Aroma Menyengat Sambut Pengguna Jalan, Sampah Menumpuk di Yos Sudarso

Muhammad Syahban • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 20:31 WIB
Pengendara roda dua dan roda empat melintas di depan tumpukan sampah liar di tepi Jalan Yos Sudarso, Batuampar, Jumat (24/7). Foto: M. Sya
Pengendara roda dua dan roda empat melintas di depan tumpukan sampah liar di tepi Jalan Yos Sudarso, Batuampar, Jumat (24/7). Foto: M. Sya'ban / Batam Pos

batampos – Spanduk bertuliskan "Dilarang Membuang Sampah" masih berdiri di tepi Jalan Yos Sudarso, Batuampar. Namun, tepat di bawahnya, tumpukan sampah justru kembali menggunung.

Pemandangan tersebut terlihat di pertigaan samping PT Trakindo, jalur utama yang menghubungkan Pelabuhan Batuampar dengan kawasan Bengkong dan Batam Centre. Berbagai jenis sampah, mulai dari ban bekas, kursi rusak, botol plastik, hingga sisa makanan, bercampur menjadi satu dan menimbulkan aroma tidak sedap.

Ironisnya, lokasi tersebut berada di salah satu jalan protokol Kota Batam yang setiap hari dilalui kendaraan logistik dari pelabuhan, pekerja kawasan industri, hingga wisatawan yang baru tiba di kota ini.

Baca Juga: BP Batam Janjikan Layanan Investasi 24 Jam, Sambut Operasional Pabrik DBG Technology

Pantauan Batam Pos, Jumat (24/7), menunjukkan tumpukan sampah telah memenuhi bahu jalan. Sebagian bahkan tampak dibakar, diduga untuk mengurangi volume sampah yang mulai meluber hingga ke badan jalan. Sisa abu, plastik meleleh, dan bau menyengat justru memperparah kesan kumuh serta mengganggu kenyamanan pengguna jalan.

Warga sekitar, Fahrul Mangihut, menilai persoalan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Menurutnya, minimnya fasilitas tempat pembuangan sampah (TPS) dan lambannya proses pengangkutan menjadi faktor yang turut memicu munculnya titik-titik pembuangan liar.

"Itu bukan salah warga sepenuhnya. Mereka terpaksa karena minim TPS dan pengangkutan sampah dari DLH juga lambat," ujarnya.

Ia menilai pemasangan spanduk larangan tidak akan efektif apabila tidak diikuti penyediaan fasilitas yang memadai.

Baca Juga: Mahasiswa KKN UMRAH Belajar Jurnalistik di Batam Pos, Bedakan Berita dan Hoaks

Menurut Fahrul, lokasi tersebut sudah lama menjadi titik pembuangan liar. Meski beberapa kali dibersihkan, sampah kembali menumpuk hanya dalam hitungan hari.

"Sudah sering dibersihkan, tetapi tidak lama kemudian sampah menumpuk lagi. Banyak yang mengeluh, tapi sampai sekarang belum ada solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah ini," katanya.

Akibat kondisi tersebut, wajah Batam sebagai kota industri dan pintu gerbang investasi dinilai tercoreng oleh pemandangan yang tidak sedap di salah satu jalur strategis menuju Pelabuhan Batuampar.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Dohar Mangalondo Hasibuan, mengakui lokasi di Jalan Yos Sudarso memang kerap menjadi tempat pembuangan sampah liar.

Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah belum tersedianya TPS resmi yang mudah dijangkau masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

"Karena itu, dalam waktu dekat kami mendorong pembangunan TPS di setiap kawasan perumahan agar masyarakat tidak lagi membuang sampah di pinggir jalan," kata Dohar.

Namun, ia mengakui rencana tersebut masih menghadapi kendala karena tidak semua warga bersedia menerima keberadaan TPS di lingkungan tempat tinggalnya.

"Ada yang menerima, ada juga yang menolak," ujarnya.

DLH memastikan apabila pembangunan TPS dapat direalisasikan, mekanisme retribusi persampahan tidak akan berubah. Warga tetap dikenakan iuran sebesar Rp7.000 per rumah sesuai ketentuan yang berlaku.

Meski demikian, Dohar belum dapat memastikan kapan pembangunan TPS di kawasan permukiman akan mulai dilaksanakan.

"Iuran retribusinya tetap sama. Dalam waktu dekat akan kami bangun (TPS)," pungkasnya. (*)

Editor : Jamil Qasim
sampah Aroma Menyengat