batampos – Senja perlahan turun di langit Batam. Cahaya jingga yang menyelimuti Dataran Engku Putri berganti dengan gemerlap lampu panggung yang megah. Ribuan masyarakat telah memadati alun-alun kebanggaan Kota Batam sejak sore, Jumat (3/7), untuk menyaksikan puncak Kenduri Seni Melayu (KSM) 2026.
Anak-anak mengenakan tanjak dan baju kurung berlarian di antara keramaian. Pasangan muda sibuk mengabadikan momen, sementara para orang tua menikmati semilir angin malam ditemani aneka kuliner khas Melayu. Aroma kue tradisional berpadu dengan alunan musik Melayu menciptakan suasana hangat yang menghidupkan semangat kebersamaan.
Malam itu, Batam tak sekadar menjadi tuan rumah sebuah festival. Kota ini menjelma menjadi panggung besar peradaban Melayu.
Selama 27 tahun penyelenggaraannya, Kenduri Seni Melayu telah menjadi ruang perjumpaan budaya Melayu dari berbagai daerah di Indonesia hingga negara-negara serumpun. Tahun ini, delegasi seni dan budaya dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, serta berbagai provinsi di Indonesia seperti Riau, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan turut ambil bagian.
Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa budaya Melayu melampaui batas negara dan tetap hidup sebagai identitas bersama masyarakat serumpun.
Dibuka Tari dan Musik Melayu
Tepat pukul 19.30 WIB, grup Malayustik membuka kemeriahan malam dengan alunan musik Melayu. Tak lama kemudian, layar utama menampilkan perjalanan panjang Kenduri Seni Melayu sejak pertama kali digelar pada 1999 hingga memasuki penyelenggaraan ke-27 tahun ini.
Riwayat tersebut menjadi bukti konsistensi festival yang mampu bertahan melewati berbagai dinamika zaman dan berkembang menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Indonesia.
Suasana semakin semarak ketika Sanggar Pantai Basri menampilkan Tari Jogi yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir Melayu. Penampilan itu disusul Tari Persembahan dari sanggar binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam sebagai bentuk penghormatan kepada seluruh tamu dan delegasi.
Mengusung tema "Menyemai Benih Budaya, Memetik Ranggi Peradaban", Kenduri Seni Melayu kembali menegaskan perannya sebagai ruang pelestarian budaya sekaligus media pewarisan nilai-nilai Melayu kepada generasi muda.
Batam Perkuat Posisi sebagai Kota Budaya
Masuknya Kenduri Seni Melayu ke dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 untuk keempat kalinya semakin mengukuhkan posisi Batam sebagai salah satu pusat kebudayaan Melayu di Indonesia.
Di tengah citranya sebagai kota industri, perdagangan, investasi, dan jasa, Batam menunjukkan bahwa pelestarian budaya tetap menjadi bagian penting dari pembangunan kota.
Atmosfer malam mencapai puncaknya ketika penyanyi legendaris Malaysia, Roslan Madun, membawakan lagu-lagu Melayu bernuansa nostalgia. Ribuan penonton larut bernyanyi bersama, menghadirkan suasana yang seolah menghapus batas antara Indonesia dan Malaysia.
Penampilan maestro tari Indonesia Didik Nini Thowok bersama Sanggar Duta Santarina juga menjadi salah satu sajian paling memikat. Kolaborasi tari, teater, humor, dan ekspresi artistik membuktikan bahwa seni tradisional mampu tampil modern tanpa kehilangan jati dirinya.
Pantun, Tari, hingga Pameran Seni
Kemeriahan berlanjut melalui tradisi Tegak Borak Pantun yang dibawakan Yoan S. Nugraha, Rendra Setyadiharja, dan Zainal Takdir. Berbalas pantun berisi canda, kritik sosial, hingga nasihat kehidupan sukses mengundang gelak tawa sekaligus tepuk tangan panjang dari masyarakat.
Panggung kemudian diisi beragam pertunjukan tari, mulai dari Tari Joget Kenangan Manis asal Tanjungpinang, Tari Manggarak Sisampek Kuansing dari Pekanbaru, hingga penampilan kelompok seni Rimba Rayu dari Sabah, Malaysia.
Tak hanya pertunjukan seni, pengunjung juga dapat menikmati pameran lukisan yang merekam perjalanan Kenduri Seni Melayu sejak pertama kali digelar. Karya para seniman Indonesia dan Jepang menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta seni.
Di sisi lain kawasan festival, puluhan stan UMKM dan bazar kuliner dipadati pengunjung. Festival ini tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat.
Dorong Pariwisata dan Ekonomi
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan sekaligus Asisten Deputi Event Internasional Kementerian Pariwisata RI, Hafiz Agung Rifai, mengatakan Kenduri Seni Melayu merupakan contoh sukses penyelenggaraan event nasional yang mampu menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan festival ini masuk dalam Karisma Event Nusantara selama empat kali berturut-turut menunjukkan kualitas penyelenggaraan yang semakin baik serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi lokal.
Budaya Jadi Ruh Pembangunan Batam
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengaku bersyukur Kenduri Seni Melayu mampu bertahan hingga penyelenggaraan ke-27 tanpa pernah terputus.
Menurutnya, mempertahankan konsistensi sebuah festival budaya selama puluhan tahun bukanlah pekerjaan mudah. Kenduri Seni Melayu merupakan implementasi nyata visi Batam sebagai kota madani yang inovatif, berbudaya, berkeadilan, sekaligus pusat industri, investasi, dan pariwisata.
Ia mengungkapkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam meningkat dari sekitar 1,3 juta menjadi hampir 1,7 juta orang dalam setahun terakhir.
Momentum tersebut, kata Amsakar, akan terus diperkuat melalui berbagai agenda internasional, termasuk penyelenggaraan FIBA 3x3 yang akan diikuti 42 negara pada akhir Juli mendatang.
"Kalau investasi tumbuh luar biasa, masyarakat juga membutuhkan ruang untuk berkesenian. Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan iman hidup menjadi terarah, dan dengan seni hidup menjadi indah," ujar Amsakar disambut tepuk tangan ribuan masyarakat.
Pada kesempatan itu, Pemerintah Kota Batam juga menerima Sertifikat Karisma Event Nusantara sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan Kenduri Seni Melayu.
Menjelang penutupan, Roslan Madun kembali tampil dalam konser bertajuk Lemak Manis bersama Malayustik, Wansendari, dan Givo Dance Studio.
Malam pun ditutup dengan irama musik Melayu yang menggema di Dataran Engku Putri. Bukan sekadar festival, Kenduri Seni Melayu kembali membuktikan dirinya sebagai ruang besar tempat budaya Melayu hidup, berkembang, dan dirayakan bersama.
Di tengah pesatnya perkembangan Batam sebagai kota industri dan investasi, festival ini menjadi pengingat bahwa kota perbatasan tersebut memiliki ruh yang tak pernah pudar: kebudayaan Melayu. Warisan yang terus dijaga, dipentaskan, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (*)
Editor : Jamil Qasim