batampos - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus memperkuat keterhubungan pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak lagi hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan, tetapi juga menyiapkan tenaga kerja yang sejak di bangku sekolah telah mengenal kebutuhan, standar, dan budaya kerja industri.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Andi Agung, mengatakan kemitraan antara SMK dan dunia industri diarahkan untuk memperbesar peluang lulusan terserap langsung ke pasar kerja.
“Kerja sama dengan industri tidak hanya sebatas MoU, tetapi juga mencakup penyusunan kurikulum, program magang, guru tamu dari industri hingga penyerapan lulusan,” kata Andi Agung, Selasa (18/8/2026).
Menurut dia, pemerintah bersama Kementerian Pendidikan telah menetapkan sejumlah bidang keahlian SMK sebagai sektor prioritas. Penentuan bidang tersebut disesuaikan dengan perkembangan kawasan industri di Kepri, terutama Batam, Bintan, dan Karimun.
Perusahaan dilibatkan dalam penyusunan materi pembelajaran agar kompetensi yang diajarkan di sekolah tetap relevan dengan kebutuhan lapangan.
Siswa juga diberi kesempatan menjalani praktik kerja lapangan melalui program magang. Sementara itu, praktisi industri dilibatkan sebagai guru tamu di sekolah.
Pola tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara pembelajaran di ruang kelas dan kebutuhan lingkungan kerja.
Dengan pengalaman yang diperoleh sejak sekolah, lulusan diharapkan tidak lagi memulai dari nol ketika memasuki dunia kerja.
“Harapannya, ketika lulus mereka tidak lagi membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja karena sudah mendapatkan pengalaman dan kompetensi yang sesuai,” ujarnya.
12 SMK Negeri di Batam Punya 450 Mitra Industri
Data Dinas Pendidikan Kepri menunjukkan kemitraan antara SMK negeri dan dunia industri telah tersebar di seluruh kabupaten dan kota.
Batam menjadi daerah dengan jumlah kerja sama terbanyak. Sebanyak 12 SMK negeri di Batam tercatat memiliki sekitar 450 kemitraan dengan industri.
Baca Juga: Tiga Gunung Api di Indonesia Erupsi Bersamaan
SMK Negeri 5 Batam menjadi salah satu sekolah dengan jumlah kerja sama terbanyak, yakni 110 kemitraan.
Berikutnya, SMK Negeri 11 Batam memiliki 60 kerja sama, SMK Negeri 10 Batam sebanyak 43, dan SMK Negeri 1 Batam sebanyak 42 kerja sama.
Sementara itu, SMK Negeri 7 dan SMK Negeri 8 Batam masing-masing memiliki 34 kerja sama dengan industri.
Di Bintan, empat SMK negeri memiliki total 195 kerja sama. Sementara di Karimun, lima SMK tercatat memiliki 135 kemitraan.
Adapun lima SMK negeri di Natuna memiliki 49 kerja sama. Kemitraan juga terdapat di Lingga dan Kepulauan Anambas.
Empat SMK di Lingga memiliki 29 kerja sama, sedangkan empat SMK di Anambas tercatat memiliki sekitar 40 kemitraan.
Jumlah tersebut menjadi bagian dari strategi link and match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan pasar kerja.
Disesuaikan dengan Karakter Ekonomi Daerah
Pemprov Kepri menyadari kebutuhan industri di setiap daerah tidak seragam. Karena itu, arah pendidikan vokasi disesuaikan dengan karakter ekonomi masing-masing kawasan.
Untuk kawasan Batam-Bintan-Karimun, pendidikan SMK diarahkan untuk menopang industri berskala besar.
Bidang yang dikembangkan antara lain manufaktur berteknologi tinggi, minyak dan gas, galangan kapal, hingga pariwisata.
Sementara itu, wilayah Natuna, Anambas, dan Lingga (NAL) memiliki pendekatan berbeda.
Pendidikan vokasi di wilayah tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, pemanfaatan sumber daya maritim, serta digitalisasi pelayanan daerah.
“Untuk wilayah NAL, fokusnya tidak hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi juga mendorong lahirnya wirausahawan muda lokal agar potensi komoditas laut dan pertanian bisa diolah dan memiliki nilai tambah,” kata Andi Agung.
Dengan pendekatan berbasis karakter wilayah, pemerintah berharap SMK tidak hanya menghasilkan pencari kerja.
Pendidikan vokasi juga diharapkan mampu melahirkan tenaga terampil yang relevan dengan kebutuhan industri sekaligus calon pengusaha yang mampu mengolah potensi ekonomi daerah.
Pemprov Kepri kini mendorong perluasan kemitraan antara SMK dan dunia industri. Targetnya bukan sekadar memperbanyak nota kesepahaman, tetapi memastikan setiap kerja sama memberikan manfaat nyata bagi siswa, mulai dari pembelajaran, magang, peningkatan kompetensi hingga peluang penyerapan lulusan. (*)
Editor : Putut Ariyo