Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Mengenal Sosok Chris Tamba yang Kerap Jadi Tempat Curhat Warga, Melayani Jadi Muara dari Profesi dan Kehidupannya

Chahaya Simanjuntak • Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:05 WIB
KOMPOL Chris Tamba (kiri) saat bertemu dan berbincang serius dengan Pendeta Waruwu (tengah), Ruth Surbakti dan Febrian (kanan) di Morning Bakery Greenland, Batamcenter, Sabtu (13/6/2026) lalu. F Chahaya Simanjuntak/Batam Pos
KOMPOL Chris Tamba (kiri) saat lepas dinas dan  bertemu dan berbincang serius dengan Pendeta Waruwu (tengah), Ruth Surbakti, dan Febrian (kanan) di Morning Bakery Greenland, Batamcenter, Sabtu (13/6/2026) lalu. F Chahaya Simanjuntak/Batam Pos

Cita-cita awalnya bukan polisi. Namun takdir membawanya menjalani profesi ini selama 30 tahun. Dan karena profesi ini jugalah yang mengantarnya mengenal ragam karakter manusia yang membuatnya terpanggil melayani masyarakat, bahkan di luar jadwal kerjanya.

----

SUASANA Morning Bakery Greenland tampak ramai meski waktu sudah menunjukkan pukul 09.25 WIB, Sabtu (13/6/2026) lalu. Beberapa pengunjung yang kebanyakan berkelompok menikmati makanan dan minuman yang terhidang di meja masing-masing, sambil mengobrol diselingi tawa. Namun, di meja bagian tengah sebelah kiri tangga di lantai dua restoran itu, empat dari lima pengunjung yang kompak mengenakan atasan hitam terlibat dalam pembicaraan serius.

Adalah Komisaris Polisi (Kompol) Zainal Abidin Christopher Tamba atau dikenal dengan panggilan Kompol Chris Tamba salah satunya. Saat ini, ia menjabat sebagai Kasubdit V.I.P Direktorat Pengamanan Objek Vital (Ditpamobvit) di Markas Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Mapolda Kepri).

Perjalanan karirnya di kepolisian dimulai 1996 lalu. Satu tahun setelah kelulusannya dari SMA Negeri 1 Binjai. “Saya lulus tahun 1995. Cita-cita saya dulu masuk seleksi AKABRI. Ikut tes tapi tak lulus,” ujarnya mengenang sambil tertawa kecil.

“Saya menganggur satu tahun. Di 1996, tes masuk bintara polisi, puji Tuhan diterima dengan penugasan perdana di Satuan Brigade Mobil (Brimob) di Bengkulu,” ujarnya.

Pria dengan enam bersaudara ini bertugas di Mapolda Bengkulu hingga 2006. Lalu di 2007, ia pindah tugas ke Markas Polda Kepri sebagai Pama. Selama 30 tahun bertugas di kepolisian, 24 tahun karirnya bertugas di Brimob, bahkan ayah dari tiga anak ini pernah bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Sudan, Afrika Utara, sebagai Kasubden B Satgas FPU VI Unamid, 2013-2014 lalu.

“Saya kira, apa pun jabatannya, di kesatuan mana pun kita bertugas, polisi itu adalah pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Secara jadwal, kita bekerja 8 jam per hari tapi pada kenyataannya, kerap kita bekerja 24 jam. Kok bisa? Ya kembali ke tata laksana tugas utama kita itu,” ungkapnya.

Baca Juga: Amerika Serikat Lolos ke Babak 32 Besar Setelah Tundukkan Australia 2-0

Biasanya, akhir pekan saat lepas dinas seharusnya menjadi momen bagi Chris untuk beristirahat, karena tidur merupakan barang yang mewah baginya setelah selesai kerja. Selain itu, menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarganya juga. Namun, hari itu, ia memilih sarapan pagi di luar sekalian temu janji dengan tiga orang sekaligus.

Tadinya ia hanya ingin temu janji dengan seorang pendeta. Kemudian, saat di perjalanan pagi itu, ia ditelepon orang lain lagi. “Ya sudahlah. Sekalian saja berbarengan ketemu. Saya tidak keberatan bertemu dengan banyak orang sekaligus di waktu bersamaan, meski pembahasannya berbeda. Saya selalu percaya everything happens for a reason. Selalu ada maksud Tuhan dengan pertemuan ini dimana orang jadinya saling terkait,” ujar Chris.

Ada pun ketiga orang yang ia temui di Morning Bakery itu adalah: Pendeta Waruwu, Febrian, dan Ruth Surbakti. “Dengan Pendeta Waruwu, mau bahas tentang beberapa hal terkait pelayanan dan pelaksanaan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan juga rencana saya mau ambil S-2 Teologi. Nah, kalau dengan Ruth dan Febrian ini, mereka menghubungiku soal masalah keluarga dan penipuan. Kebetulan Febrian ini dulu rekan kerjaku di Brimob,” ujarnya.

Ayah tiga anak ini mengatakan, Ruth Surbakti (34) dan Febrian (33) merupakan pasangan suami-istri yang tengah menghadapi masalah keluarga yang pelik. Mereka ditipu teman dan rekan kerja dengan kerugian lebih dari Rp120 juta. “Jumlah uang yang tidak sedikit. Masing-masing pelakunya kabur. Jadi, mereka datang untuk diskusi solutif sekaligus konselinglah,” ujar Chris yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-50.

Suami dari Rika Harwinanto Tan ini mengaku, ia kerap menjadi tempat “curhat” banyak orang atau warga. Beragam persoalan yang disampaikan mulai dari masalah keluarga, perseteruan, konflik antar tetangga, masalah lahan, kekurangan biaya sekolah anak, hingga tak jarang, anak buahnya pun kerap menghubunginya untuk beragam hal. Mereka mengunjungi rumahnya, atau menghubunginya via telepon atau pun lewat aplikasi WhatsApp saat di luar jam kerja. Namun, ia tak merasa keberatan dengan hal itu karena prinsip hidupnya adalah berperilaku baik, berbahagia selalu, dan tetap sehat supaya bisa membantu menuntaskan permasalahan masyarakat sesuai kemampuannya. “Ini pilihan. Namanya juga bagian dari pelayanan. Tidak mengganggu tugas saya juga kok,” ujarnya tulus.

Dia pun lantas terkenang. Menyebut salah satu sosok bernama Haji Ali. Warga Batu Besar. Kala itu Nongsa menghadapi masalah penggusuran lahan oleh perusahaan yang menjanjikan ganti rugi atau sagu hati kepada setiap warga. Namun sagu hati yang diberikan tak sesuai. Haji Ali adalah salah satu korbannya.

Polisi pun menindaklanjutinya sampai ke tahap Rapat Dengar Pendapat ke pemerintah.

“Dalam hearing dengan pemerintah itu saya turut mendampingi dari kepolisian. Haji Ali mewakili warga. Di sana saya selayaknya menyampaikan laporan berdasarkan laporan warga dan fakta lapangan. Saya memperhatikan warga termasuk Haji Ali saat itu, matanya sudah berkaca-kaca karena sedih digusur,” ujar Chris.

Baca Juga: Peserta JKN Capai 99,02 Persen Secara Nasional, Tapi Jutaan Belum Aktif

Kejadian itu sudah berlangsung beberapa tahun lalu. Namun belum lama ini, Haji Ali itu tiba-tiba menghubungi Chris, meminta pendapat atas masalah yang baru saja dihadapi. Tak hanya itu, ia juga mengucapkan terima kasih. “Bahkan mengungkapkan ia tidak lupa atas pernyataan saya dalam hearing itu “Pak haji sudah berkaca-kaca, apa solusi untuk mereka ini?…,” Padahal kejadian itu sudah sangat lama,” ungkapnya.

Menurutnya, melakukan yang baik kepada siapa pun adalah suatu keharusan dan bukan kewajiban. “Salah satu doa saya selalu kepada Tuhan setiap memulai hari yaitu: Tuhan beri saya khidmat dan kebijaksanaan untuk segala sesuatu dan pertemukan saya dengan orang-orang benar,” ungkapnya.

Chris Tamba (tengah) bersama tim polisi Indonesia foto bersama warga lokal saat bertugas menjadi Pasukan Perdamaian PBB di Sudan, Afrika Utara. F Dok pribadi untuk Batam Pos
Chris Tamba (tengah) bersama tim polisi Indonesia foto bersama warga lokal saat bertugas menjadi Pasukan Perdamaian PBB di Sudan, Afrika Utara. F Dok pribadi untuk Batam Pos

Dalam hal “curhat”, bukan hanya warga Batam, warga luar pulau juga kerap menghubungi Chris. Terbaru dari Pulau Karas. Terkait sertifikat yang kemudian ditangani di Polda Kepri. “Kita itu, baik sebagai individu maupun sebagai anggota polisi, harus mampu menjadi problem solver. Polri harus solutif dan selalu hadir untuk masyarakat. Sesuai dengan prinsip restorative justice, bukan jadi penindak tapi jadi penengah bagi masyarakat,” ujar pria lulusan Magister Hukum dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 2024 lalu ini.

Ada lagi, saat ia menjabat sebagai Kasubden 3 K.B.R Detasemen Gegana Satbrimob Polda Kepri, Covid-19 terjadi. Bersama tim, ia pun ditugaskan ke Natuna dalam mengawal Pemulangan 238 WNI dari Wuhan, Tiongkok,  sebagai bagian dari Operasi Evakuasi Kesehatan Darurat akibat virus Corona di masa awal pandemi 2020 lalu. “Saat itu, sangat mencekam. Saya satu bulan BKO di sana,” ungkapnya.

Ia pulang dengan selamat dan sehat kembali ke Batam. Atas penugasan itu, ia mendapat penghargaan dari Presiden Joko “Jokowi” Widodo.

Kemudian, ia turut bertugas menjadi tim yang turun ke rumah-rumah, berbagai perusahaan dan perkantoran untuk penyemprotan disinfektan di Batam.

“Di situlah saya lihat, orang-orang kaya pada takut mati. Berani bayar harga berapa saja untuk mendapatkan segala sesuatu seperti anti virus, termasuk supaya rumahnya diutamakan untuk disterilkan dan disemprot,” ungkapnya.

Dalam penugasan melayani permintaan masyarakat itu, meski nyawa taruhannya, justru di situlah mantan Kapolsek Sekupang periode 2022-2023 ini melihat adanya pertobatan. Kembali mendekat kepada Tuhan.

Baca Juga: Investasi KEK Galang Batang Tembus Rp15,6 Triliun, Serap 5.000 Tenaga Kerja

“Kala itu saya dapat banyak duit dari berbagai orang dan perusahaan usai menyemprot. Istilahnya, di saat ekonomi terjepit kala itu akibat kelumpuhan berbagai sistem yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan daya jual di masyarakat, Saya dan tim justru mendapat berkat. Di situlah saya lihat kebesaran Tuhan dengan cara-caranya yang tak terduga dan ajaib menolong umatNya. Uang itu saya gunakan untuk keluarga, beli vitamin para anggota, dan mengakrabkan diri lewat kegiatan positif meski saat itu berlaku social distancing,” kenangnya.

Kedekatan Chris dengan masyarakat berawal dari tugasnya di kepolisian yang pernah menjabat sebagai asesor dan konselor. Kemampuannya membaca karakter, memecahkan masalah, memberi penilaian dan memberi pendampingan secara humanis bukan hanya datang penugasan tapi juga dari komitmen, penerimaan, dan pengenalan akan diri sendiri. Menjadi sesuatu yang dibiasakan sehingga membuat masyarakat bahkan para juniornya nyaman “curhat” kepadanya.

“Bapak Chris itu adalah pimpinan suami dulu saat masih di Brimob. Tapi sangat mengayomi dan mau mendengar apa yang menjadi keluhan para anggotanya,” ujar Ruth.

Dia mengaku tak segan mengeluarkan keluh kesah yang ia hadapi kepada Chris karena ia menganggap Chris bisa menempatkan diri sebagai senior atau keluarga. Beberapa orang selama ini menganggap citra polisi itu negatif. “Tapi tidak semua kok begitu. Masih banyak polisi baik. Salah satunya pak Chris ini. Bukan hanya sebagai pendengar, tapi dia juga sosok membantu memberi solusi. Khusus dalam penyelesaian masalah kami, bapak Chris juga memfasilitasi pertemuan,” ujar Ruth.

Namun sama seperti manusia lainnya, Chris juga tidak sempurna. Kadang ia juga lelah. Ada beban mental yang tidak kelihatan dari balik seragamnya. “Kadang kita tak baik-baik saja. Lalu ada orang konseling atau curhat masalahnya ke kita dan minta pendapat. Ya kita harus bantu. Padahal polisi juga manusia. Kalau sudah begitu, agama menjadi benteng yang teguh,” ujar sosok yang menomor satukan pekerjaan tapi mengutamakan keluarga ini.

Saat ini, Chris aktif melayani di gereja dan turut mendukung pelaksanaan KKR yang juga melibatkan orang-orang muda, akhir Juni mendatang. “Pada akhirnya, melayani masyarakat dan melayani Tuhan jadi muara dari profesi dan kehidupanku,” ungkapnya.

Kapolda Dukung Polisi yang Berkiprah Positif di Masyarakat

KABID Humas Polda Kepri, Kombes Pol Nona P Ohei. F Yashinta/Batam Pos
KABID Humas Polda Kepri, Kombes Pol Nona P Ohei. F Yashinta/Batam Pos

Sementara itu, Kapolda Kepri Irjen Pol. Asep Syafrudin melalui Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol. Nona Pricillia Ohei mengatakan, mendukung anggotanya yang berkiprah positif di masyarakat.

“Ya kami sangat mendukung. Sebenarnya itu bagian dari tugas kepolisian juga. Berkiprah di masyarakat sesuai keahlian anggota,” ujar Nona.

Ada banyak anggota Polda Kepri yang berkiprah di masyarakat di luar jam kerja. “Kepada mereka tersebut, mendapatkan apresiasi atau penghargaan dari bapak Kapolda,” jelas Nona.

Baca Juga: Cegah Kecelakaan, Petugas Damkar Tebang Pohon Petai dan Jengkol Rawan Tumbang di Tanjunguban

Salah satu anggota yang sudah mendapatkan penghargaan dari Kapolda Kepri yakni Aipda Karim Bao. Selain berdinas di Ditpamobvit, yang bersangkutan juga sebagai Ustad/Pengkotbah di masjid dan juga Pengasuh Pondok Pesantren di salah satu Ponpes di Batam.

“Pemberian penghargaan itu dilaksanakan bukan hanya saat peringatan Hari Bhayangkara. Tapi juga saat momen tertentu,” jelas Nona.

Puncak Hari Bhayangkara ke-80 sendiri akan diperingati 1 Juli 2026 mendatang. Sebagai anggota Polri, Chris Tamba juga mengutarakan doa dan harapannya supaya institusi Polri lebih baik ke depan, dan selalu hadir untuk masyarakat. “Presisi dan selalu hadir untuk masyarakat dengan situasi dan dinamikanya. Polisi bukan musuh masyarakat,” ujarnya. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Hari Bhayangkara ke-80 #Kompol Chris Tamba #Sosok #Polri untuk Masyarakat #polda kepri