Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Batam Masih Bergantung Pasokan Luar, Pemko Akui Rentan Krisis Pangan

Muhammad Syahban • Rabu, 13 Mei 2026 | 12:31 WIB
ILUSTRASI  K
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Batam, Mardanis, bersama instansi terkait saat meninjau stok beras di sejumlah toko dan swalayan, beberapa waktu lalu. F. Dokumentasi Batam Pos
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Batam, Mardanis, bersama instansi terkait saat meninjau stok beras di sejumlah toko dan swalayan, beberapa waktu lalu. F. Dokumentasi Batam Pos

batampos – Pemerintah Kota Batam mengakui ketahanan pangan di Batam dan Kepulauan Riau masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah. Kondisi itu membuat Batam rentan terhadap gangguan distribusi, cuaca buruk, hingga gejolak harga nasional.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Batam, Wahyu Daryanti, mengatakan koordinasi dengan Bulog terus dilakukan secara intensif untuk memastikan stok pangan tetap aman di tengah berbagai tantangan distribusi.

“Koordinasi dengan Bulog sangat intens dan sangat bagus. Karena Batam ini bukan daerah penghasil pertanian dan peternakan, jadi kelancaran distribusi laut dan udara menjadi faktor utama,” ujar Wahyu saat dihubungi Batam Pos, Selasa (12/5).

Menurutnya, keterlambatan kapal maupun pesawat pengangkut bahan pangan sangat memengaruhi pasokan dan harga di pasaran.

“Potensi keterlambatan kapal dan pesawat itu sangat berpengaruh. Jadi kami terus koordinasi dengan Bulog terkait stok maupun harga komoditas,” katanya.

Selain Bulog, koordinasi juga dilakukan dengan distributor dan pelaku usaha pangan di Batam. Bahkan dalam kondisi tertentu, komunikasi dilakukan hampir setiap hari.

“Minimal seminggu sekali koordinasi. Tapi kalau ada kondisi tertentu bisa sampai setiap hari,” ujarnya.

Wahyu menjelaskan, Bulog kini memegang peranan penting dalam distribusi minyak goreng untuk pasar Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).

“Bulog sekarang menjadi distributor utama minyak goreng kita untuk pasar SP2KP,” katanya.

SP2KP sendiri merupakan sistem pemantauan harga kebutuhan pokok dari Kementerian Perdagangan yang diterapkan di sejumlah pasar di Batam.

Gejolak Harga Sempat Terjadi

Terkait larangan impor beberapa waktu lalu, Wahyu mengakui sempat terjadi gejolak harga di pasar. Namun menurutnya, kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena Batam memiliki banyak sumber pasokan dari berbagai daerah.

“Memang ada sedikit kontraksi. Tapi untuk sembako, walaupun Batam bukan daerah penghasil, sumber pasokannya banyak,” katanya.

Ia mencontohkan komoditas beras dan bawang yang dipasok dari berbagai wilayah seperti Jakarta, Padang, Palembang hingga daerah lain di Sumatera.

“Karena banyak pilihan sumber pasokan, masyarakat juga cepat beradaptasi,” ujarnya.

Saat ini, sebagian besar beras premium di Batam berasal dari Jakarta. Meski karakteristiknya berbeda dengan beras yang sebelumnya banyak dikonsumsi warga Batam, Wahyu memastikan kualitasnya tetap premium.

“Premium itu lebih kepada kualitas pecahan berasnya saja. Mungkin beda di tingkat pecahannya, tapi sama-sama premium,” jelasnya.

Kepanikan Pasar Dipicu Informasi Harga

Wahyu menilai kepanikan masyarakat sering kali dipicu oleh informasi terkait kenaikan harga bahan pokok yang beredar luas.

“Yang membuat panik masyarakat itu kadang pemberitaan soal kenaikan harga,” katanya.

Menurutnya, secara riil stok pangan di Batam saat ini masih aman dan harga kebutuhan pokok masih relatif terkendali baik di pasar tradisional maupun ritel modern.

“Secara riil stok aman dan masih terjangkau. Cabe memang naik turun, tapi sekarang sudah mulai stabil,” ujarnya.

Kepri Diakui Rentan Krisis Pangan

Wahyu secara terbuka mengakui Kepulauan Riau termasuk daerah yang cukup rentan terhadap krisis pangan karena tidak memiliki lahan pertanian maupun perkebunan skala besar.

“Kepri cukup rentan karena kita tidak punya sawah besar, tidak punya kebun cabe besar. Ketergantungan kita terhadap pasokan luar daerah sangat tinggi,” katanya.

Untuk Batam sendiri, pasokan pangan masuk melalui jalur laut dan udara dari berbagai daerah seperti Sumatera, Jawa, NTB, Medan hingga Surabaya.

Karena itu, Disperindag kini mulai mendorong diversifikasi sumber pasokan agar tidak bergantung pada satu daerah saja.

“Kalau satu daerah mengalami bencana atau gangguan cuaca, kita masih bisa ambil dari daerah lain,” jelasnya.

Selain dari luar daerah, beberapa komoditas juga mulai dipasok dari wilayah terdekat seperti Bintan, terutama telur, cabe, dan sayuran.

“Telur dari Bintan lebih segar karena jaraknya dekat, paling lambat sehari sudah sampai Batam,” katanya.

Antisipasi Cuaca Buruk

Untuk menghadapi cuaca buruk dan gangguan distribusi, Disperindag mengaku terus memperluas jaringan pemasok pangan.

“Semakin banyak daerah sumber pasokan, semakin banyak alternatif pilihan,” ujar Wahyu.

Ia mencontohkan saat pasokan cabe dari Medan terganggu akibat cuaca buruk atau musibah, distributor bisa mengambil stok dari Surabaya menggunakan jalur udara. Meski harga menjadi lebih tinggi, langkah itu dinilai penting agar stok pangan tetap tersedia.

“Yang penting jangan sampai harga naik tapi barangnya kosong. Itu yang paling berbahaya,” katanya.

FTZ Dinilai Harus Dapat Keistimewaan Pangan

Terkait status Batam sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ), Wahyu berharap pemerintah pusat memberikan perlakuan khusus terhadap pemenuhan pangan di Batam.

“Harapan kita FTZ ini daerahnya harus menarik. Jangan sampai FTZ tapi justru rawan pangan,” ujarnya.

Menurutnya, Batam sebagai kota industri dan pariwisata membutuhkan kestabilan harga pangan agar tetap kompetitif di mata investor maupun wisatawan.

“Kalau harga bahan pokok mahal, wisatawan juga akan berpikir datang ke Batam,” katanya.

Ia menyebut saat ini beberapa komoditas seperti daging, buah, sayur, dan bawang sudah mendapat kemudahan impor melalui skema FTZ. Namun beras belum termasuk di dalamnya.

“FTZ harus benar-benar memberi manfaat untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat,” katanya.

Beras Batam dan Jakarta Berbeda

Dalam mendukung program swasembada pangan nasional, Batam kini mulai menyesuaikan pola distribusi beras dari Jakarta. Namun Wahyu mengakui karakter beras yang dikonsumsi masyarakat Batam berbeda dengan di Pulau Jawa.

“Di Batam masyarakat lebih suka beras pera, lebih putih dan tidak terlalu pulen,” ujarnya.

Sementara beras dari Jakarta cenderung lebih pulen dan lembek saat dimasak.

“Kalau terlalu pulen lama-lama jadi seperti bubur. Warga Batam biasanya suka beras yang tidak terlalu lembek,” katanya.

Ia berharap ke depan ada subsidi ongkos angkut atau penguatan jalur tol laut agar distribusi beras dari Jawa ke Batam tidak terlalu membebani distributor.

“Yang mahal itu biaya transportasinya. Harapan kita ada subsidi atau penguatan tol laut supaya harga beras tetap terjangkau,” ujarnya. (*)

Editor : Jamil Qasim
#Pasokan Luar #Krisis pangan