, dari segi tarif, baik speed boat maupun roro tradisional tidak memiliki perbedaan yang signifikan.
Untuk rute ke Matak dan Palmatak, tarif speed boat dipatok sebesar Rp50 ribu per orang.
Sementara itu, roro tradisional menetapkan tarif Rp50 ribu untuk satu unit sepeda motor, dengan fasilitas tambahan berupa gratis bagi dua orang penumpang.
Kondisi ini dinilai menguntungkan masyarakat, terutama bagi mereka yang ingin membawa kendaraan pribadi ke Tarempa tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.
Salah satu penumpang, Tania, mengaku merasa terbantu dengan hadirnya roro tradisional karena dinilai lebih hemat untuk keperluan tertentu.
Ia yang merupakan warga Palmatak mengatakan, kini tidak perlu lagi menyewa sepeda motor saat memiliki urusan di Tarempa yang merupakan pusat pemerintahan.
“Saya tinggal di Palmatak, sekarang kalau ada urusan di Tarempa tinggal bawa motor saja, jadi lebih hemat,” ujar Tania.
Meski demikian, Tania mengaku masih tetap menggunakan jasa speed boat, terutama saat dalam kondisi terburu-buru karena waktu tempuhnya relatif lebih cepat dibandingkan roro tradisional.
Dengan adanya dua pilihan moda transportasi ini, masyarakat diharapkan dapat lebih leluasa menentukan kebutuhan perjalanan mereka, sementara para pelaku usaha tetap dapat bersaing secara sehat demi menjaga keberlangsungan layanan penyeberangan di wilayah tersebut. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak