Batampos - Keresahan melanda sejumlah orang tua pelajar di Kecamatan Siantan Tengah, Kabupaten Kepulauan Anambas, setelah anak-anak mereka diduga menjadi korban keracunan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa itu terjadi pada 15 April lalu, dengan jumlah korban mencapai 155 pelajar dari beberapa sekolah di wilayah tersebut.
Para pelajar tersebut dilaporkan mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan yang disediakan oleh Mitra Dapur MBG Yayasan Pangan Intan Permata.
Baca Juga: Dialog dengan Buruh,Aneng Tegaskan Komitmen Soal Upah dan Perlindungan Pekerja di Anambas
Menu yang disajikan saat itu terdiri dari telur kecap, sayur tumis, nasi, dan tempe goreng yang kemudian diduga menjadi penyebab insiden tersebut.
Hingga Jumat (1/5/2026), para orang tua mengaku belum menerima kejelasan terkait hasil uji sampel makanan yang sebelumnya telah dikirim ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Kepulauan Riau.
Salah satu orang tua murid, Farida, mengaku kecewa dengan sikap Badan Gizi Nasional (BGN) yang dinilai tidak transparan dalam menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut.
“Kemana BGN, sampai sekarang tidak ada umumkan hasilnya. Katanya akan terbuka, tapi sekarang tidak ada komunikasi lagi,” ujar Farida.
Ia menjelaskan, sebelumnya tim investigasi BGN sempat turun langsung ke Siantan Tengah untuk menindaklanjuti kasus tersebut.
Baca Juga: Kijang Game Zone di Bintan Dilarang Beroperasi Komersil, Kenapa?
Tim yang dipimpin Arie Karimah Muhammad itu, kata Farida, sempat menyampaikan hasil uji laboratorium akan keluar Selasa (28/4/2026). Namun hingga awal Mei, janji tersebut belum juga terealisasi dan tidak ada informasi lanjutan yang diterima oleh para orang tua.
“Sekarang sudah lewat dari waktu yang dijanjikan, tapi tidak ada kabar sama sekali,” katanya.
Farida mengaku mulai khawatir jika keterlambatan pengumuman hasil tersebut berkaitan dengan adanya temuan yang tidak diinginkan.
Ia menduga, ada kemungkinan pihak terkait memilih untuk menahan atau tidak membuka hasil pemeriksaan secara terbuka kepada publik.
“Kalau memang tidak ada masalah, kenapa harus lama diumumkan? Ini yang bikin kami curiga,” ucapnya.
Kekhawatiran tersebut berdampak pada sikap para orang tua yang kini mulai melarang anak-anak mereka mengonsumsi makanan dari program MBG.
“Kalau saya sendiri sudah tidak mau lagi anak kami terima MBG. Kami juga sudah mulai komunikasi dengan orang tua lain, banyak yang sepakat untuk menolak,” tegas Farida.
Sementara itu, Kepala BPOM Batam, Ully Mandasari, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan terkait hasil uji sampel tersebut.
Hal serupa juga terjadi pada perwakilan BGN wilayah Riau-Kepri, Widya, yang belum memberikan keterangan meski telah dihubungi.
Di sisi lain, Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menyebut hasil pemeriksaan sebenarnya sudah dipublikasikan melalui laman resmi lembaganya.
“Sudah ada di portal Sidak BGN, baca saja di sana,” kata Nanik singkat.
Namun, saat ditelusuri melalui situs yang dimaksud, informasi terkait hasil uji sampel makanan MBG di Siantan Tengah belum ditemukan secara jelas.
Pengunjung harus menelusuri berbagai menu dan laporan tanpa adanya penjelasan spesifik, sehingga memunculkan kebingungan dan pertanyaan baru dari masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi yang rinci dan mudah diakses publik terkait hasil uji sampel tersebut, sementara keresahan orang tua masih terus berlanjut. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak