batampos – PT Air Batam Hilir (ABH) akhirnya merespons keluhan warga Kampung Tua Dapur 12, Kelurahan Seipelunggut, Kecamatan Sagulung, yang mengalami krisis air bersih selama lebih dari satu tahun. Perusahaan menyampaikan permohonan maaf dan memastikan tengah melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi air untuk mencari solusi pemerataan pasokan di wilayah tersebut.
Keluhan paling banyak disampaikan warga RT 01, RT 02, dan RT 03/RW 09. Mereka mengaku aliran air sangat kecil bahkan kerap tidak mengalir sama sekali, sehingga terpaksa membeli air dengan harga mencapai Rp100 ribu per meter kubik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Hubungan Masyarakat PT Air Batam Hilir, Ginda Alamsyah, mengatakan persoalan distribusi air tidak hanya dipengaruhi ketersediaan air baku, tetapi juga pertumbuhan jumlah pelanggan, kapasitas jaringan perpipaan, serta tekanan air dalam sistem distribusi.
"PT Air Batam Hilir memahami dan menyampaikan permohonan maaf atas kondisi pelayanan air yang dirasakan masyarakat di Kampung Tua Dapur 12," ujar Ginda, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, peningkatan kebutuhan masyarakat membuat sistem penyediaan air harus diperkuat secara menyeluruh melalui penambahan kapasitas, pengembangan jaringan perpipaan, hingga penataan tekanan distribusi.
Ia menjelaskan, kawasan yang berada di ujung jaringan atau memiliki elevasi lebih tinggi umumnya menerima tekanan air yang lebih rendah dibandingkan wilayah lain.
Untuk mengatasi persoalan di Kampung Tua Dapur 12, PT ABH saat ini berkoordinasi dengan Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM) Batam guna mengevaluasi kondisi teknis jaringan dan menentukan langkah penanganan.
"Program penguatan dan pengembangan sistem distribusi menjadi salah satu langkah strategis yang sedang dipersiapkan untuk meningkatkan pemerataan suplai air di wilayah tersebut," katanya.
Meski demikian, PT ABH belum dapat memastikan kapan pekerjaan penguatan jaringan akan dimulai maupun kapan pasokan air kembali normal.
Warga Sudah Berulang Kali Mengadu
Sebelumnya, warga mengaku telah berulang kali melaporkan persoalan tersebut kepada PT Air Batam Hilir. Pengurus RT bahkan telah mengirimkan surat pengaduan pada Juli 2026 serta meminta bantuan distribusi air menggunakan mobil tangki.
Ketua RT 02/RW 09, Mursidi, mengatakan berbagai laporan tersebut belum membuahkan hasil yang dirasakan masyarakat. Sebagian warga terpaksa mengambil air dari rumah kerabat atau kawasan perumahan lain.
Menanggapi hal itu, Ginda memastikan setiap laporan masyarakat diproses sesuai prosedur dan menjadi dasar verifikasi di lapangan.
"Untuk pengaduan warga Kampung Tua Dapur 12, kami akan memastikan proses tindak lanjut dan koordinasi teknis dilakukan agar kondisi yang disampaikan masyarakat menjadi bagian dari evaluasi penanganan pelayanan di wilayah tersebut," ujarnya.
PT ABH juga menjelaskan bahwa distribusi air menggunakan mobil tangki hanya bersifat sementara untuk memenuhi kebutuhan mendesak dan bergantung pada tingkat urgensi serta ketersediaan armada.
Penggunaan Pompa Dinilai Perparah Distribusi
Perusahaan juga menyoroti penggunaan pompa air oleh sebagian pelanggan yang dinilai dapat memperburuk distribusi di kawasan dengan tekanan rendah.
Menurut Ginda, pelanggan yang menggunakan pompa berpotensi memperoleh debit air lebih besar dibanding pelanggan lain sehingga pasokan di titik lain semakin berkurang.
"Penanganannya tidak cukup hanya pada satu titik pelanggan, tetapi perlu mempertimbangkan sistem distribusi di wilayah tersebut secara menyeluruh," jelasnya.
Ia menambahkan, perbedaan suplai antara Kampung Tua Dapur 12 dan sejumlah perumahan di sekitarnya dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari posisi jaringan, elevasi wilayah, diameter pipa, hingga jarak dari sumber distribusi.
Warga Berharap Solusi Nyata
Lebih dari 500 kepala keluarga di RT 01, RT 02, dan RT 03/RW 09 terdampak krisis air tersebut. Selain rumah warga, fasilitas umum seperti masjid juga harus mengandalkan pasokan air dari mobil tangki.
Salah seorang warga, Marlina, mengaku beban ekonomi masyarakat semakin berat karena harus terus membeli air bersih.
"Kami sudah tak tahan beli air terus, mahal," ujarnya.
Warga kini menunggu langkah nyata dari PT Air Batam Hilir dan BU SPAM Batam untuk mengatasi persoalan distribusi air yang telah berlangsung lebih dari setahun. Sebelumnya, warga bahkan mengancam akan mendatangi kantor BP Batam dan PT ABH apabila belum ada penyelesaian konkret.
PT Air Batam Hilir menegaskan akan terus mengevaluasi dan memperkuat sistem distribusi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara lebih merata. (*)
Editor : Putut Ariyo