batampos - Penutupan sejumlah tempat hiburan malam, pub, hingga gelanggang permainan (gelper) di Batam disebut tidak memengaruhi arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke kota ini.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam Ardiwinata mengatakan, karakter wisatawan yang datang ke Batam tidak bergantung pada aktivitas hiburan yang melanggar aturan. Menurut dia, tujuan kunjungan wisman jauh lebih beragam, mulai dari wisata kuliner, belanja, olahraga, budaya, hingga kegiatan pertemuan dan pameran.
“Tidak berdampak. Wisatawan yang berkunjung ke Batam tidak dikemas untuk hal seperti itu,” kata Ardiwinata kepada Batam Pos, Selasa (25/8).
Ia mengatakan, Batam selama ini menawarkan berbagai jenis wisata. Selain kuliner dan pusat perbelanjaan, wisatawan datang untuk mengunjungi destinasi wisata, mengikuti kegiatan budaya dan religi, serta agenda meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).
Baca Juga: Lompat dari Jembatan 1 Barelang, Natalia Ditemukan Selamat di Pulau Arah
Sejumlah wisatawan juga datang untuk kegiatan olahraga. Golf, misalnya, menjadi salah satu daya tarik bagi wisman, terutama dari negara-negara tetangga.
“Tujuannya macam-macam. Ada yang cari makan, meeting, religi, olahraga, golf, belanja, dan kegiatan lainnya,” ujarnya.
Karena itu, Ardiwinata menilai penertiban sejumlah tempat hiburan malam dan gelper tidak berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisatawan ke Batam. Ia menegaskan, wisatawan tidak datang ke Batam dengan tujuan melakukan aktivitas perjudian.
“Bukan ada orang datang ke Batam itu untuk berjudi. Tidak berpengaruh,” katanya.
Berdasarkan data yang disampaikan Ardiwinata, jumlah kunjungan wisman ke Batam mencapai sekitar 820 ribu orang pada periode Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut, menurut dia, merujuk pada data yang tercatat melalui Badan Pusat Statistik (BPS) dan otoritas keimigrasian.
Wisatawan asal Singapura dan Malaysia masih menjadi penyumbang terbesar kunjungan wisman ke Batam. Rata-rata wisatawan tersebut tinggal di Batam selama tiga hingga empat hari.
Selama berada di Batam, para wisatawan membelanjakan uang untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penginapan, makanan, transportasi, belanja, hingga kegiatan wisata dan hiburan.
Ardiwinata memperkirakan pengeluaran seorang wisatawan selama berada di Batam dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta, bahkan lebih, tergantung jenis kegiatan yang diikuti.
Ia mencontohkan kegiatan wisata berbasis acara atau event yang dapat menghasilkan nilai belanja cukup besar. Dalam salah satu kegiatan wisata, kata dia, pengeluaran peserta bahkan dapat mencapai sekitar Rp137 juta dalam waktu dua hari.
Menurutnya, belanja wisatawan tersebut menjadi salah satu penggerak ekonomi Batam. Karena itu, kekuatan pariwisata Batam tidak semata-mata bertumpu pada keberadaan tempat hiburan malam.
Penertiban terhadap usaha yang diduga melanggar ketentuan, menurut dia, tidak serta-merta membuat wisatawan kehilangan alasan untuk datang. Batam masih memiliki sejumlah daya tarik lain yang menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara.
“Wisatawan datang ke Batam untuk banyak tujuan. Tidak hanya satu jenis kegiatan,” ujarnya. (*)
Editor : Yofi Yuhendri