Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Banyak Temuan Kasus Kekerasan, Batam Belum Ramah Anak

Yofie Yuhendri • Rabu, 24 Juni 2026 | 23:14 WIB
Penyidik Polsek Sagulung memeriksa PJH, ibu yang menganiaya anak tirinya. F. Aris untuk Batam Pos
Ilustrasi penganiayaan anak. Penyidik Polsek Sagulung memeriksa PJH, ibu yang menganiaya anak tirinya. F. Aris untuk Batam Pos

Batampos -  Maraknya kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Kota Batam dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Adanya kasus penganiayaan hingga kekerasan seksual terhadap anak, salah satunya yang menimpa anak penyandang disabilitas di kawasan Batuaji, menunjukkan masih tingginya ancaman terhadap keselamatan dan hak-hak anak.

Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Batam, Erry Syahrial, menilai kondisi tersebut menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian terhadap perlindungan anak.

Baca Juga: Polda Kepri dan Kepolisian Johor Perkuat Sinergi Berantas Perdagangan Manusia dan Narkoba di Selat Malaka

Menurut Erry, berbagai kasus yang terjadi belakangan ini menunjukkan bahwa Batam masih menghadapi persoalan serius dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.

“Kasus kekerasan terhadap anak masih sering terjadi, baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat. Ini menunjukkan bahwa Batam masih belum sepenuhnya menjadi kota yang ramah anak,” ujar Erry, Rabu (24/6/2026).

Ia menyayangkan masih banyak orang dewasa yang memilih melakukan kekerasan terhadap anak sebagai bentuk pelampiasan emosi, padahal ancaman hukuman bagi pelaku kekerasan terhadap anak tergolong berat.

Baca Juga: Dulu Pahlawan Lawan Penjajah Pakai Senjata, Argya Sebut Kini Polisi Berjuang Lewat Pelayanan

“Banyak orang yang masih mudah melakukan kekerasan terhadap anak. Padahal aturan hukumnya sudah jelas dan ancaman hukumannya juga tinggi,” katanya.

Karena itu, Erry mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat sosialisasi dan edukasi terkait perlindungan anak secara berkelanjutan. Menurutnya, upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum, tetapi harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

“Pemerintah perlu memaksimalkan sosialisasi dan penyuluhan tentang perlindungan anak. Peran masyarakat juga harus dilibatkan agar pengawasan terhadap anak semakin kuat,” ungkapnya.

Erry menegaskan bahwa anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang harus mendapatkan perlindungan maksimal dari segala bentuk kekerasan dan eksploitasi.

“Anak-anak adalah aset bangsa dan calon pemimpin masa depan. Mereka harus mendapatkan perlindungan yang maksimal agar bisa tumbuh dan berkembang dengan baik,” katanya.

LPA Batam berharap kasus kekerasan terhadap anak dapat ditekan melalui langkah pencegahan yang lebih efektif, sehingga Batam dapat menjadi kota yang aman, nyaman, dan ramah bagi tumbuh kembang anak.

“Kami berharap kasus-kasus seperti ini terus berkurang, jangan sampai setiap tahun justru mengalami peningkatan. Semua pihak harus bersama-sama menjaga dan melindungi anak-anak kita,” tutup Erry. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Batam Ramah Anak #kpaid #kekerasan anak