Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

BBM Naik, APINDO: Harga Kebutuhan Pokok Berpotensi Ikut Terkerek

Rengga Yuliandra • Senin, 20 April 2026 | 09:31 WIB
Ketua Apindo Kota Batam, Rafki Rasyid.
Ketua Apindo Kota Batam, Rafki Rasyid.

batampos – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya solar industri, diprediksi memberi tekanan tambahan bagi sektor industri di Kota Batam. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik hingga berdampak pada harga kebutuhan pokok.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Batam, Rafki Rasyid, mengatakan industri yang bergantung pada BBM industri akan merasakan dampak langsung dari kebijakan tersebut.

“Kenaikan BBM nonsubsidi ini tentu berdampak langsung ke industri, terutama yang menggunakan BBM industri. Kemungkinan besar biaya logistik juga akan ikut naik,” ujarnya, Minggu (19/4).

Ia menjelaskan, sebelumnya kenaikan harga avtur telah lebih dulu terjadi dan kini diikuti BBM nonsubsidi. Hal ini dinilai semakin menambah beban pelaku usaha, di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.

“Kenaikan biaya logistik akan menambah beban pengusaha. Saat ini mereka juga menghadapi peningkatan biaya produksi, salah satunya akibat kelangkaan beberapa komponen karena dampak konflik global,” jelasnya.

Rafki menambahkan, Batam sebagai daerah yang bergantung pada pasokan barang dari luar wilayah melalui jalur laut akan sangat terdampak. Biaya transportasi menjadi komponen penting dalam distribusi barang.

“Potensi kenaikan harga bahan pokok di Batam cukup besar. Sebab sebagian besar kebutuhan diangkut dari luar daerah. Jika BBM nonsubsidi naik, biaya transportasi barang juga meningkat,” katanya.

Menurutnya, kenaikan biaya distribusi tersebut berpotensi memicu lonjakan harga kebutuhan pokok di pasaran. Karena itu, kondisi ini perlu diantisipasi sejak dini oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan.

“Hal ini tentu akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok yang harus diantisipasi sedari awal,” tegasnya.

Selain itu, APINDO Batam juga menerima laporan dari sejumlah pelaku industri terkait meningkatnya biaya produksi akibat kelangkaan bahan baku, seperti chip elektronik dan biji plastik. Kondisi ini semakin mempersempit ruang gerak industri dalam menjaga efisiensi.

Meski demikian, Rafki menilai daya saing industri bersifat relatif dan bergantung pada kemampuan masing-masing perusahaan dalam beradaptasi.

“Daya saing itu relatif. Namun yang jelas, tekanan biaya saat ini memang dirasakan oleh banyak pelaku usaha,” ujarnya.

Dalam menghadapi situasi tersebut, APINDO berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga keberlangsungan dunia usaha, salah satunya melalui pemberian insentif fiskal dan nonfiskal.

“Kami berharap ada insentif agar perusahaan bisa bertahan, sehingga tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah kondisi ini,” pungkasnya.

Dengan berbagai tekanan tersebut, pelaku usaha di Batam kini dihadapkan pada tantangan berat untuk menjaga stabilitas operasional sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat di tengah potensi kenaikan harga barang. (*)

Editor : Jamil Qasim
#BBM nonsubsidi #Kebutuhan Pokok