Althaf, Anak Batam Penerima Beasiswa Garuda yang Ingin Selamatkan Lingkungan Kotanya

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Senin, 31 Agustus 2026 | 09:06 WIB
Muhammad Althaf Manhaju Al fikri Rahman, penerima beasisa Garuda. Alumni MAN Insan Cendikia Batam ini akan melanjutkan Pendidikan S1 Ilmu Teknik Lingkungan di UNSW Australia. Foto: Dokumentadi Pribadi untuk Batam Pos
Muhammad Althaf Manhaju Al fikri Rahman, penerima beasisa Garuda. Alumni MAN Insan Cendikia Batam ini akan melanjutkan Pendidikan S1 Ilmu Teknik Lingkungan di UNSW Australia. Foto: Dokumentadi Pribadi untuk Batam Pos

batampos – Batam memberinya tempat untuk tumbuh. Australia akan menjadi ruang bagi Muhammad Althaf Manhaju Al Fikri Rahman untuk belajar lebih jauh.

Dari kota industri yang terus berkembang, Althaf melihat satu pekerjaan besar yang ingin ia tekuni: memastikan pembangunan tidak meninggalkan lingkungan.

Pada 1 September 2026, alumnus MAN Insan Cendekia Kota Batam itu akan meninggalkan kampung halamannya untuk melanjutkan pendidikan S1 Environmental Engineering atau Teknik Lingkungan di University of New South Wales (UNSW), Australia.

Ia berangkat melalui Beasiswa Garuda S1 Luar Negeri, program beasiswa penuh pemerintah untuk pendidikan sarjana di luar negeri.

Bagi Althaf, keberangkatan tersebut bukan sekadar perjalanan untuk mengejar gelar. Ia membawa mimpi agar suatu hari Batam dapat terus berkembang sebagai kota industri tanpa kehilangan ruang hijau dan kualitas lingkungannya.

Batam, kota tempat ia dibesarkan, menjadi alasan kuat di balik pilihan tersebut.

Ia melihat kawasan industri terus bertumbuh, pembangunan infrastruktur berjalan, dan aktivitas ekonomi semakin meningkat. Namun, di tengah perkembangan itu, muncul satu pertanyaan yang terus ia pikirkan: bisakah sebuah kota terus maju tanpa harus mengorbankan lingkungan?

Jawaban atas pertanyaan itu ingin ia cari melalui pendidikan di Australia.

Althaf dan 515 Penerima Beasiswa Garuda

Althaf merupakan satu dari delapan siswa asal Batam yang menerima Beasiswa Garuda S1 Luar Negeri Gelombang I Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI tahun 2026.

Secara nasional, program tersebut memberikan beasiswa kepada 515 siswa.

Dari delapan penerima asal Batam, lima di antaranya memilih melanjutkan pendidikan di UNSW Australia. Mereka adalah Abdurahman Yusuf, Muhammad Althaf Manhaju Al Fikri Rahman, Chiquita Alzahra Ramadhanisa Yudhistira, Muhammad Sultan Maulana Dinata, dan Muhammad Tombak Matahari.

Tiga penerima lainnya memilih perguruan tinggi di Hong Kong. Muhammad Rifqi Athaullah dan Nashhwan Fakhri Asbathandi melanjutkan pendidikan di Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), sedangkan Aqila Davina Riyadi memilih Chinese University of Hong Kong (CUHK).

Bagi Althaf, lolos Beasiswa Garuda merupakan kesempatan yang sejak lama ia impikan.

Sejak kecil, ia sudah memiliki keinginan untuk merasakan pendidikan di luar negeri. Ketika banyak teman seusianya membayangkan kuliah di dalam negeri, Althaf justru ingin mencoba pengalaman berbeda.

Kesempatan itu datang setelah ia mengikuti rangkaian seleksi Beasiswa Garuda.

Dalam proses seleksi, ia mengikuti sejumlah tahapan, termasuk SAT, IELTS, tes IQ, dan penulisan esai sepanjang 1.500 hingga 2.000 kata. Dalam esai tersebut, peserta diminta menjelaskan pilihan jurusan, cita-cita, serta rencana kontribusi setelah menyelesaikan pendidikan.

Althaf mencatatkan skor SAT 1.520, IELTS 8,0, dan IQ 137.

Namun, pencapaian tersebut tidak dibangun dalam waktu singkat.

Dibentuk dari Organisasi hingga Forum Internasional

Selama bersekolah di MAN Insan Cendekia Kota Batam, Althaf aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar pembelajaran akademik.

Ia pernah menjadi wakil ketua OSIS, mengikuti Kompetisi Sains Madrasah (KSM), serta terlibat dalam Model United Nations (MUN), simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi pelajar.

Pengalaman tersebut membawanya mengikuti sejumlah kegiatan internasional.

Saat duduk di kelas 11, ia mengikuti AYIMUN di Kuala Lumpur, Bangkok, dan Seoul. Baginya, kegiatan tersebut bukan sekadar kesempatan bepergian ke luar negeri.

“Di situ saya memaparkan diri dengan lingkungan luar negeri juga,” kata pemuda yang memiliki hobi membaca tersebut.

Melalui kegiatan itu, Althaf berhadapan dengan berbagai isu global dan bertemu pelajar dari latar belakang berbeda.

Ia juga pernah mengikuti short course di Universitas Beihang, Guangzhou, Tiongkok.

Berbagai pengalaman tersebut membuatnya terbiasa melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas. Kemampuan beradaptasi dan berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang itulah yang ingin ia bawa ketika memulai kehidupan akademiknya di Australia.

Menargetkan Lulus Empat Tahun

Di UNSW, Althaf akan mengambil jurusan Environmental Engineering atau Teknik Lingkungan.

Ia memasang target menyelesaikan pendidikan sarjana dalam empat tahun, sesuai ketentuan program beasiswa. Selain lulus tepat waktu, ia juga membidik prestasi akademik setinggi mungkin, termasuk predikat cum laude.

Namun, target Althaf tidak hanya berorientasi pada nilai akademik.

Ia ingin memanfaatkan masa kuliah untuk memperoleh pengalaman sebanyak mungkin, mulai dari kegiatan akademik, magang, proyek, hingga membangun jejaring dengan orang-orang dari berbagai latar belakang.

Menurutnya, pengalaman tersebut akan menjadi modal penting ketika memasuki dunia kerja.

“Lebih personal, saya ingin lulus dengan matang dan mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin. Saya ingin merasakan pengalaman kerja dari magang, kenal banyak orang dengan karakter berbeda, supaya ketika masuk dunia kerja saya bisa lebih mudah beradaptasi,” ujarnya.

Untuk tugas akhir, Althaf juga ingin melakukan penelitian yang lebih mendalam. Jika memungkinkan, hasil penelitian tersebut dapat menjadi pijakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral.

“Saya pengin langsung S3 di umur 27,” katanya sambil tersenyum.

Keinginan tersebut tentu harus berjalan beriringan dengan kewajibannya sebagai penerima Beasiswa Garuda. Setelah menyelesaikan pendidikan, penerima beasiswa memiliki kewajiban pengabdian kepada Indonesia.

Althaf mengaku belum menentukan bentuk pengabdian tersebut secara spesifik. Ia masih menunggu informasi dan ketentuan pemerintah mengenai mekanismenya.

Namun, satu hal yang sudah pasti, ia ingin tetap memberikan kontribusi bagi Indonesia, termasuk Batam.

Terinspirasi Singapura

Pilihan Teknik Lingkungan bagi Althaf bukan keputusan yang muncul tiba-tiba.

Ia melihat pembangunan Batam akan terus berlangsung. Sebagai kota industri, kebutuhan terhadap kawasan baru, infrastruktur, dan aktivitas usaha diperkirakan akan terus berkembang.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat perencanaan lingkungan harus menjadi bagian dari pembangunan sejak awal.

Salah satu kota yang menjadi inspirasinya adalah Singapura.

Althaf melihat negara tetangga tersebut mampu mengembangkan perekonomian sekaligus mempertahankan ruang hijau di tengah keterbatasan lahan.

“Itu mereka sangat maju, tapi kotanya masih hijau,” katanya.

Ia ingin suatu hari Batam memiliki keseimbangan serupa. Infrastruktur tetap dibangun, industri terus berkembang, tetapi lingkungan tidak ditempatkan sebagai urusan belakangan.

Menurut Althaf, persoalan lingkungan seharusnya sudah dipertimbangkan sejak sebuah proyek direncanakan.

“Kita belasan tahun ke depan tidak harus melakukan perbaikan lingkungan lagi karena dari awal proyek kita sudah direncanakan ramah lingkungan,” ujarnya.

Pemikiran tersebut juga tidak sepenuhnya asing bagi Althaf.

Ayahnya, Husaini Rahman, memiliki latar belakang pendidikan teknik lingkungan dan bekerja di konsultan teknik lingkungan. Pekerjaannya banyak bersinggungan dengan analisis mengenai dampak lingkungan atau AMDAL.

Sementara itu, ibunya, Dina Iriana, juga merupakan lulusan teknik lingkungan dan kini berdinas di Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam.

Lingkungan keluarga tersebut membuat Althaf cukup dekat dengan persoalan pembangunan dan lingkungan sejak lama.

Ia bahkan melihat persoalan lingkungan dan infrastruktur sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Pembangunan jalan, misalnya, dapat bersinggungan dengan jaringan utilitas yang berada di bawahnya. Jika tidak direncanakan dengan baik, persoalan yang terlihat kecil dapat berubah menjadi gangguan bagi masyarakat.

“Hal-hal kecil seperti itu harus diperhatikan dari awal,” katanya.

Karena itu, ilmu yang ingin ia pelajari di Australia bukan sekadar teori tentang lingkungan. Ia ingin memahami bagaimana sebuah pembangunan dapat dirancang sejak awal agar berjalan berdampingan dengan lingkungan.

Beasiswa Garuda dan Harapan Keluarga

Bagi Althaf, Beasiswa Garuda memiliki makna personal.

Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia menyadari kesempatan tersebut sekaligus meringankan beban keluarganya.

Program beasiswa itu menanggung biaya pendidikan hingga selesai, termasuk kebutuhan tempat tinggal dan uang saku selama menjalani studi.

“Menjadi kesempatan emas buat saya juga,” kata Althaf.

Ia juga berharap pencapaiannya dapat menjadi contoh bagi kedua adiknya.

Bukan berarti mereka harus mengikuti jalan yang sama. Namun, Althaf ingin menunjukkan bahwa kesempatan dapat datang ketika seseorang berani mencoba sekaligus mempersiapkan diri.

Menurutnya, proses menuju beasiswa sudah dibangun sejak masa sekolah.

Ia tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga aktif berorganisasi, mengikuti kompetisi, MUN, serta berbagai kegiatan lainnya.

Karena itu, kepada siswa yang akan lulus tahun depan, Althaf berpesan agar tidak hanya menjalani rutinitas sekolah.

“Jangan kayak sekolah, pulang, sekolah, pulang,” ujarnya.

Ia mendorong para siswa mencari pengalaman sebanyak mungkin. Menurutnya, pengalaman bukan hanya berguna untuk memperkuat portofolio ketika mendaftar beasiswa, tetapi juga membantu membentuk karakter.

“Persiapan dan belajar jauh-jauh hari. Jangan lengah agar tidak ketinggalan jauh sama orang lain,” katanya.

Dari Batam, Membawa Mimpi tentang Lingkungan

Di rumah, keberangkatan Althaf ke Australia disambut rasa bangga oleh sang ayah, Husaini Rahman.

Bagi Husaini, keberhasilan anak sulungnya memperoleh Beasiswa Garuda merupakan pencapaian yang patut disyukuri, terlebih beasiswa tersebut diberikan secara penuh.

Menariknya, bidang studi yang dipilih Althaf juga memiliki kedekatan dengan sang ayah.

“Kebetulan bareng saya itu jurusannya meneruskan. Saya teknik lingkungan, implement engineering,” kata Husaini yang berdarah Bawean.

Selama tiga tahun bersekolah di MAN Insan Cendekia, Althaf dinilai mendapatkan lingkungan belajar yang mendukung. Guru dan teman-temannya turut memberikan ruang bagi dirinya untuk berkembang.

Husaini menyebut Althaf sempat diterima di sejumlah perguruan tinggi, bahkan mencapai 17 kampus. Ia juga sempat mendapatkan kesempatan kuliah di Hong Kong.

Namun, ketika Beasiswa Garuda datang, pilihan akhirnya jatuh kepada UNSW Australia.

“Sebelumnya dia diterima Hong Kong, tapi dia memilih Beasiswa Garuda,” ujarnya.

Husaini berharap pendidikan anaknya tidak berhenti pada gelar sarjana. Jika kesempatan terbuka, ia ingin Althaf melanjutkan pendidikan hingga S3 sekaligus memenuhi kewajibannya untuk memberikan kontribusi kepada Indonesia.

Namun, menurut Husaini, kontribusi kepada Indonesia tidak selalu harus dimaknai dengan kembali dan bekerja di dalam negeri.

“Kita harap kontribusi tidak mesti kembali ke Indonesia, tapi dari luar membawa nama Indonesia,” katanya.

Harapan itu sejalan dengan perjalanan Althaf yang sejak kecil terbiasa mencoba berbagai hal.

Ia pernah bermain musik, terutama drum. Menurut sang ayah, Althaf bahkan pernah mendapat predikat sebagai drummer cilik terbaik Kota Batam.

Ia juga pernah mengikuti lomba ceramah ketika menjadi santri di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta serta mengikuti sejumlah kompetisi bahasa Inggris di MAN Insan Cendekia.

Pengalaman dalam berbagai kegiatan membuat Althaf terbiasa beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Dia cepat beradaptasi dengan teman-teman dan belajar juga sama dengan yang lain. Mungkin karena tinggal di asrama,” kata Husaini.

Menurutnya, lingkungan MAN Insan Cendekia juga memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan Althaf. Para guru dan pembimbing membantu siswa berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, waktu keberangkatan Althaf semakin dekat.

Pada 1 September 2026, ia akan terbang menuju Australia. Untuk sementara, ia meninggalkan Batam—kota yang telah memberinya pengalaman dan membentuk cara pandangnya terhadap pembangunan.

Namun, ia tidak pergi sekadar membawa kenangan.

Ia membawa satu gagasan yang ingin diperdalam melalui pendidikan: bagaimana sebuah kota dapat tumbuh, berkembang, dan menjadi maju tanpa kehilangan lingkungan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Batam memberinya alasan untuk belajar tentang lingkungan. Australia menjadi tempat untuk memperdalam ilmu tersebut.

Suatu hari nanti, Althaf berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dapat kembali memberi manfaat bagi kota tempat ia tumbuh.

Bukan untuk menghentikan pembangunan, melainkan memastikan pembangunan berjalan lebih bijak dan tidak meninggalkan lingkungan. (*)

Editor : Putut Ariyo
Althaf Batam Beasiswa Garuda UNSW Australia Teknik Lingkungan batam