Spatial Indonesia Dibentuk, Batam Jadi Salah Satu Titik Pengembangan Teknologi

Abdul Azis Maulana • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:01 WIB
Spatial Indonesia dideklarasikan di Politeknik Batam, (29/8), untuk membangun ekosistem nasional yang mempertemukan talenta, akademisi, peneliti, industri, perusahaan teknologi, startup, pemerintah hingga investor. Foto: Azis Maulana/Batam Pos
Spatial Indonesia dideklarasikan di Politeknik Batam, (29/8), untuk membangun ekosistem nasional yang mempertemukan talenta, akademisi, peneliti, industri, perusahaan teknologi, startup, pemerintah hingga investor. Foto: Azis Maulana/Batam Pos

batampos – Indonesia didorong tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan negara lain. Upaya membangun kemampuan nasional dilakukan melalui pembentukan Spatial Indonesia, organisasi dan komunitas nirlaba yang mempertemukan talenta, akademisi, peneliti, industri, startup, pemerintah, perusahaan teknologi, hingga investor.

Deklarasi Spatial Indonesia digelar Sabtu (29/8). Organisasi tersebut membawa agenda pengembangan berbagai teknologi masa depan, mulai dari Spatial Computing, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Extended Reality (XR), Digital Twin, robotika, Computer Vision, teknologi tiga dimensi, hingga teknologi Industry 5.0.

Pendiri sekaligus Ketua Umum Spatial Indonesia, Ari Nugrahanto, mengatakan perkembangan teknologi spatial di dunia harus dilihat sebagai peluang bagi Indonesia untuk naik kelas. Indonesia, menurut dia, memiliki talenta yang dapat didorong dari posisi pengguna menjadi pencipta dan pengembang teknologi.

“Spatial Indonesia didirikan dengan satu tujuan, yaitu mengambil momentum berkembangnya teknologi spatial di dunia sekaligus menjadi wadah berkumpulnya seluruh talenta Indonesia,” kata Ari.

Menurut dia, Spatial Indonesia akan menjadi wadah untuk penelitian dan pengembangan, pelatihan, pendampingan usaha, hingga mempertemukan talenta dengan dunia kerja. Ekosistem tersebut juga membuka peluang bagi investor untuk menemukan dan mengembangkan bisnis berbasis teknologi.

Batam Jadi Perhatian

Batam mendapat perhatian khusus dalam pengembangan ekosistem tersebut. Ari menilai talenta di Batam memiliki peluang besar untuk ikut membuktikan kemampuan sumber daya manusia Indonesia dalam mengembangkan teknologi yang berkembang pesat.

Salah satu program yang disiapkan adalah Spatial Hackathon atau SpaceThon. Kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan talenta dari berbagai bidang sekaligus menguji kemampuan mereka menghasilkan solusi berbasis teknologi untuk persoalan nyata.

Ari berharap kegiatan itu tidak berhenti sebagai kompetisi. Karya yang dihasilkan para peserta diharapkan dapat menjadi bukti bahwa daya saing tenaga kerja Indonesia tidak hanya bertumpu pada biaya yang murah, tetapi juga kemampuan menciptakan inovasi.

Dukungan Politeknik Negeri Batam juga menjadi salah satu bagian dalam pengembangan program Spatial Indonesia. Ari menilai kampus tersebut memiliki talenta potensial yang dapat dikembangkan lebih jauh.

Ia menekankan kemampuan teknis bukan satu-satunya modal untuk masuk ke ekosistem teknologi. Karakter, menurut dia, justru menjadi fondasi awal karena keterampilan teknis masih dapat dipelajari dan dikembangkan.

Lima Fokus Utama

Spatial Indonesia menetapkan lima misi utama dalam membangun ekosistem teknologi nasional.

Pertama, Research & Innovation, yang berfokus pada penelitian dan pengembangan teknologi seperti Spatial Computing, AI, XR, Digital Twin, simulasi, robotika, teknologi gim, real-time 3D, serta Industry 5.0.

Kedua, Talent Development melalui berbagi pengetahuan, pelatihan, pendampingan, sertifikasi, dan pengalaman praktis bersama industri.

Ketiga, Industry & Business Enablement, yakni mendorong industri, startup, dan pelaku usaha mengadopsi teknologi spatial untuk mengembangkan produk, layanan, simulasi, pelatihan, hiburan, serta model bisnis baru.

Keempat, Talent-to-Industry Connection, yang menjembatani talenta dengan industri melalui program magang, pembelajaran berbasis proyek, penempatan profesional, hingga penyaluran tenaga kerja.

Kelima, Global Collaboration & Investment, berupa pembukaan kerja sama dengan perusahaan teknologi global, institusi pendidikan, pusat riset, pemerintah, dan investor.

Ketua Harian Spatial Indonesia Muhammad Tafani Rabbani mengatakan deklarasi tersebut bukan sekadar pembentukan organisasi. Sejumlah program awal telah disiapkan dan mulai dijalankan tahun ini.

Tiga program menjadi pintu masuk pengembangan komunitas. Pertama, SpaRing atau Spatial Sharing, forum berbagi pengetahuan yang mempertemukan praktisi, akademisi, peneliti, dan pakar industri.

Kedua, Stup atau Spatial Meetup, sebagai ruang membangun jejaring antara komunitas, talenta, startup, industri, perusahaan teknologi, dan pemangku kepentingan.

Ketiga, SpaceThon atau Spatial Hackathon, yang diarahkan untuk menghasilkan solusi teknologi melalui kompetisi dan kolaborasi lintas disiplin. Program ini akan menitikberatkan pada persoalan nyata, pengembangan prototipe, dan peluang penerapan di industri.

Bangun Ekosistem Terbuka

Ari mengatakan pembangunan ekosistem teknologi tidak mungkin dilakukan oleh satu organisasi. Karena itu, Spatial Indonesia membuka kesempatan bagi perusahaan teknologi nasional maupun global untuk terlibat.

Dukungan yang dibutuhkan tidak sebatas pendanaan. Kerja sama dapat berupa penyediaan perangkat keras dan lunak, sumber daya cloud, fasilitas riset, platform teknologi, pelatihan, pendampingan, beasiswa, akses teknologi, kasus penggunaan industri, hingga penelitian dan pengembangan bersama.

Model tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Talenta memperoleh ruang belajar dan berkembang, industri mendapatkan akses terhadap sumber daya manusia dan inovasi, perusahaan teknologi memperoleh pasar sekaligus lingkungan riset, sedangkan investor dapat mengakses peluang bisnis dan startup berbasis teknologi spatial.

Ruang lingkup Spatial Indonesia juga tidak berhenti pada Spatial Computing. Organisasi ini mencakup pengembangan AI dan Computer Vision, AR/VR/MR/XR, Digital Twin, simulasi, teknologi 3D dan real-time, robotika dan sistem otonom, IoT, edge computing, teknologi gim, smart factory, pembelajaran berbasis spatial, hingga pendidikan imersif.

Ari mengatakan visi akhirnya adalah membangun ekosistem terbuka yang memungkinkan berbagai pihak belajar, melakukan riset, menciptakan solusi, mengembangkan bisnis, dan melahirkan talenta masa depan.

Teknologi yang dikembangkan diharapkan tidak berhenti pada eksperimen, tetapi dapat dibawa ke persoalan nyata di industri maupun masyarakat.

Spatial Indonesia menargetkan deklarasi tersebut menjadi titik awal terbentuknya ekosistem teknologi spatial nasional yang melibatkan lebih banyak individu, komunitas, startup, akademisi, perusahaan teknologi, industri, pemerintah, dan investor. (*)

Editor : M Tahang
Spatial Indonesia Pengembangan Teknologi komunitas nirlaba ekosistem teknologi