batampos – Tuntutan orangtua agar anak selalu meraih nilai tinggi di sekolah dinilai berpotensi berdampak buruk terhadap kesehatan mental dan pembentukan kepribadian anak.
Psikolog Irfan menyebut, tekanan berlebihan untuk mencapai prestasi akademik dapat memicu stres dan kecemasan, terutama ketika anak merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi orangtua.
“Memaksa anak untuk selalu mendapatkan nilai bagus bisa menimbulkan stres, mulai dari ringan hingga berat,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan tersebut kerap muncul dalam bentuk gejala fisik maupun perilaku. Anak bisa terlihat gelisah, berkeringat berlebihan, sulit tenang, bahkan mengeluhkan sakit perut saat menghadapi sekolah atau ujian.
Selain itu, tuntutan akademik yang terlalu tinggi berisiko membuat anak memandang sekolah sebagai tempat yang menakutkan, bukan ruang belajar yang menyenangkan.
“Karena tertekan, anak menjadi tidak siap menghadapi situasi belajar yang menegangkan,” jelasnya.
Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek. Pola asuh yang terlalu mengontrol juga dapat memengaruhi karakter anak saat dewasa.
“Jika anak tidak diberi ruang untuk menentukan targetnya sendiri, mereka bisa kesulitan mengambil keputusan dan cenderung selalu mencari pengakuan dari orang lain,” ungkap Irfan.
Karena itu, orangtua diimbau untuk lebih bijak dalam mendampingi proses belajar anak. Dukungan emosional dan penghargaan terhadap proses dinilai jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar hasil akhir berupa nilai.
Orangtua juga perlu memahami minat dan kemampuan anak, serta memberikan motivasi tanpa tekanan berlebihan.
“Dengan pendekatan yang tepat, anak bisa berkembang secara sehat, tidak hanya secara akademik, tetapi juga mental dan emosional,” tutupnya. (*)