Dua Hari Air Tak Mengalir, Warga Batam Mulai Kewalahan

Rengga Yuliandra • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:38 WIB

 

Ilustrasi air mati.
Ilustrasi air mati.

 
batampos
- Gangguan aliran air bersih di sejumlah kawasan Batam memasuki hari kedua. Kondisi ini mulai membuat warga kewalahan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian bahkan mengaku tak lagi sanggup membeli air galon untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Keluhan datang dari berbagai wilayah, mulai dari Perumahan Ricci, Rhabayu Marina Sekupang, Saguba Indah, Sagulung, Tanjung Uma, hingga kawasan pusat Kota Lubuk Baja dan Nagoya.

Warga Perumahan Ricci, Winni, mengatakan gangguan aliran air sangat menghambat aktivitas keluarganya. Selain kebutuhan rumah tangga terganggu, anak-anak juga ikut terdampak karena air bersih menjadi kebutuhan utama sebelum beraktivitas dan bersekolah.

“Ampun ya, apa enggak ada solusi tangki air dari ABH? Sudah dua hari kayak gini. Gimana orang mau aktivitas, gimana anak-anak mau sekolah. Sampai sekarang air enggak ngalir,” keluh Winni, Jumat (29/8).

Warga lainnya, Sari, bahkan mengaku mulai kewalahan membeli air galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sudah enggak sanggup beli galon. Aduh, gimana ini tidak ada air. Mesti berapa galon lagi kita beli air?” keluhnya.

Baca Juga: Eks Pelaku Love Scamming Kamboja Sasar Perempuan Muda di Batam

Kondisi serupa dirasakan Rendi, warga Perumahan Rhabayu Marina, Sekupang. Ia mengatakan aliran air di kawasan tempat tinggalnya sudah mati selama dua hari.

Rendi mempertanyakan belum adanya penyaluran bantuan air bersih dari Air Batam Hilir (ABH) ke kawasan perumahannya.

“Masak enggak ada penyaluran bantuan air dari ABH ke perumahan. Saya saja dua hari pakai air galon mandi, tiap hari beli berat juga,” ujarnya.

Keluhan juga datang dari warga Saguba Indah yang menyebut aliran air belum kembali normal setelah dua hari mengalami gangguan.

Sementara itu, di kawasan pusat Kota Lubuk Baja, warga mengaku waktu pemulihan aliran air yang disampaikan sebelumnya telah molor. Air yang diharapkan kembali mengalir pada dini hari ternyata belum juga normal hingga pagi.

“ABH katanya mati air sampai jam 03.00. Sekarang sudah jam 05.25 belum juga hidup. Sudahlah hari biasa hidupnya malam saja,” ujar Dika, warga Nagoya.

Andre, warga Tanjung Uma, juga mengeluhkan kondisi serupa. Ia menyebut aliran air di wilayahnya sudah tidak mengalir sejak malam sebelumnya.

“Tanjung Uma dari semalam enggak jalan-jalan airnya,” katanya.

Bagi warga, persoalan bukan hanya mengenai kapan air kembali mengalir. Mereka juga mempertanyakan solusi selama gangguan berlangsung, terutama penyediaan air melalui mobil tangki bagi kawasan yang terdampak.

Warga berharap ABH tidak hanya memberikan informasi mengenai jadwal pemulihan, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama aliran air belum normal.

Gangguan yang berlangsung hingga dua hari membuat warga harus mencari alternatif dengan membeli air galon. Padahal, kebutuhan air untuk mandi, memasak, mencuci, hingga aktivitas anak sekolah tetap berjalan setiap hari.

Warga meminta penyaluran bantuan air bersih dilakukan secara cepat dan merata ke kawasan terdampak. Mereka juga meminta kepastian mengenai kapan distribusi air kembali normal. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
Lubuk Baja Air Batam gangguan air abh sekupang