batampos – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam yang juga Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memastikan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco-City tetap berlanjut meski rencana investasi perusahaan kaca asal Tiongkok, Xinyi Glass, batal direalisasikan.
Menurut Amsakar, Rempang Eco-City tidak hanya dirancang sebagai kawasan industri dan investasi, tetapi juga sebagai pembangunan ekosistem baru yang mengintegrasikan permukiman, fasilitas publik, pendidikan, hingga pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
“Soal dibangun atau tidak, itu hanya persoalan waktu. Pada akhirnya juga akan tetap dibangun,” ujar Amsakar kepada Batam Pos usai rapat paripurna di Gedung DPRD Kota Batam, Senin (3/8).
Baca Juga: BGN Copot 137 Kepala SPPG di Seluruh Indonesia, Tegaskan Zero Tolerance pada Pelanggaran MBG
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah masih adanya penolakan dari sebagian warga terhadap proyek Rempang Eco-City. Amsakar menegaskan, pemerintah terus berupaya memastikan pembangunan kawasan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat Rempang dan Galang, bukan hanya berorientasi pada investasi.
Ia menjelaskan, konsep yang dikembangkan pemerintah adalah membangun ekosistem ekonomi baru yang berjalan beriringan dengan penataan permukiman dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.
“Yang ingin kami bangun adalah sesuatu yang bisa menumbuhkan ekosistem. Jadi bukan hanya membangun kawasan, tetapi membangun kehidupan ekonomi yang saling mendukung,” katanya.
Amsakar menyebut konsep pembangunan Rempang Eco-City mendapat perhatian di tingkat nasional. Bahkan, dirinya beberapa kali diminta menjelaskan pendekatan pembangunan kawasan tersebut dalam berbagai forum.
Baca Juga: Ekonom Soroti Kebocoran Fiskal, Dorong Penguatan Pengawasan dan Penegakan Hukum
Menurut dia, kawasan Rempang nantinya tidak hanya berisi investasi industri, tetapi juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti permukiman dengan status kepemilikan yang jelas, pelabuhan, kampung nelayan, bantuan sektor pertanian dan perikanan, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, hingga kantor pelayanan pemerintahan.
“Di situ ada permukiman yang dibangun pemerintah, ada pelabuhan yang sangat baik, ada kampung nelayan yang mengakomodasi masyarakat, bantuan bibit pertanian dan perikanan, bantuan perahu, mesin tempel, sekolah, masjid, gereja, hingga kantor pemerintahan,” ujarnya.
Selain pembangunan fisik, Amsakar menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengembangan kawasan tersebut. Karena itu, pemerintah menyiapkan pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih yang diharapkan menjadi salah satu fondasi pendidikan bagi masyarakat Rempang.
Sekolah dengan konsep boarding school tersebut, kata Amsakar, diharapkan mampu mencetak generasi muda yang siap mengisi kebutuhan tenaga kerja di kawasan industri maupun sektor ekonomi lainnya.
“Kalau ekosistem ini diikuti dengan pengembangan sumber daya manusia melalui sekolah terintegrasi, saya pikir itu bisa menjawab kebutuhan masyarakat di sana untuk mempersiapkan generasi yang unggul,” katanya.
Selain fasilitas publik, pemerintah juga membuka ruang bagi badan usaha dan investor untuk mengembangkan berbagai aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
“Nanti akan dibangun area-area tertentu untuk badan usaha dan pelaku usaha. Tentu kami membutuhkan pergerakan ekonomi, sirkulasi ekonomi, membutuhkan tenaga kerja, bahkan membutuhkan ekosistem yang saling memperkuat,” jelasnya.
Amsakar berharap masyarakat Rempang dapat menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi yang akan berkembang di kawasan tersebut, bukan hanya menjadi penonton.
“Saya berharap sumber daya manusia di sana nantinya ikut masuk ke dalam ekosistem itu,” ujarnya.
Xinyi Glass Batal Investasi Rp381 Triliun
Terkait batalnya rencana investasi Xinyi Glass yang sebelumnya disebut mencapai Rp381 triliun, Amsakar enggan memberikan komentar secara teknis.
“Secara teknis kami tidak sampai ke sana. Kami hanya berbicara dalam konteks PSN. PSN itu judulnya Rempang Eco-City,” katanya.
Ia menjelaskan, manfaat pembangunan Rempang Eco-City baru akan dirasakan masyarakat setelah berbagai proyek yang direncanakan selesai dibangun dan mulai beroperasi.
“Kalau semuanya sudah merasa aman dan nyaman, investasinya sudah terbangun, saat itulah masyarakat bisa merasakan manfaatnya. Kalau belum terbangun, tentu saja belum,” ujarnya.
Amsakar juga belum memastikan target waktu penyelesaian seluruh kawasan Rempang Eco-City karena sebagian pembangunan bergantung pada realisasi investasi dari pelaku usaha.
Menurut dia, fokus pemerintah saat ini adalah menyelesaikan pembangunan permukiman, fasilitas pendidikan, serta perkantoran sebagai fondasi awal pengembangan kawasan.
“Yang paling penting suasana permukimannya selesai, sekolah yang kami rencanakan selesai, dan perkantoran yang kami rencanakan selesai. Yang lain tergantung bagaimana pelaku usaha mengembangkan PSN ke depan,” katanya.
Pemerintah berharap Rempang Eco-City nantinya tidak hanya menjadi pusat investasi baru di Batam, tetapi juga kawasan terpadu yang menghubungkan sektor industri, permukiman, pendidikan, pelayanan publik, serta aktivitas ekonomi masyarakat lokal. (*)
Editor : Jamil Qasim