batampos — Sekitar 65 keluarga di Kaveling Sagulung Berseri, Sei Lekop, Batam, masih menghadapi persoalan pasokan air bersih. Aliran air belum mengalir secara rutin sehingga warga mengandalkan pasokan dari mobil tangki.
Kondisi tersebut mendapat perhatian langsung Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad yang turun ke kawasan RW 8, RT 3 dan RT 5, Jumat (4/9) sore. Di RT 3 tercatat sekitar 21 kepala keluarga, sedangkan RT 5 dihuni sekitar 45 keluarga.
Warga mengatakan persoalan pasokan air telah berlangsung cukup lama. Salah seorang warga, Parna, mengapresiasi kedatangan Amsakar dan berharap pemerintah segera memberikan solusi permanen.
Amsakar mengatakan, kebutuhan air warga tidak boleh menunggu hingga proyek penguatan jaringan selesai. Selama pekerjaan berlangsung, pasokan melalui mobil tangki harus tetap dilakukan.
“Penyelesaiannya memang membutuhkan waktu, tetapi selama proses itu berjalan, suplai melalui mobil tangki harus tetap dilakukan. Tidak ada cerita, ini harus selesai,” kata Amsakar kepada jajaran Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan PT Air Batam Hilir (ABHi).
Ia meminta jumlah armada tangki disesuaikan dengan kebutuhan warga di lapangan. BP Batam juga menyiapkan penambahan armada dengan mengalihkan anggaran multiyears untuk memperkuat distribusi air bersih.
Penguatan jaringan di kawasan tersebut ditargetkan selesai paling lambat November atau Desember 2026. Selama pekerjaan berlangsung, distribusi air melalui mobil tangki tetap menjadi solusi sementara bagi warga.
Tak Hanya Dampak Pipa Muka Kuning
BP Batam menyebut persoalan pasokan air di Sei Lekop dan sejumlah kawasan lain tidak seluruhnya berkaitan dengan pekerjaan relokasi pipa berdiameter 800 milimeter di Muka Kuning.
Perbaikan dan relokasi pipa tersebut sebelumnya dilakukan BP Batam bersama PT ABHi. Setelah pekerjaan rampung, distribusi air dipantau secara bertahap untuk memastikan tekanan dan aliran kembali normal.
Sebagian besar wilayah yang terdampak kini mulai menerima pasokan secara normal. Namun, sejumlah kawasan masih menghadapi tekanan air rendah atau masuk kategori stress area.
Wilayah tersebut antara lain Sei Lekop, Sagulung Baru (Saguba), Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Bengkong hingga sebagian Marina. Kawasan-kawasan itu berada di ujung jaringan (end of line) dan beberapa memiliki elevasi relatif tinggi.
Kondisi tersebut membuat tekanan air yang diterima warga lebih rendah dengan durasi aliran yang lebih pendek. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan memperbaiki pipa utama, tetapi juga membutuhkan penguatan jaringan distribusi.
Pengiriman Tangki Tetap Berjalan
Sambil menunggu proyek penguatan jaringan, BP Batam bersama PT ABHi mengerahkan mobil tangki secara terjadwal ke sejumlah kawasan prioritas.
Selain Sei Lekop, distribusi dilakukan ke Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Bengkong Permai, Bengkong Harapan, Bengkong Palapa dan Kavling Berseri. Pengiriman juga diarahkan ke fasilitas publik dan permukiman lain sesuai kebutuhan.
Jumlah armada dan jadwal distribusi akan dievaluasi berdasarkan kondisi masing-masing kawasan.
Untuk Saguba, Sei Lekop dan sebagian Marina, termasuk Fantasy Residence, Jupiter, Galaxy dan sekitarnya, penguatan jaringan masuk dalam agenda Quick Win. Pekerjaan diarahkan untuk meningkatkan debit dan tekanan air agar pasokan ke kawasan ujung jaringan lebih stabil.
Penguatan jaringan primer dan tersier telah dimulai sejak Agustus 2026. Jaringan sekunder ditargetkan selesai paling lambat November, sedangkan keseluruhan proyek ditargetkan rampung pada akhir tahun.
Sementara itu, penguatan jaringan di Tanjung Sengkuang, Batu Merah dan Bengkong dikerjakan melalui Segmen Sukajadi-M3G dan Ozon-Bukit Senyum. Pekerjaan yang dimulai sejak Mei tersebut ditargetkan selesai pada September 2026.
Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano mengatakan penanganan dilakukan melalui dua langkah, yakni memastikan kebutuhan air warga tetap terpenuhi selama kondisi darurat dan menyelesaikan persoalan jaringan secara permanen.
“BP Batam bersama PT Air Batam Hilir bekerja dengan skala prioritas yang jelas. Pengiriman armada tangki kami fokuskan secara teratur di titik-titik kawasan prioritas penanganan darurat,” kata Denny.
Menurut dia, mobil tangki hanya menjadi solusi sementara. Tim teknis tetap mengejar penyelesaian proyek penguatan jaringan agar warga tidak terus bergantung pada pasokan air tangki.
“Target kami jelas, bukan hanya memastikan air tersedia hari ini, tetapi juga membangun sistem jaringan yang semakin kuat sehingga pelayanan kepada masyarakat Batam ke depan semakin baik,” ujarnya. (*)
Editor : M Tahang