batampos – Dunia usaha mulai menghitung dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) terhadap aktivitas produksi dan ketenagakerjaan. Tekanan biaya operasional yang terus meningkat dinilai dapat memengaruhi kemampuan perusahaan melakukan ekspansi usaha hingga perekrutan tenaga kerja baru.
Kondisi tersebut turut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama Partai Buruh memperkirakan sekitar 9.000 pekerja di sedikitnya 10 perusahaan berpotensi terkena PHK dalam tiga bulan ke depan.
Menanggapi hal itu, Ketua APINDO Kota Batam, Rafki Rasid, mengatakan kondisi dunia usaha di Batam hingga saat ini masih relatif terkendali. Namun, pelaku usaha memang sedang menghadapi kenaikan Biaya Pokok Produksi (BPP) akibat berbagai faktor global maupun domestik.
“Dunia usaha di Batam saat ini memang sedang menghadapi kenaikan Biaya Pokok Produksi akibat berbagai pemicu. Mulai dari masalah logistik yang terganggu akibat perang, kelangkaan beberapa bahan baku, kenaikan harga BBM, sampai kemungkinan kenaikan suku bunga pinjaman modal akibat kenaikan suku bunga acuan BI,” ujar Rafki.
Menurutnya, situasi tersebut membuat perusahaan harus melakukan berbagai langkah strategis agar operasional tetap berjalan. Salah satu upaya yang kini banyak dilakukan adalah efisiensi biaya di berbagai lini usaha.
Meski demikian, Rafki menegaskan bahwa pengurangan tenaga kerja masih menjadi pilihan terakhir bagi perusahaan.
“Hanya saja pengurangan karyawan akan jadi pilihan terakhir jika memang situasi tekanannya semakin berat. Karena perusahaan sangat memahami bahwa karyawan membutuhkan penghasilan untuk menjaga tingkat kesejahteraan diri dan keluarganya,” katanya.
Ia menilai keberlangsungan tenaga kerja sangat berkaitan dengan daya beli masyarakat. Selama pekerja tetap memiliki penghasilan, konsumsi masyarakat dapat terjaga dan berdampak positif terhadap perputaran ekonomi daerah.
“Karyawan yang tetap bekerja juga akan menjaga daya beli masyarakat yang tentunya akan berdampak positif ke dunia usaha juga. Jadi pengusaha akan tetap menjaga agar PHK tidak dilakukan,” tambahnya.
Rafki menyebut kondisi pasar kerja di Batam hingga kini masih berjalan normal. Perekrutan tenaga kerja baru juga masih dilakukan oleh sejumlah perusahaan di berbagai sektor industri.
“Untuk saat ini situasi pasar kerja di Batam masih berlangsung normal. Perekrutan karyawan baru masih dibuka untuk berbagai sektor pekerjaan di Batam. Jadi situasinya masih aman terkendali,” jelasnya.
Terkait potensi PHK yang disampaikan KSPI, Rafki mengakui kemungkinan tersebut bisa saja terjadi di sejumlah daerah atau sektor tertentu, terutama perusahaan yang lebih banyak memasarkan produknya di dalam negeri.
“Karena beban dunia usaha saat ini cukup berat, terutama yang menjual produknya ke dalam negeri. Ada ancaman melemahnya kurs rupiah juga yang mereka hadapi,” katanya.
Sementara itu, untuk Batam, ia menilai kondisi masih cukup stabil karena mayoritas perusahaan di kawasan industri berorientasi ekspor.
“Tapi untuk Batam, karena sebagian besar perusahaan berorientasi ekspor, maka sampai saat ini pengusaha masih belum melakukan PHK akibat kenaikan BPP,” ujarnya.
Rafki juga menjelaskan bahwa tidak diperpanjangnya kontrak kerja dalam kondisi tertentu merupakan hal yang lumrah di dunia industri. Biasanya hal itu terjadi karena pergantian proyek atau jeda produksi sebelum proyek baru dimulai.
“Kalau karyawan yang habis kontrak kemudian tidak diperpanjang itu lumrah terjadi. Karena mungkin proyeknya ada yang berganti tapi butuh waktu untuk memulai proyek baru. Nanti ketika proyek baru sudah jalan tentu akan direkrut kembali bahkan bisa ditambah jumlahnya,” terangnya.
Di sisi lain, ia mengapresiasi langkah BP Batam yang dinilai cukup proaktif memantau kondisi dunia usaha di Batam. Menurutnya, komunikasi cepat antara pemerintah dan pelaku usaha sangat penting agar berbagai kendala dapat segera diatasi.
“Untuk BP Batam sendiri saat ini cukup proaktif memantau kondisi para pengusaha di Batam. Jadi kendala-kendala yang dihadapi oleh pengusaha dapat cepat tertangani,” tutupnya.
Editor : Jamil Qasim