batampos – Pihak sekolah Play Group Djuwita Batam akhirnya buka suara terkait viralnya dugaan kekerasan terhadap anak usia dini. Kepala Sekolah Djuwita Batam, Lidia, menyampaikan versi berbeda atas peristiwa tersebut. Ia menyebut justru terjadi dugaan intimidasi terhadap guru oleh seorang wali murid yang datang bersama puluhan orang tak dikenal.
Peristiwa itu disebut terjadi pada 21 April 2026. Sebelumnya, wali murid tersebut telah berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk bertemu dan membahas kondisi anaknya yang dikabarkan tidak mau bersekolah.
“Memang sebelumnya ada komunikasi. Wali murid itu memastikan akan datang ke sekolah untuk bertemu,” ujar Lidia.
Pada hari kejadian, wali murid datang saat jam istirahat sekitar pukul 13.45 WIB. Namun pihak sekolah mulai curiga setelah melihat beberapa kendaraan lain yang bukan milik orang tua murid terparkir di area sekolah.
“Awalnya kami persilakan masuk. Tapi kami lihat ada beberapa orang yang tidak kami kenal ikut datang dan jumlahnya makin banyak. Namun mereka masih di luar,” jelasnya.
Situasi disebut mulai memanas saat pertemuan berlangsung di dalam ruangan. Wali murid tersebut meminta agar pihak lain tidak ikut campur dan hanya ingin bertemu guru kelas anaknya.
Namun, menurut pihak sekolah, belum sempat proses klarifikasi berjalan, suasana berubah tegang. Wali murid itu disebut melontarkan pernyataan bernada ancaman.
“Ada dua hal yang dia sampaikan. Pertama dia bilang datang bukan untuk klarifikasi, tapi untuk membalas dendam dan ingin merusak mental guru,” ungkap Lidia.
Tak lama kemudian, sekitar 10 hingga 11 orang tak dikenal masuk ke dalam ruangan. Mereka disebut membawa kamera dan langsung mengintimidasi tiga guru yang berada di lokasi.
“Mereka menyuruh guru berdiri, menunjuk-nunjuk, dan mengeluarkan kata-kata kasar. Itu sangat tidak pantas, apalagi di lingkungan sekolah anak usia dini,” katanya.
Lidia juga menyebut salah satu guru diperlakukan tidak pantas saat wali murid mencoba menyuapi makanan menggunakan sendok sambil memegang rahang guru tersebut.
“Memang tidak sampai ke mulut, tapi ada tindakan memegang rahang. Itu terekam CCTV,” jelasnya.
Selain itu, guru-guru disebut diminta menuliskan nomor telepon pribadi. Data tersebut kemudian difoto dan dibacakan, disertai dugaan ancaman.
“Ada ucapan bahwa mereka bisa mencari guru-guru itu ke mana pun. Ini membuat mereka sangat ketakutan,” tambahnya.
Pasca kejadian, tiga guru dikabarkan mengalami trauma berat. Dua di antaranya bahkan dijemput keluarga karena tidak berani kembali beraktivitas seperti biasa.
“Kami sudah membawa mereka ke dokter. Saat ini kondisinya masih trauma dan takut beraktivitas,” ujarnya.
Pihak sekolah menegaskan tuduhan kekerasan terhadap anak tidak terbukti. Berdasarkan pemeriksaan internal dan rekaman CCTV, tidak ditemukan adanya tindakan kekerasan seperti yang dituduhkan.
“Sudah kami cek, termasuk rekaman CCTV selama beberapa hari. Tidak ditemukan adanya kekerasan seperti yang dituduhkan. Yang pasti jika ada kekerasan, kami juga tak bakal tinggal diam,” tegasnya.
Founder Sekolah Djuwita Batam, Djuwita Barak Rimba, mengaku terkejut atas kejadian tersebut. Ia menyebut selama 31 tahun sekolah berdiri, belum pernah terjadi insiden serupa.
“Ini sangat kami sesalkan. Ada sekelompok orang datang ke preschool dengan anak usia 1,5 sampai 4 tahun. Itu sangat tidak tepat,” ujarnya.
Kasus ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan saat ini masih dalam proses penyelidikan. Polisi disebut masih mendalami kedua pihak, baik terkait dugaan kekerasan terhadap anak maupun dugaan intimidasi di lingkungan sekolah. (*)
Editor : Jamil Qasim