batampos – Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menilai perekonomian Kepri tetap berada pada jalur positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selain menjaga inflasi tetap terkendali, BI terus memperkuat ketahanan pangan, memperluas digitalisasi sistem pembayaran, serta mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Rony Widijarto, mengatakan berbagai program pengendalian inflasi dan penguatan ekonomi daerah terus dijalankan melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, stabilitas harga pangan masih menjadi perhatian utama mengingat karakteristik Kepulauan Riau yang bergantung pada pasokan dari luar daerah.
"Pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha hingga masyarakat agar pasokan dan harga pangan tetap terjaga," kata Rony.
Sepanjang 2026, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah menggelar puluhan operasi pasar dan gerakan pangan murah di berbagai wilayah. Penyaluran beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga terus dilakukan untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok.
Di sektor produksi, BI memberikan dukungan melalui bantuan sarana pertanian, pembangunan greenhouse, fasilitas budidaya perikanan, hingga program sekolah lapang bagi petani dan kelompok usaha pangan. Langkah tersebut bertujuan meningkatkan produksi pangan lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Kunjungan Wisman Meningkat
Selain fokus pada pengendalian inflasi, BI Kepri juga terus mendorong pengembangan sektor pariwisata yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Data BI menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Kepri sepanjang Januari–April 2026 mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Wisatawan asal Singapura mencapai 270.025 orang atau tumbuh 10,88 persen. Wisatawan asal Malaysia sebanyak 144.426 orang atau meningkat 15,68 persen. Sementara itu, kunjungan wisatawan asal Tiongkok melonjak 38,02 persen secara tahunan.
Rony menilai tren positif tersebut harus diikuti dengan penguatan ekosistem ekonomi digital, khususnya di sektor pariwisata dan UMKM.
BI terus memperluas penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di kawasan wisata, pusat kuliner, pelabuhan, hingga destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.
"Peningkatan kunjungan wisatawan merupakan peluang besar untuk mempercepat digitalisasi transaksi. Semakin luas penggunaan QRIS, semakin mudah wisatawan bertransaksi dan semakin besar manfaat ekonomi yang diterima pelaku usaha lokal," ujarnya.
Untuk mempercepat digitalisasi, BI Kepri akan menggelar sejumlah agenda strategis sepanjang 2026, di antaranya QRIS Jelajah Indonesia, Creative and Innovative Riau Islands Carnival (CERNIVAL), Pekan QRIS Nasional, serta Gebyar Melayu Pesisir sebagai ajang promosi UMKM dan ekonomi kreatif daerah.
Ekonomi Kepri Tumbuh di Atas Nasional
Dari sisi makroekonomi, BI mencatat pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan I 2026 mencapai 7,04 persen (year on year). Capaian tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen maupun rata-rata wilayah Sumatera yang tumbuh 5,13 persen.
Pertumbuhan ekonomi Kepri ditopang sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, perdagangan besar dan eceran, serta konstruksi. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong oleh konsumsi pemerintah, investasi, konsumsi rumah tangga, dan ekspor neto.
Batam masih menjadi penyumbang terbesar perekonomian Kepri dengan kontribusi 66,44 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi. Pada 2025, ekonomi Batam tumbuh 6,76 persen, menjadikannya motor utama pertumbuhan ekonomi Kepri.
Rony optimistis kinerja ekonomi Kepri akan tetap terjaga hingga akhir tahun seiring meningkatnya investasi, kunjungan wisatawan, aktivitas industri, serta semakin luasnya digitalisasi ekonomi.
"Ke depan, fokus kami adalah menjaga stabilitas, memperkuat ketahanan pangan, memperluas digitalisasi, dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang terjadi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara luas," pungkasnya. (*)
Editor : Jamil Qasim