batampos — Koperasi Produsen Transmigran Merah Putih Barelang di kawasan Rempang Eco City mulai tancap gas. Tak lagi sekadar menerima bantuan, koperasi ini kini aktif bergerak di sektor perikanan dengan menjadi penampung hasil tangkapan nelayan setempat.
Ketua koperasi, Agus, mengatakan langkah tersebut merupakan pengembangan usaha setelah adanya dukungan sarana dari pemerintah.
“Kegiatan yang sudah berjalan saat ini adalah pengelolaan kapal, sebanyak 16 unit bantuan dari Kementerian Transmigrasi tahun anggaran 2025, dan sudah mulai dioperasikan nelayan,” ujarnya, Rabu.
Tak berhenti di situ, koperasi juga mulai merintis usaha jual beli hasil tangkapan. Ikan dari nelayan akan ditampung, lalu dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan di Batam hingga wilayah sekitar Galang.
“Sekarang kami mulai menjadi penampung ikan. Hasil tangkapan nelayan kami tampung untuk dijual,” jelasnya.
Seluruh kapal yang ada kini sudah beroperasi dengan sistem kerja sama berbasis bagi hasil. Skema ini disepakati bersama antara koperasi dan nelayan.
“Kami gunakan sistem bagi hasil dengan persentase yang disepakati,” tambah Agus.
Dari sisi permodalan, koperasi sebelumnya mendapat bantuan inventaris sekitar Rp200 juta dari Kementerian Transmigrasi. Sementara modal awal juga berasal dari iuran anggota sekitar Rp6–7 juta.
Penguatan kapasitas nelayan juga terus dilakukan. Yudi Admajianto, Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, menyebut penggunaan kapal berukuran 5 GT ke atas menjadi tantangan baru bagi nelayan tradisional.
“Ini teknik baru karena mereka melaut lebih jauh dan menggunakan alat tangkap seperti jaring dan bubu khusus, sehingga perlu pelatihan,” ujarnya.
Meski demikian, hasil mulai terlihat. Nelayan sudah mendapatkan tangkapan seperti tenggiri, parang, tohok, hingga sagai.
“Pagi ini kami dapat kabar mereka sudah melaut dan mendapat hasil. Ini akan terus kami dukung,” kata Yudi.
Selain perikanan, koperasi juga mengembangkan usaha lain. Mulai dari penyewaan tenda dan kursi, hingga pemberdayaan UMKM melalui kegiatan eco print dan Kelompok Wanita Tani (KWT).
“Untuk KWT, kami dorong pemanfaatan pekarangan rumah, seperti menanam cabai, sayur, dan tomat,” ujar Agus.
Koperasi menargetkan dalam tiga hingga enam bulan ke depan, kemampuan nelayan semakin meningkat. Harapannya, produksi ikan ikut naik dan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat Rempang. (*)
Editor : Putut Ariyotejo