Batam Makin Panas, BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla

Abdul Azis Maulana • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:14 WIB
Cuaca panas melanda Eropa. (Freepik)
Cuaca panas melanda. (Freepik)

 
batampos
- Suhu udara Batam yang mencapai 33 derajat Celsius dalam sepekan terakhir membuat cuaca terasa semakin panas dan gerah. Di tengah curah hujan yang terbatas, kondisi tersebut turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Hang Nadim Batam mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kondisi panas tersebut sekadar gangguan kenyamanan. Minimnya hujan dapat membuat vegetasi dan sejumlah lahan menjadi lebih kering sehingga mudah terbakar apabila terkena sumber api.

Kepala BMKG Kelas I Hang Nadim Batam Ramelan mengatakan, cuaca di Batam dalam beberapa hari terakhir memang didominasi kondisi panas dan gerah. Suhu maksimum tercatat mencapai 33 derajat Celsius.

“Belakangan ini cuaca di Batam dominan gerah dan panas. Bahkan suhu udara mencapai 33 derajat Celsius. Kondisi ini sudah berlangsung dalam sepekan terakhir,” kata Ramelan, Selasa (11/8).

Menurut Ramelan, curah hujan yang terbatas membuat kondisi lingkungan perlu mendapat perhatian. Vegetasi dan lahan yang mengering akan lebih mudah terbakar apabila terkena sumber api, terutama di kawasan yang dipenuhi semak atau material mudah terbakar.

Baca Juga: Pengembangan Panas Bumi Indonesia Butuh Kolaborasi Pemerintah dan Investor

Ancaman tersebut, kata dia, tidak selalu bermula dari kebakaran besar. Kelalaian seperti membakar sampah, membakar semak, atau membuang puntung rokok sembarangan dapat menjadi pemicu kebakaran.

“Dengan adanya kondisi cuaca saat ini yang cenderung kering dan sedikit hujan dapat menyebabkan hal-hal yang tidak kita inginkan, antara lain karhutla,” ujarnya.

BMKG meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran secara terbuka. Aktivitas membuka lahan perkebunan dengan cara membakar juga perlu dihindari.

“Jangan membuang sampah sembarangan, tidak membakar sampah atau semak sembarangan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan tidak membuka lahan perkebunan dengan cara membakar,” kata Ramelan.

Masyarakat juga diminta ikut mengawasi kondisi lingkungan sekitar. Jika menemukan titik api atau kebakaran lahan, warga diharapkan segera melaporkannya dan membantu penanganan sesuai kemampuan dengan tetap mengutamakan keselamatan.

Meski panas masih mendominasi, BMKG tidak menutup peluang turunnya hujan. Namun, hujan yang terjadi diperkirakan bersifat lokal dan tidak merata. Sebagian wilayah dapat diguyur hujan, sementara wilayah lain masih mengalami cuaca panas.

Pola tersebut membuat kondisi cuaca di Kepulauan Riau dapat berubah dengan cepat. Hujan yang turun beberapa hari belum tentu mengakhiri periode panas karena kondisi kering dapat kembali terjadi setelahnya.

Untuk potensi kekeringan di wilayah Kepulauan Riau, Ramelan mengatakan peluangnya tetap ada. Namun, berdasarkan kondisi saat ini, tingkat kekeringan belum menunjukkan ancaman yang signifikan.

“Kalau untuk wilayah Kepri ada potensi, tapi tidak terlalu signifikan,” ujarnya.

Kendati demikian, BMKG meminta masyarakat tidak lengah. Dalam kondisi panas dan kering, sumber api yang tidak terkendali dapat dengan cepat menjalar, terutama di lahan yang ditumbuhi semak dan vegetasi kering.

Cuaca panas tidak hanya menjadi persoalan kenyamanan. Kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa kebakaran lahan dapat bermula dari aktivitas manusia yang dianggap sepele.

Editor : Yofi Yuhendri
BMKG Batam batam karhutla panas cuaca