Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

BP Batam Bangun Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan, Perkuat Identitas Kota Batam

Yashinta • Jumat, 10 Juli 2026 | 15:23 WIB
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, didampingi Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Bundaran Raja Ali Haji Marhum Pulau Bayan di kawasan Bundaran Bandara Hang Nadim, Batu Besar, Jumat (10/7). Proyek yang didanai melalui program CSR tersebut menjadi bagian dari penataan wajah Kota Batam sekaligus penguatan identitas budaya Melayu. Foto: Yashinta / Batam Pos
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, didampingi Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan di kawasan Bundaran Bandara Hang Nadim, Batu Besar, Jumat (10/7). Proyek yang didanai melalui program CSR tersebut menjadi bagian dari penataan wajah Kota Batam sekaligus penguatan identitas budaya Melayu. Foto: Yashinta / Batam Pos

batampos – BP Batam resmi memulai pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan di kawasan Bundaran Bandara Hang Nadim, Batu Besar, Jumat (10/7). Proyek yang didanai melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) ini menjadi bagian dari penataan kawasan perkotaan sekaligus upaya memperkuat identitas budaya Melayu di Kota Batam.

Peresmian pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama yang dipimpin Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, serta dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Lembaga Adat Melayu (LAM), dan pelaku usaha.

Amsakar mengatakan pembangunan bundaran tersebut telah dirancang sejak awal masa kepemimpinannya bersama Li Claudia Chandra. Setelah melalui berbagai pembahasan dan menerima masukan dari sejumlah pihak, termasuk LAM Kota Batam, proyek akhirnya mulai direalisasikan.

"Spirit utama pembangunan ini adalah penataan kota. Kami ingin Batam menjadi kota yang lebih bersih, lebih tertata, dan semakin menarik untuk dikunjungi maupun menjadi tujuan investasi. Ini juga sejalan dengan arahan Presiden agar kota-kota memiliki wajah yang indah dan tidak semrawut," ujar Amsakar.

Mengabadikan Tokoh Sejarah Melayu

Menurut Amsakar, nama Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh penting Kesultanan Riau-Lingga yang pernah menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau.

Selain memiliki peran besar dalam sejarah Melayu, Raja Ali Marhum Pulau Bayan juga memiliki keterkaitan dengan sejarah Batam melalui ayahnya, Raja Isa, yang pernah memimpin wilayah Nongsa dan sekitarnya serta dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri Batam.

Baca Juga: Disdik Tanjungpinang Perpanjang Libur Sekolah, Siswa Masuk Kembali 20 Juli 2026

Amsakar menjelaskan, sebelumnya kawasan tersebut sempat direncanakan menggunakan nama Dataran Putri atau Dataran Laksamana Hang Nadim. Namun, usulan itu diubah agar tidak terjadi dominasi penggunaan nama Hang Nadim yang telah melekat pada bandara internasional dan ikon burung elang laut di kawasan tersebut.

"Kalau semuanya menggunakan nama Hang Nadim, tentu kurang tepat. Karena itu kami memilih mengabadikan nama Raja Ali Marhum Pulau Bayan di gerbang utama masuk Kota Batam sebagai bagian dari penghormatan terhadap sejarah daerah," katanya.

Dibiayai Melalui Program CSR

Seluruh pembangunan bundaran didukung oleh kalangan dunia usaha melalui skema CSR sehingga tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun anggaran pemerintah lainnya.

Amsakar mengapresiasi partisipasi para pelaku usaha yang turut berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur kota.

"Alhamdulillah, sebelum menggunakan APBD maupun dukungan anggaran pemerintah lainnya, pelaku usaha sudah menunjukkan kepeduliannya untuk membantu pembangunan bundaran ini. Setelah selesai dibangun, aset tersebut nantinya akan diserahkan kepada BP Batam untuk dicatat sebagai aset negara," ujarnya.

Pembangunan bundaran diperkirakan menelan biaya miliaran rupiah dan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar sembilan bulan atau pada Februari 2027.

Selain proyek tersebut, BP Batam juga telah menyiapkan desain empat bundaran lainnya sebagai bagian dari program penataan wajah Kota Batam.

"Insyaallah lima bundaran ini akan membuat wajah Batam semakin indah. Desainnya sudah ada, tinggal penyempurnaan jika masih diperlukan," kata Amsakar.

LAM Apresiasi Penguatan Identitas Melayu

Ketua Umum Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam, YM Raja Haji Muhammad Amin Ibni Raja Haji Muhammad, menyampaikan apresiasi atas komitmen BP Batam yang mulai mengakomodasi usulan penamaan jalan dan bundaran menggunakan nama tokoh-tokoh Melayu.

Ia mengungkapkan LAM sebelumnya telah mengusulkan sekitar 46 nama simpang dan bundaran di Kota Batam agar menggunakan nama yang memiliki nilai sejarah dan budaya Melayu.

"Hari ini menjadi tonggak pertama. Kami melihat BP Batam benar-benar memperhatikan usulan tersebut. Ke depan, kami berharap nama-nama simpang dan bundaran yang belum memiliki nilai historis juga dapat disesuaikan dengan budaya Melayu," katanya.

Menurut Amin, langkah tersebut tidak hanya memperkuat identitas Batam sebagai kota berbudaya Melayu, tetapi juga menjadi upaya melestarikan sejarah daerah di tengah pesatnya pembangunan.

"Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada BP Batam. Ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mengangkat kearifan lokal dan menjadikan sejarah Melayu tetap hidup di tengah pembangunan kota," tutupnya. (*)

Editor : Putut Ariyo
#Bundaran Raja Ali Marhum #bp batam #amsakar achmad #batam #bandara hang nadim