batampos – Pemerintah Kota (Pemko) Batam menyiapkan 82 jenis pelatihan berbasis kompetensi bagi 1.984 tenaga kerja dan calon tenaga kerja sepanjang 2026. Program yang dibiayai melalui APBD Kota Batam ini ditujukan untuk meningkatkan keterampilan warga sekaligus menyesuaikan kompetensi tenaga kerja lokal dengan kebutuhan industri.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Batam Rudi Panjaitan mengatakan, hingga saat ini 32 jenis pelatihan telah berjalan. Sementara pelatihan lainnya masih dalam tahap persiapan dan seleksi peserta.
“Sudah 32 jenis pelatihan yang berjalan. Sisanya masih dalam tahap persiapan dan seleksi peserta,” kata Rudi kepada Batam Pos, Kamis (20/8) siang.
Menurut Rudi, penerimaan peserta dilakukan melalui pendaftaran secara daring yang dilanjutkan dengan proses seleksi.
“Melalui pendaftaran online dan seleksi,” ujarnya.
Seluruh proses pelatihan, mulai dari pendaftaran hingga pelaksanaan, tidak dipungut biaya. Syarat utamanya, peserta merupakan warga yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Batam.
Dari Pengelasan hingga Bahasa Asing
Jenis pelatihan yang ditawarkan cukup beragam. Pemko Batam tidak hanya menyasar keterampilan teknis yang dibutuhkan sektor industri, tetapi juga membuka pelatihan di bidang jasa, teknologi, bahasa, keselamatan kerja hingga industri kreatif.
Sejumlah pelatihan yang tersedia antara lain Accounting Level 1, Ahli K3 Umum, AutoCAD, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Mandarin, Desain Grafis, Digital Marketing UMKM, Editor Produk Multimedia, Electrical Technician, Fitter Pipe, Fitter Structure, Food and Beverage, Forklift, Human Capital, Jasa Boga, Web Development, pengelasan 3G hingga 6G, mekanik motor roda dua, menjahit, Mobile Programming, Operator Excavator, Operator Komputer, Public Speaking, Rigger, Scaffolding, Security, Tata Boga, Tata Rias, Teknisi Jaringan Komputer, Web Programming, serta berbagai pelatihan welder.
Namun, sejumlah pelatihan memiliki persyaratan khusus. Beberapa program menetapkan kualifikasi pendidikan maupun pengalaman kerja tertentu.
Pelatihan HRD Pariwisata, Ahli K3 Umum, Operator K3, Operator K3 Migas, Pengawas K3 Migas, dan Petugas K3, misalnya, mensyaratkan pendidikan minimal Diploma 3.
Sementara pelatihan Teknisi K3 Listrik lebih diarahkan kepada peserta yang memiliki latar belakang pendidikan atau kompetensi di bidang kelistrikan.
Untuk pelatihan pengelasan 4G, 5G hingga 6G, peserta yang telah memiliki pengalaman pada kompetensi Welder Dasar maupun Las 1G, 2G, dan 3G mendapat prioritas.
Disesuaikan dengan Kebutuhan Industri
Program pelatihan berbasis kompetensi tersebut dirancang untuk memperbesar peluang warga Batam masuk ke pasar kerja. Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan dasar, tetapi juga diarahkan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan perkembangan industri.
Kebutuhan peningkatan kompetensi dinilai penting bagi Batam yang memiliki karakter sebagai kota industri dengan kebutuhan tenaga kerja dari berbagai sektor.
Dunia usaha membutuhkan pekerja dengan keterampilan yang semakin spesifik, terutama di bidang teknik, keselamatan kerja, teknologi informasi, dan jasa.
Pemko Batam berharap pelatihan tersebut dapat menjadi jembatan antara pencari kerja dengan kebutuhan industri. Bagi warga yang sudah bekerja, keterampilan baru juga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan membuka peluang pengembangan karier.
Program tersebut juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha mandiri dan masuk ke sektor industri kreatif. Di antaranya melalui pelatihan desain grafis, digital marketing, tata boga, menjahit, pengembangan aplikasi hingga pembuatan situs web.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad sebelumnya mengatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pembangunan Batam. Pemerintah, kata dia, perlu memastikan masyarakat lokal memiliki kemampuan yang sesuai dengan perkembangan ekonomi dan kebutuhan dunia usaha.
“Ini bagian dari komitmen kita untuk menyiapkan tenaga kerja Batam agar semakin kompeten dan mampu bersaing,” kata Amsakar.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah warga yang mengikuti pelatihan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesempatan kerja dan peningkatan daya saing tenaga kerja lokal. (*)
Editor : Jamil Qasim