Batampos – Setelah puting beliung menerjang kawasan Tanjung Sengkuang, Batam, Rabu (22/7), BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Kondisi atmosfer yang labil masih dapat memicu pertumbuhan awan cumulonimbus secara cepat dan menghasilkan angin kencang.
Koordinator BMKG Hang Nadim Batam Suratman mengatakan, berdasarkan hasil analisis meteorologi, puting beliung yang terjadi di Tanjung Sengkuang dipicu pertumbuhan awan cumulonimbus (CB) yang berkembang sangat cepat. Pertumbuhan awan tersebut didukung kondisi atmosfer yang labil, suhu udara permukaan yang cukup panas, serta kelembapan udara yang tinggi.
“Pertumbuhan awan cumulonimbus berlangsung cepat karena kondisi atmosfer cukup mendukung. Suhu permukaan yang panas, kelembapan tinggi, serta adanya pertemuan dan belokan angin menjadi faktor yang memicu pembentukan awan konvektif,” ujar Suratman, Kamis (24/7/2026).
Baca Juga: Panbil Group, BP Batam dan PLN Batam Tandatangan MoU Percepatan KEK Tanjung Sauh
Ia menjelaskan, di dalam awan cumulonimbus terdapat arus udara naik (updraft) dan arus udara turun (downdraft) yang sangat kuat. Pada kondisi tertentu, sirkulasi udara tersebut dapat membentuk pusaran angin hingga mencapai permukaan.
“Ketika sirkulasi udara di dalam awan sangat kuat, pusaran angin dapat turun ke permukaan dan memicu puting beliung. Fenomena ini biasanya berlangsung singkat, tetapi tetap memiliki potensi menimbulkan kerusakan,” jelasnya.
Suratman mengatakan, masyarakat dapat mengenali sejumlah tanda sebelum puting beliung terjadi. Kondisi tersebut biasanya diawali cuaca yang terasa panas pada pagi hingga siang hari, kemudian udara menjadi lebih lembap dan gerah.
Setelah itu, awan putih dapat tumbuh menjulang tinggi dan berubah menjadi awan gelap. Perubahan tersebut biasanya disertai angin yang bertiup tidak beraturan dan semakin kencang, kemudian diikuti hujan lebat dan suara gemuruh petir.
Baca Juga: Cegah Pernikahan Dini dan Bullying di Sekolah, Kemenag Kepri Sosialisasi ke SMKN 1 Bintan
“Jika masyarakat melihat awan tumbuh dengan cepat dan menjulang tinggi, kemudian berubah menjadi gelap disertai angin yang semakin kencang, kondisi itu perlu diwaspadai. Masyarakat sebaiknya segera mencari tempat yang aman,” katanya.
Menurut Suratman, puting beliung umumnya hanya berlangsung sekitar lima menit. Meski singkat, fenomena tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada bangunan dan tumbuhan di sekitar lokasi. Kecepatan angin dalam fenomena tersebut dapat mencapai sekitar 40 kilometer per jam.
Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, BMKG mengimbau masyarakat tidak berteduh di bawah pohon besar, baliho, maupun bangunan yang kurang kokoh ketika hujan dan angin kencang terjadi.
Masyarakat juga diminta mengamankan barang-barang yang berada di luar rumah agar tidak terbawa angin. Jika terjadi angin kencang disertai hujan, warga diimbau segera berlindung di dalam bangunan yang kokoh.
“Keselamatan harus menjadi prioritas ketika cuaca memburuk. Hindari lokasi yang berisiko, seperti di bawah pohon besar atau dekat baliho. Segera masuk ke bangunan yang kuat apabila angin kencang mulai terjadi,” ungkap Suratman.
Bagi masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan, BMKG juga mengingatkan agar menghentikan sementara kegiatan di laut apabila melihat pertumbuhan awan gelap yang disertai angin kencang. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bagi keselamatan pelayaran maupun aktivitas nelayan.
Saat ini, kondisi cuaca di wilayah Kota Batam masih berpotensi berubah dengan cepat. Pada pagi hari, cuaca umumnya dapat cerah hingga cerah berawan. Namun, pada siang hingga sore hari, pertumbuhan awan konvektif dapat memicu hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang.
Suratman mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi cuaca yang belum terverifikasi. Masyarakat diminta mengikuti perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi Info BMKG yang dapat diakses melalui telepon seluler.
“Informasi cuaca dapat berubah dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi BMKG agar dapat mengetahui potensi cuaca ekstrem dan melakukan antisipasi lebih awal,” tuturnya.
Selain puting beliung, masyarakat juga diminta mewaspadai dampak cuaca ekstrem lainnya, seperti hujan lebat, angin kencang, petir, pohon tumbang, banjir lokal, hingga gelombang tinggi di wilayah perairan.
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, lanjut Suratman, akan terus memantau perkembangan kondisi atmosfer di Batam dan sekitarnya. Peringatan dini akan disampaikan apabila terdapat potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
“Kami terus melakukan pemantauan terhadap kondisi atmosfer. Apabila ada potensi cuaca ekstrem yang perlu diwaspadai, informasi dan peringatan dini akan segera disampaikan kepada masyarakat,” pungkasnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak