Batam Aero Engine Resmi Beroperasi, Perkuat Kemandirian MRO Pesawat Indonesia

Abdul Azis Maulana • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:44 WIB
Wakil Ketua MPR RI Rusdi Kirana  bersama Kepala BP Batam Amaakar Achmad , Presiden Furectur Lion Group Capt Daniel Putut Kuncoro Adi, Direktur Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Sokhib Al Rokhman meresmikan peluncuran Batam Aero  Engine di hanggar F Batam Aero Tehnic kawasan Bandara Internasional Yang Nadim Batam, Rabu (19/8). F Cecep Mulyana/Batam Pos
Wakil Ketua MPR RI Rusdi Kirana bersama Kepala BP Batam Amaakar Achmad , Presiden Furectur Lion Group Capt Daniel Putut Kuncoro Adi, Direktur Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Sokhib Al Rokhman meresmikan peluncuran Batam Aero Engine di hanggar F Batam Aero Tehnic kawasan Bandara Internasional Yang Nadim Batam, Rabu (19/8). F Cecep Mulyana/Batam Pos

 
batampos - Indonesia mulai memperkuat kemampuan perawatan mesin pesawat di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap fasilitas Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) di luar negeri. Langkah tersebut ditandai dengan resmi diluncurkannya Batam Aero Engine (BAE) di Hangar F Batam Aero Technic, Batam, Rabu (19/8).

BAE merupakan fasilitas MRO yang disiapkan untuk menangani mesin pesawat jet, propeller/turboprop, serta Auxiliary Power Unit (APU). Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari pengembangan ekosistem industri penerbangan di Batam.

Selain memenuhi kebutuhan perawatan mesin pesawat, BAE diharapkan membuka peluang pengembangan tenaga terampil, pendidikan dan pelatihan aviasi, serta memperluas pasar jasa MRO Indonesia di kawasan Asia.

President Director Lion Group Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi mengatakan kemampuan Indonesia dalam menangani perawatan mesin pesawat masih terbatas. Kehadiran BAE menjadi salah satu upaya memperkuat kapasitas industri penerbangan nasional.

“Di Batam, Kepulauan Riau, kita bisa membuat satu teknologi yang merawat mesin-mesin pesawat,” kata Daniel saat peluncuran BAE.

Baca Juga: Cara Cek Desil BPS 2026 untuk Bansos dan Subsidi Pertalite

BAE tidak hanya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan armada Lion Group. Fasilitas tersebut telah memperoleh sertifikasi dari sejumlah negara, antara lain Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan India.

“Sertifikasi itu membuka peluang bagi maskapai dari negara-negara tersebut membawa mesin pesawatnya ke Batam untuk menjalani perawatan,” katanya.

Daniel mengatakan BAE memiliki spesifikasi yang disetujui Kementerian Perhubungan untuk menangani sejumlah tipe mesin pesawat, termasuk yang digunakan pada pesawat Airbus dan Boeing.

Menurut dia, semakin banyak kemampuan perawatan yang dapat dilakukan di dalam negeri, semakin kecil ketergantungan industri penerbangan nasional terhadap fasilitas MRO di luar Indonesia.

“Harapannya, semakin banyak kemampuan yang dapat dibangun di Indonesia, khususnya Batam Aero Engine, sehingga semakin kuat industri penerbangan nasional,” ujarnya.

Pengembangan BAE juga diikuti kebutuhan memperluas kawasan industri. Daniel mengatakan Batam Aero Technic saat ini memiliki sekitar 5.761 pegawai secara kumulatif. Sekitar 2.000 di antaranya bekerja di Batam.

Pertumbuhan tenaga kerja tersebut turut mendorong kebutuhan kawasan pendukung, termasuk hunian bagi pekerja. Perusahaan telah berkomunikasi dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam mengenai kebutuhan tambahan lahan.

BAE sebelumnya mengajukan kebutuhan lahan sekitar 30 hektare. Kini perusahaan kembali mengajukan tambahan sekitar 19 hektare untuk mendukung pengembangan usaha.

“Kami intens berkomunikasi dengan BP Batam supaya paling tidak 19 hektare yang kami rencanakan bisa didapatkan,” katanya.

Baca Juga: 12 SMK Negeri di Batam Punya 450 Mitra Industri, Ini Bidang yang Dikembangkan

Direktur Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan Sokhib Al Rokhman mengatakan penerbitan sertifikat AMO 145 untuk PT Batam Aero Engine menunjukkan perusahaan tersebut telah memenuhi persyaratan keselamatan, kualitas, dan standar kelaikudaraan sesuai regulasi penerbangan sipil.

Menurut Sokhib, pembangunan kemampuan MRO di dalam negeri merupakan bagian penting dari agenda kemandirian industri penerbangan. Indonesia perlu memperluas kemampuan perawatan pesawat, tidak hanya pada airframe, tetapi juga mesin.

“Semangat Kemerdekaan ke-81 tahun ini kita canangkan Indonesia harus merdeka melakukan maintenance airframe 100 persen dalam negeri,” katanya.

Tahap berikutnya adalah memperkuat kemampuan engine maintenance. Kebutuhan tersebut semakin mendesak karena antrean perawatan mesin pesawat masih panjang.

Untuk jenis pekerjaan overhaul tertentu, antreannya bahkan dapat mencapai hampir dua tahun. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya pasar MRO mesin pesawat sekaligus peluang yang selama ini banyak dikerjakan di luar negeri.

Sokhib menilai BAE dapat menjadi salah satu jawaban atas persoalan tersebut. Ia berharap Batam tidak berhenti sebagai lokasi fasilitas MRO, tetapi berkembang menjadi hub perawatan pesawat regional yang efisien, responsif, dan mampu bersaing di pasar Asia.

“Kompetisi Batam Aero Engine ini menjadi hal yang mandatory untuk kita kerjakan di dalam negeri,” ujarnya.

Penguatan MRO domestik juga berpotensi mengurangi biaya yang harus dikeluarkan maskapai untuk mengirim mesin ke fasilitas perawatan di luar negeri. Dengan demikian, devisa yang sebelumnya mengalir ke luar negeri dapat ditekan dan sebagian aktivitas ekonomi tetap berputar di dalam negeri.

Kepala BP Batam Amsakar Achmad menyambut kehadiran BAE sebagai bagian dari pertumbuhan industri bernilai tambah di Batam. Ia menilai Batam Aero Technic merupakan salah satu kawasan ekonomi yang aktif memberikan dampak terhadap perekonomian daerah.

“Ketika Batam Aero Technic kemudian akan melahirkan lagi Batam Aero Engine, ini sesuatu yang patut kita dukung dan apresiasi,” kata Amsakar.

Menurut dia, dampak investasi tersebut tidak berhenti pada nilai modal yang ditanamkan. Industri MRO membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan khusus dan membentuk ekosistem pendukung, mulai dari pendidikan dan pelatihan hingga hunian pekerja.

Amsakar menilai pola pengembangan industri seperti yang dilakukan Lion Group berbeda dengan pertumbuhan penduduk yang tidak selalu diikuti peningkatan keterampilan dan kesempatan kerja.

“Yang dilakukan Lion Air ini terbalik. Tenaga kerjanya dipersiapkan, perumahan diberikan, gaji yang layak, dan tentu saja menjadi warga yang produktif di Kota Batam,” ujarnya.

Ia berharap pola tersebut menjadi contoh bagi investor lain yang hendak mengembangkan usaha di Batam.

Dari sisi ekonomi, Batam mencatat pertumbuhan 6,76 persen pada 2025, naik dari 6,69 persen pada tahun sebelumnya. Realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp69,3 triliun atau sekitar 115,3 persen dari target.

Pada semester pertama 2026, realisasi investasi Batam mencapai Rp29,89 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 62,75 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat Rp18,37 triliun.

“Ini semua karena didukung oleh pelaku usaha yang produktif seperti yang hari ini Batam Aero Engine tunjukkan kepada kita,” kata Amsakar.

Kehadiran BAE dengan demikian bukan sekadar penambahan fasilitas perawatan mesin pesawat. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan Batam sebagai salah satu simpul baru industri MRO pesawat di kawasan Asia. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
industri penerbangan Batam Aero Engine MRO pesawat Batam Aero Technic investasi batam