Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Kasus IMS di Batam Capai 123, Dinkes Soroti Stigma dan Rendahnya Kesadaran Tes HIV

Rengga Yuliandra • Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35 WIB
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi.
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi.

batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam menghadapi tantangan besar dalam menekan penyebaran HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Selain tingginya mobilitas penduduk sebagai kota perbatasan, stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta rendahnya kesadaran kelompok berisiko untuk menjalani pemeriksaan dini masih menjadi hambatan utama.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengatakan keberhasilan pengendalian HIV dan IMS tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga memerlukan dukungan masyarakat untuk menghapus stigma dan mendorong lebih banyak orang melakukan tes secara sukarela.

"Stigma membuat banyak orang takut memeriksakan diri. Padahal layanan tes HIV maupun pengobatan tersedia secara gratis. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang pasien menjalani hidup sehat sekaligus mencegah penularan kepada orang lain," ujarnya.

Baca Juga: Puluhan Anak di Bintan Ikut Sunatan Massal Gratis, RSJKO EHD Pastikan Pemantauan Pascaoperasi

Data Dinkes Batam menunjukkan, selama Januari hingga Mei 2026 terdapat 123 kasus IMS yang terdeteksi. Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia produktif 25–49 tahun sebanyak 68 kasus, disusul usia 20–24 tahun sebanyak 35 kasus, dan usia 15–19 tahun sebanyak 17 kasus. Berdasarkan jenis kelamin, penderita terdiri atas 71 laki-laki dan 52 perempuan.

Dalam periode yang sama, sebanyak 16.089 orang telah memanfaatkan layanan skrining IMS di fasilitas kesehatan. Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan 123 kasus, dan sebanyak 122 pasien telah mendapatkan pengobatan.

Meski capaian layanan cukup tinggi, Didi mengakui masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah rendahnya kesadaran kelompok populasi kunci, khususnya laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), untuk menjalani pemeriksaan secara rutin.

Selain itu, penyebaran kelompok berisiko di berbagai lokasi menyulitkan petugas melakukan skrining secara menyeluruh. Kondisi tersebut diperparah dengan masih adanya wilayah yang belum memberikan akses kepada tenaga kesehatan untuk melakukan pemeriksaan.

Baca Juga: Ancaman Kabut Asap Meningkat, Singapura Siaga Hadapi Haze Kiriman dari Indonesia pada 2026

Sebagai kota yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, tingginya mobilitas masyarakat Batam juga dinilai meningkatkan kompleksitas pengendalian HIV dan IMS.

Di sisi lain, Dinkes juga masih menghadapi tantangan berupa rendahnya kepatuhan penggunaan kondom dan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP), keterbatasan obat IMS dan bahan medis habis pakai (BMHP), serta masih banyak pasien yang baru datang berobat ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut.

"Pengobatan HIV harus dijalani secara rutin. Jika pasien menghentikan terapi antiretroviral (ARV), risiko resistensi obat akan meningkat sehingga penanganannya menjadi lebih sulit," kata Didi.

Untuk menekan angka penularan, Dinkes Batam terus memperluas layanan skrining HIV dan IMS di seluruh puskesmas maupun rumah sakit. Edukasi kepada kelompok berisiko juga terus ditingkatkan, termasuk kampanye penggunaan kondom, pemanfaatan PrEP, serta upaya menghapus stigma terhadap ODHA.

Baca Juga: 32 Ibu Hamil Ikut Latsarmil, Satu Peserta Melahirkan Saat Pendidikan Berlangsung

Menurut Didi, keberhasilan program pengendalian HIV tidak hanya diukur dari banyaknya kasus yang ditemukan, tetapi juga dari meningkatnya jumlah masyarakat yang bersedia melakukan pemeriksaan, memperoleh pengobatan tepat waktu, dan patuh menjalani terapi hingga tuntas.

"Target kami bukan sekadar menemukan kasus, tetapi memastikan setiap pasien memperoleh pengobatan yang tepat sehingga rantai penularan dapat diputus. Dukungan masyarakat sangat penting untuk mewujudkan target Three Zero, yakni nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma terhadap ODHA," tutupnya. (*)

Editor : M Tahang
#HIV Batam #IMS Batam #kasus HIV Batam 2026 #dinkes batam